Menikahi Calon Suami Tetanggaku

Menikahi Calon Suami Tetanggaku
Chapter 61


__ADS_3

"Mas ajak kamu jalan-jalan karena waktu kita sisa dua hari di kota. Kalau sudah balik ke desa, hemm.....jangan harap kita akan sedekat ini," ucap Daffa pada Nada.


"Mencari kesempatan dalam kesempitan. Itu lah mas Daffa," sahut Nada.


"Mau gimana lagi? Tuh, kakak ipar kamu itu kejam!"


"Aku bilangin mas Rangga loh," ancam Nada.


"Eh, jangan. Udah, ayo pergi.....!" Ajak Daffa.


"Mau kemana kalian?" Tanya bu Santi penasaran.


"Dinner, kenapa? Mamah mau ikut?"


"Gak deh, ngapain juga jadi obat nyamuk!"


"Mas Daffa kalau udah bucin menjijikan," ucap Divo, adik Daffa.


"Diam kamu!" Sentak Daffa kesal. "Uang jajan mu mau di potong sebulan?" Ancam Daffa.


"Jangan dong mas. Aku hanya bercanda!"


"Udah, jangan ganggu mas mu. Ayo masuk, belajar sana!"


Bu santi dan Divo masuk ke dalam rumah. Daffa dan Nada kemudian pergi ke restoran yang sudah di pesan oleh Daffa sejak sore.


"Keluarga mu asyik juga ya mas," ujar Nada.


"Nanti keluarga kecil kita jauh lebih asyik," ucap Daffa.


"Mas, ada aja jawabannya."

__ADS_1


"Mamah itu sama seperti ibu kamu."


"Sama maksudnya gimana?" Tanya Nada tidak mengerti.


"Sama-sama janda, baguslah kalau mereka berbesan."


"Eh, iya juga ya!" Sahut Nada lalu tertawa.


Tak berapa lama mobil memasuki kawasan parkir, Daffa dan Nada langsung masuk ke dalam restoran.


Beda lagi dengan Rangga yang saat ini sedang bermanja dengan istrinya. Pria tampan ini sedikit menggemuk sejak menikah dengan Kasih.


"Satu minggu lagi kita akan pulang ke kota. Nanti ibu sama Nada di ajak sekalian," ujar Rangga memberitahu.


"Kalau ibu ikut, siapa yang ngurus toko kue nya?"


"Orang kepercayaan mas banyak. Nanti bisa di aturlah, yang penting saat kamu lahiran keluarga ngumpul semua."


"Ya ampun, suami ku ini baik banget. Makasih ya mas," ucap Kasih.


"Setelah melahirkan mas tidak boleh menyentuh ku selama empat puluh hari. Masa lupa?"


"Sayang, kenapa harus di ingatkan?"


Sontak saja semangat Rangga hilang.


"Kalau mas pengen gimana ya?" Tanya Rangga lesu.


"Masih ada jalan lain mas, tenang aja!"


"Tapi tak senikmat jalan lahir," sahut Rangga.

__ADS_1


"Cuma empat puluh hari loh mas!"


"Cuma loh mas,...!" Ujar Rangga meniru ucapan istrinya. "Gak kebayang gimana rasanya nahan urat tegang atas bawah."


"Kasihannya suamiku, sabar ya mas."


"Iya sayang. Yang penting anak kita lahir dengan selamat dan sehat."


Rangga mengelus-elus perut besar istrinya, merasakan tendangan manja dari dalam perut bahkan Rangga mengajak anaknya mengobrol.


"Berat gak sayang?" Tanya Rangga iseng.


"Ringan loh mas, seperti menggendong kapas!" Jawab Kasih dengan senyum lebarnya.


"Bercanda loh sayang, jangan di tanggapi serius."


"Aku juga bercanda," sahut Kasih.


"Udah malam, yuk tidur. Tidak baik bagi ibu hamil tidur larut malam."


Seperti biasa, Kasih selalu tidur di dalam pelukan suaminya. Sejak Mia dan ibunya pergi dari kampung ini, tidak ada lagi yang membuat kerusuhan di kampung.


Sementara itu, Daffa dan Nada masih menikmati malam indah mereka. Nada tak kalah cantik dari Kasih, sudah pasti akan banyak pria yang mengejar Nada nanti.


"Mas kok jadi was-was ya," ucap Daffa.


"Kenapa?"


"Kalau kamu kuliah nanti pasti banyak yang akan ngejar-ngejar kamu. Mas takut kamu berpindah ke lain hati."


"Jodoh tidak ada yang tahu mas. Tapi, semoga kita berjodoh."

__ADS_1


"Jangan suka lirik-lirik laki-laki lain kalau di kampus. Mas akan pepes mereka!"


Nada tertawa, ternyata Daffa yang setampan ini saja bisa takut kehilangan Nada yang hanya gadis biasa.


__ADS_2