
"Mas mau ngapain?" Tanya Kasih heran saat melihat suaminya merangkak dari bawah.
"Mau menjenguk jalan lahir anak ku," jawab Rangga membuat Kasih tertawa.
"Mas, kamu ini ada-ada aja." Kasih menggelengkan kepalanya.
"Sayang, kata Dokter boleh kok main asal jangan keluar di dalam." Rangga merengek.
"Iya,...iya,....boleh kok!"
"Mimik cucu,.....!!" Rangga memuncungkan bibirnya.
"Gak usah alay mas, geli....!!"
"Dua ronde!" Ujar Rangga seraya mengangkat kedua jarinya.
"Satu ronde sekarang satu ronde lagi nanti, menjelang pagi."
"Yang penting keluar!" Seru Rangga kemudian kedua tangan nakalnya mulai sibuk melepas celana sang istri. "Sayang, kamu tuh gak usah pake celana ya."
"Jadi kamu rela jika hutan belantara istri mu di lihat orang banyak?"
"Eeeh,....sembarangan. Maksud mas bukan begitu,"
"Jadi apa?"
"Pakai baju sejuta umat!" Jawab Rangga tersenyum lebar.
"Baju apa sih mas? kalau ngomong yang jelas dong!"
"Baju daster!"
"Itu sih akal-akalan kamu aja. Kalau kepengen kamu langsung nyerang!"
"Nah, tuh tau....!!"
"Mas,...geli...!!" Ujar Kasih saat suaminya menggelitik di atas perut.
Tidak melakukan pemanasan lagi, Rangga yang sudah tidak tahan langsung memasukan burungnya ke dalam sangkar.
Jleb,......
Akhir masuk juga, untuk beberapa saat mereka berdua saling diam menikmati yang berkedut di dalam.
"Mas, pelan-pelan ya." Bisik Kasih.
Saking pelannya Rangga mengayuh pedal miliknya, suara yang biasa terdengar dari hentakan gerakan kini tak terdengar.
Memang rasanya berbeda, tapi apa daya. Ada anak yang harus Rangga jaga.
Ah,...uh....ah....uh.....
Meskipun begitu, Kasih sangat menikmati permainan suaminya. Gerakan yang mengayun ke atas dan bawah membuat ia begitu terangsang bahkan hasrat Kasih semakin memanas.
"Mas,.....!!" Kasih meremas rambut suaminya. Mengarahkan kepala Rangga ke arah salah satu bukit kacangnya.
Aaaaaaah........
Aaaaaaaah.........
Tanpa sengaja Rangga membuang di dalam. Begitu juga dengan Kasih yang sama-sama membuang. Untuk beberapa saat pasangan suami istri ini menikmati senggama yang begitu luar biasa nikmatnya.
__ADS_1
"Mas,....!!" Kasih mendorong tubuh suaminya.
"Sayang, kamu kenapa?" Tanya Rangga heran.
"Kok buang di dalam?"
Rangga menepuk jidatnya, pria ini bergegas menggendong sang istri pergi ke kamar mandi. Dengan tangannya sendiri Rangga membersihkan cairan yang ia buang di dalam. Mereka panik, terutama Kasih.
"Gini nih, kalau keenakan pasti lupa segalanya," ucap Kasih mengomel.
"Ya salah kamu sendiri, kamu sih menjepit burung mas!"
"Harusnya mas bisa inisiatif cabut sendiri."
"Gimana mau cabut, kamu nya aja ah..ih...uh....minta di ***** in."
"Aaah,...mas....!!" Kasih mencubit lengan suaminya. "Aduh, ingin gimana ngaruh apa gak sama janinnya?"
"Mas juga gak tahu." Jawab Rangga yang sebenarnya panik.
"Udah bersih belum ya....?"
"Mas lihat dulu,....!!"
"Jangan ah, aku malu!"
"Apa sih? Biasanya juga kalau main mas lihat dulu."
"Tapi aku malu mas!"
"Kalau gak di lihat gimana mau mastiin bersih apa gak nya?"
Huft,.....
"Sepertinya sudah bersih!" Ujar Rangga.
"Serius, mas?"
"Iya,....!!"
Rangga mengambilkan handuk, membalut tubuh istrinya yang basah.
"Udah, duduk di sini aja. Mas cariin celana ganti buat kamu!"
"Aku aja mas!" Tolak Kasih.
"Duduk!"
Hanya satu kata ucapan suaminya membuat Kasih tak berani membantah. Mau tidak mau ia menurut apa lagi Rangga saat ini sedang memakaikan celana padanya seperti anak kecil.
"Sekarang tidur ya, udah malam!"
