Menikahi Calon Suami Tetanggaku

Menikahi Calon Suami Tetanggaku
Chapter 78


__ADS_3

"Mamah ini kok tiba-tiba ada di rumah aja. Berangkat jam berapa?" Tanya Rangga.


"Subuh tadi. Efek kangen sama cucu," jawab bu Hesti.


"Cuma sama supir?"


"Iya, papah ada pekerjaan. Kamu gak kerja, Rangga?"


"Nanti, jam sepuluh ada rapat di pabrik."


"Istri mu di mana?" Tanya bu Hesti yang celingukan mencari menantunya.


"Pergi sebentar, ngambil kue."


"Heh, Rangga. Istri mu jangan di buat hamil dulu. Biarkan Kasih beristirahat, hamil itu berat."


"Nolak rezeki itu namanya!" Seru Rangga.


"Bukan nolak rezeki, setidaknya anak kamu dapat dulu kasih sayang dan perhatian. Minimal kasih jarak lima atau enam tahun."


"Rencananya tahun depan mau punya lagi...!" sahut Rangga yang sengaja memancing amarah mamahnya.


"Sana, hamil sendiri. Kamu pikir hamil dan melahirkan itu enak. Lelaki tahu-nya enak saja!"


Mulai lah bu Hesti mengomel, ia tahu betul sifat anaknya ini pasti sama dengan sifat papahnya. Bisa di tebak jika urusan ranjang Rangga tak kalah dari sang papah.


"Bercanda loh mah. Ngomel kok terus!" Protes Rangga mulai merasa berisik.

__ADS_1


"Diam kamu!" Sentak bu Hesti.


"Mah, ada apa?" Tanya Kasih yang baru pulang.


"Ini, suami kamu ini gak bisa di nasehatin. Keras kepala, mau menang sendiri. Pasti kamu ngalah terus kan sama Rangga?"


Kasih menggaruk kepalanya tak gatal bingung ingin menjawab apa.


Di sisi lain, kabar tentang Mia yang sampai saat ini masih berusaha mencari pekerjaan. Sekian bulan menganggur, pada akhirnya ada Mia di terima kerja di salah satu perusahaan sebagai karyawan magang mengingat Mia belum memiliki pengalaman apa pun. Sudah dua Minggu Mia bekerja, wanita ini memanfaatkan kesempatan dengan baik agar ia bisa di angkat menjadi karyawan tetap.


"Aduh, itu pak bos kita kasihan ya." Ucap salah seorang karyawan yang bernama Jeni.


"Iya, kasihan. Sejak istrinya meninggal mau tidak mau pak bos harus membawa anaknya bekerja." Imbuh karyawan yang bernama Diva.


"Itu dua-duanya di ajak ke kantor?" Tanya Mia penasaran.


"Kalau boleh tahu, istrinya meninggal kenapa?" Mia semakin penasaran.


"Meninggal saat melahirkan anak ketiga. Anak pertama dan kedua tidak mau tinggal bersama neneknya, pengasuh juga ada. Tapi, namanya bocah pasti tetap nyari orang tuanya."


Tiba-tiba ponsel Mia berdering, ibunya menelpon. Bergegas Mia mengangkat telpon tersebut.


"Mia, kau kenapa?" Tanya Jeni bingung karena tiba-tiba Mia menangis.


"Bapak ku meninggal," jawab Mia sesegukan.


"Mia, tenanglah....!"

__ADS_1


Tempat baru, orang baru dan teman baru. Mereka semua sama sekali tidak mengetahui latar belakang Mia.


Mia bergegas pulang, ia tak menyangka jika bapaknya akan meninggal dunia dalam keadaan seperti ini.


Setibanya di rumah, Mia mendapati ibunya sedang menangis menunggu kedatangan jenazah pak Rahman dari rumah sakit.


"Bu, bapak meninggal kenapa?" Tanya Mia dengan derai air mata.


"Katanya bapak terkena serangan jantung. Ibu juga gak ngerti juga....!"


Lemas tubuh Mia, ia hanya bisa menangis seraya menenangkan ibunya. Kehidupan mereka benar-benar di bawah sekarang. Mau tidak mau, Mia mengabari saudara-saudara mereka yang ada di kampung.


Bu Erni yang mendapatkan kabar pak Rahman bergegas pergi ke rumah anaknya.


"Kasih, pak Rahman meninggal dunia." Ucap bu Erni memberitahu.


Kasih yang mendengar hal tersebut sangat terkejut.


"Ibu dapat kabar dari mana?" Tanya Rangga.


"Dari saudaranya, bu Yayuk itu kan masih saudaranya. Kasih, rencananya ibu mau ikut pergi ke kota, biar bagaimana pun pak Rahman pernah tetanggaan sama kita."


"Kalau yang pergi ramai, nanti biar pak Mun siapin kendaraannya. Di pabrik ada bus," ujar Rangga menawarkan.


"Oh, ya udah. Ibu pergi dulu, ngabarin tetangga yang lain."


Betapa kagumnya Rangga pada mertuanya ini, meskipun keluarga pak Rahman pernah menghina bahkan berbuat salah, tapi bu Erni masih mau memaafkan bahkan sibuk mengurus para tetangga yang ingin pergi melayat.

__ADS_1


__ADS_2