Menikahi Calon Suami Tetanggaku

Menikahi Calon Suami Tetanggaku
Chapter 72


__ADS_3

Hari ini, mau tidak mau Daffa dan Nada akan kembali pulang ke kota karena ada pekerjaan penting yang tidak bisa di tinggal. Rangga juga ikut pulang ke kota, tinggallah bu Santi dan bu Erni yang menemani Kasih di rumah.


Sebenarnya Nada ingin tinggal juga, tapi Daffa memaksanya untuk ikut. Sedikit kesal tapi memang kesal. Sudah tiga hari menikah Daffa belum sekali pun memberi makan belutnya.


Mengemudi dengan kencang, membuat Rangga geram apa lagi Nada sudah berulang kali memperingati Daffa untuk menurunkan sedikit laju mobilnya.


"Pelan-pelan!" Ucap Rangga dengan suara yang sedikit tinggi. "Anak ku masih bayi, aku tidak mau istriku jadi janda muda!"


"Mas, pelan-pelan!" Nada menimpali.


"Lagian, apa tidak bisa pekerjaan itu kau handle sendiri?" Tanya Daffa kesal. Perlahan pria ini menurunkan gas mobilnya.


"Papah saja ikut pulang itu artinya ada masalah besar. Kau ini kenapa sih?" Tanya Rangga heran.


Daffa tidak menjawab, pria ini kembali fokus dengan kemudi mobilnya.


Setibanya di kota, Daffa mengantar istrinya pulang ke rumah dulu karena langsung pergi ke kantor.


"Mandi, istirahat. Kalau mau makan, ngomong sama bibi." Ujar Daffa memberitahu istrinya.


"Iya mas. Hati-hati....!" Ucap Nada.

__ADS_1


"Cium dulu dong, biar semangat!"


Daffa memuncungkan bibirnya.


Dengan wajah malu, Nada langsung mengecup bibir suaminya. Daffa tersenyum lebar, pria ini bergegas kembali ke mobil.


"Lama sekali, ngapain apa coba?" Tanya Rangga yang sudah tidak tahan menunggu di mobil.


"Menunggu sebentar saja kau bilang lama. Kau tidak tahu rasanya setelah menikah belum ngik ngok sama istri," jawab Daffa yang geram.


Rangga tertawa mendengar perkataan Daffa.


Huft......


Daffa hanya bisa mendengus kesal, apa yang di katakan Rangga semua kenyataan.


"Dasar orang dewasa. Isi kepalanya cuma ranjang aja," cibir Rangga.


"Wah,...wah,.....enak sekali kalau bicara. Dulu, saat di rumah mu yang di kampung. Aku ingin pergi ke kamar mu untuk memberitahu masalah pekerjaan tapi aku malah mendengar suara kau mendes*h. Sungguh membuat ku geli," ucap Daffa memberitahu.


"Bukan geli, bilang aja burung mu ikut bangun tapi tidak ada yang bisa kau ajak menyalurkan!" Ejek Rangga.

__ADS_1


"Kau ini benar-benar sialan!" Umpat Daffa kesal.


Mobil berhenti tepat di depan loby kantor. Rangga dan Daffa bergegas turun dan masuk.


"Selamat datang pak," ucap Vivi menyambut. Rasanya sudah lama sekali tidak melihat Rangga datang kantor ini.


"Siapkan semua berkasnya!" Titah Rangga yang saat ini sedang berjalan menuju ruangannya.


"Sudah saya siapkan pak!" Sahut Vivi.


"Kok bisa sih?" Tanya Daffa heran.


"Masih di selidiki pak. Menurut informasi yang menjiplak merek dagang kita adalah perusahaan baru. Bahkan, semua komposisi dari minuman yang kita jual, tiru oleh mereka." Jelas Vivi.


"Siapkan semua bukti, aku akan menuntut mereka!" Titah Rangga.


Tentu saja Rangga tidak terima, merek dagang yang sudah menjadi hak paten milik perusahaannya sekarang di tiru oleh perusahaan baru yang mengatakan jika perusahaan milik keluarga Raharja sudah meniru merek dagang mereka.


"Kalau seperti ini caranya, kapan aku bisa malam pertama?" Daffa mengomel sendiri saat di ruangan hanya ada dirinya dan Rangga.


"Sabarlah, ini hanya masalah sepele!" Sahut Rangga.

__ADS_1


__ADS_2