Menikahi Calon Suami Tetanggaku

Menikahi Calon Suami Tetanggaku
Tamat


__ADS_3

"Sepertinya anak pak bos menyukai mu," ucap Jeni.


"Namanya juga anak kecil, wajar saja!" Jawab Mia.


"Eh, nikahin bapaknya gih...!"


"Gak lah, aku masih pengen sendiri. Sekarang fokus kerja buat bahagiain ibu ku aja," ucap Mia serius.


"Kalau kamu nikah sama pak bos, kamu gak perlu capek-capek kerja. Duit jalan terus," ujar Jeni.


Mia menggelengkan kepalanya.


"Belum siap menikah. Aku hanya ingin menikmati masa-masa sendiri ku dulu. Aku sadar, jika menikah itu harus di pikir matang-matang."


Jeni memuncungkan bibirnya.


"Ya udahlah. Terserah kau, semoga kau dan pak bos berjodoh!"


Mia tidak menanggapi, wanita ini kembali sibuk dengan pekerjaannya. Sudah mantap dalam hati Mia jika ia tak akan menikah sampai ia benar-benar siap. Fokus memperbaiki diri dan membahagiakan sang ibu adalah tujuan utama Mia sekarang. Kepergian sang bapak bagai tamparan keras bagi mereka untuk segera merubah diri ke arah yang lebih baik.


Begitu juga dengan kehidupan Dito, mantan suami Mia yang sekarang semakin bahagia saja dengan rumah tangganya yang sekarang.


Sama halnya dengan rumah tangga Rangga dan Kasih yang semakin bahagia setelah kelahiran anak mereka.


"Gak kerja mas?" Tanya Kasih.


"Nanti, setelah makan siang ada rapat di pabrik."


"Kamu itu kerjanya cuma menghadiri rapat aja. Enak banget gitu loh!"


"Mau ngerjain apa? Semua udah ada bagiannya masing-masing. Mas akan keluar jika ada masalah besar saja seperti kemarin itu."


"Gimana sama kasus yang itu?"

__ADS_1


"Tentu saja mas yang menang. Mereka bayar denda pada perusahaan mas."


"Syukurlah...!" Ucap Kasih. "Mas,....!"


"Iya sayang. Ada apa?" Tanya Rangga dengan lembut.


"Aku tuh sekarang bahagia banget. Tapi, kalau ingat awal menikah dulu, ingin rasanya aku melodeh mu!" Ucap Kasih geram.


Rangga tertawa.


"Tapi sekarang cinta kan?" Goda Rangga.


"Cinta banget....!" Kasih mencubit pipi suaminya.


"Lihat anak kita, hasil mandi keringat setiap malam." Ujar Rangga.


"Mas, huss....kalau ada yang dengar gimana?"


"Biarin aja. Kenyataannya memang seperti itu."


"Iya sayang. Sini peluk dulu,....!"


Rangga menarik istri kedalam pelukan. Sesekali menoleh ke arah anak mereka yang saat ini sedang tidur dalam stroller.


"Ganteng, sama kek kamu." Ucap Kasih yang gemas.


"Harusnya bikin satu lagi, perempuan. Pasti cantiknya sama seperti kamu." Sahut Rangga.


Tak sekali pun pasangan ini bertengkar kecuali Rangga yang suka mengerjai istrinya. Sesekali bu Erni menginap di rumah anaknya karena sekarang ia tinggal sendiri sedangkan Nada ikut bersama suaminya tinggal di kota.


Tak masalah bagi bu Erni asal kedua anaknya bahagia. Kasih dan Rangga sudah berusaha membujuk sang ibu untuk tinggal bersama mereka tapi bu Erni menolak.


Sedangkan pak Diman dan bu Hesti, jika akhir pekan mereka akan pulang ke kampung menemui cucu kesayangan.

__ADS_1


Tidak ada lagi orang-orang mengusik rumah tangga Kasih dan Rangga. Keadaan kampung juga damai sejak Mia dan bu Wiwin memutuskan untuk pindah.


Kabar Nada dan Daffa juga sama, kehidupan rumah tangga mereka sangat bahagia. Tak ada lagi yang berani mendekati Nada setelah mereka tahu jika Nada sudah menikah.


Sedikit susah memang, di banding Rangga, Daffa jauh lebih cemburuan. Sering kali Daffa tak fokus kerja jika Nada sedang kuliah.


"Gini nih, kalau punya istri cantik dan muda. Bawaannya gelisah, takut di lirik sama mata keranjang," ucap Daffa sambil mencoret-coret kertas di atas meja. "Tidak bisa di biarkan. Aku harus menyusul istriku!"


Daffa beranjak dari duduknya kemudian pergi ke kampus untuk memastikan jika istrinya tak di ganggu oleh laki-laki lain.


Namanya juga di kota, yang jauh lebih tampan dan kaya dari Daffa sangat banyak. Daffa ketar ketir jika membayangkannya.


"Loh mas, udah di sini aja. Baru aja aku mau telpon minta jemput," ujar Nada yang melihat suaminya keluar dari mobil.


"Gak ada yang ganggu kamu kan?" Tanya Daffa.


"Gak ada mas," jawab Nada.


"Ya udah, ayo pulang. Mas mau bercocok tanam!"


"Gak siang gak malam, bercocok tanam mulu!"


"Biar cepat jadi anak!" Sahut Daffa.


"Mas, mulai besok libur dua minggu. Kita pulang ya, aku kangen sama ibu dan Zyan."


"Iya sayang. Kita belanja dulu yuk, beli mainan untuk Zyan...!"


Seperti biasa, Daffa membuka pintu mobil untuk istri. Gemas rasanya melihat Nada, sebenarnya mereka bukan terlihat seperti pasangan suami istri melainkan adik dan kakak.


Akhir cerita dengan kehidupan bahagia masing-masing dari mereka. Mia yang fokus bekerja dan memperbaiki diri ke arah yang lebih baik, bahkan wanita ini tidak berniat untuk menikah lagi dalam waktu dekat. Sekali pun ada laki-laki yang mau mengajaknya serius, Mia tidak ingin buru-buru menikah. Gagal dalam pernikahan pertama sampai ia kehilangan segalanya membuat Mia ingin mencari laki-laki yang benar-benar tulus menerima dirinya apa adanya.


Rumah tangga Kasih dan Rangga yang juga semakin bahagia setelah kelahiran anak pertama mereka. Di tambah rumah tangga Daffa dan Nada yang saat ini tengah menikmati masa-masa indah berdua.

__ADS_1


°°°TAMAT°°°


__ADS_2