"Hemm,....tapi peluk!"
"Iya,...iya....!!"
Kasih tidur dalam pelukan suaminya. Sedangkan Rangga yang masih kepikiran langsung mengambil ponselnya yang berada di atas bantal lalu pria ini mecari tahu apakah boleh membuang ****** di dalam jika sedang hamil muda?
"Matilah aku....!!" Ucap Rangga dalam hati. "Tidak boleh di buang di dalam karena bisa menyebabkan kontraksi, pendarahan hingga menyebabkan keguguran!"
Berdebarlah jantung Rangga, mata yang semula mengantuk kini terang bagai lampu seratus watt. Rangga memindahkan kepala istrinya ke atas bantal. Pria ini kemudian duduk sambil mengelus perut sang istri dengan merapal mantra berupa doa-doa.
__ADS_1
"Tetap bertahan ya sayang. Maafin papah, sumpah papah gak sengaja. Semua ini salah mamah kamu," ucap Rangga yang malah menyalahkan istrinya.
"Mamah kamu sejak hamil minta yang lebih. Kalau kamu laki-laki, kelak jika dewasa kamu akan merasakan betapa tidak enaknya membuang di luar!"
Rangga benar-benar kepikiran hingga membuat pria ini terjaga menunggu istrinya yang nyatanya sampai saat ini masih nyenyak tidur.
Pukul setengah enam pagi Rangga barulah memejamkan matanya. Kasih yang baru bangun merasa mual hendak muntah.
Kasih pergi ke kamar mandi, memuntahkan apa yang ia makan semalam. Rangga yang mendengar suara sang istri, bergegas bangun lalu mengejar ke dalam kamar mandi.
"Sayang, kamu gak apa-apa kan?" Tanya Rangga panik.
"Kepala ku pusing mas, perut ku seperti di ayun-ayun." Jawab Kasih dengan mata terpejam.
Sebelum ini Kasih tidak pernah seperti ini. Dari pertama hamil ia memang merasakan mual tapi tidak separah ini.
"Kita ke rumah sakit sekarang. Mas gak mau anak kita kenapa-kenapa akibat ulah kita semalam!"
Bergegas Rangga menggendong istrinya keluar dari kamar mandi. Pria hanya mencuci muka dan menggosok gigi kemudian langsung pergi.
"Kasih kenapa, Rangga?" Tanya bu Hesti panik saat melihat menantunya di gendong.
"Gak tahu mah, tiba-tiba aja udah lemas seperti ini."
"Ayo cepat bawa ke rumah sakit!"
Pak Diman berada di balik kemudi, sedangkan Rangga memangku istrinya duduk di belakang.
"Aduh Rangga, kamu apakan istri mu ini?" Bu Hesti masih panik.
"Aku juga gak tahu mah!" Bohong Rangga, tidak mungkin ia mengatakan yang sebenarnya.
Sebagai seorang ibu yang pernah mengalami keguguran hingga membuat rahim bu Hesti rusak dan tidak bisa memiliki anak, tentu saja ia panik dan khawatir.
"Pah, cepat sedikit dong!"
"Sabar mah, sabar!"
Setelah menempuh perjalanan lima belas menit, mereka tiba di rumah sakit. Bisa-bisanya Kasih tidak sadarkan diri hingga membuat suami dan kedua mertuanya panik.
Kasih langsung mendapatkan penanganan dari Dokter kandungan. Rangga terus mengumpat pada dirinya sendiri yang begitu bodoh tadi malam.
Klek,.....
Dokter keluar.
"Bagaimana keadaan istri saya, Dok?" Tanya Rangga menghampiri.
"Ah, hal ini wajar saja jika di alami oleh ibu hamil. Mual, pusing dan muntah-muntah." Jawab Dokter.
"Tapi istri saya pingsan Dok?" protes Rangga.
"Hanya kelelahan, lain kali istirahatnya di jaga. Apa lagi istirahat malam!" Dokter melirik ke arah Rangga.
"Serius baik-baik aja kan, Dok?" Bu Hesti bertanya.
"Iya bu, baik-baik aja. Jadi, jangan khawatir!"
"Tapi, menantu saya ini baru sekarang merasakan mual, muntah dan pusing sampai seperti ini."
"Bu, setiap ibu hamil mengalami kondisi yang berbeda-beda. Jika di awal semester tidak merasakan itu semua, bisa jadi semester kedua atau trisemester berikutnya."
__ADS_1
"Ah, masa sih Dok?" Bu Hesti bingung.
"Udah, jangan banyak tanya. Yang penting Kasih dan anaknya baik-baik aja." Ujar pak Diman.