Menikahi Calon Suami Tetanggaku

Menikahi Calon Suami Tetanggaku
Chapter 46


__ADS_3

"Mas, pengen makan bubur kacang ijo tapi warnanya bukan ijo." Rengek Kasih di pagi buta bahkan suaminya sendiri belum sepenuhnya bangun.


"Kalau bukan warna ijo, warna apa dong?"


"Warna apa aja asal jangan ijo."


"Kalau bukan ijo, bukan bubur kacang namanya!"


"Mas, aku serius!" Kasih mengguncang tubuh suaminya.


"Mas heran sama kamu, ngidam kok yang aneh-aneh."


"Kalau gak aneh bukan ngidam namanya!"


"Perutnya mual gak?" Tanya Rangga seraya mengusap perut istrinya.


"Enggak mual tapi ya pengen makan itu."


"Ya udah, mas bilang dulu sama bibi di dapur!"


Seperti biasa Rangga akan melakukan apa saja kemauan sang istri. Setelah mengatakan pada salah satu asisten rumah tangga, Rangga kembali lagi ke kamar.


"Sayang,....!!" Panggil Rangga.


"Iya mas, ada apa?''


"Hari ini mas akan pergi ke kantor. Mas harus menyelesaikan semua pekerjaan sebelum kita kembali ke kampung."


"Iya mas, tapi kalau pulang jangan lupa bawa pepaya ya."


"Kalau pepaya mah gampang!" Ucap Rangga.


"Tapi aku maunya pepaya yang buahnya menjuntai atau yang menggantung gitu, bukan pepaya biasa mas!"


Glek,.....


Seketika Rangga menelan ludahnya kasar.


"Di kota seperti ini, mas cari nya kemana sayang?"


"Gak mau tahu, kalau pulang harus bawa itu buah kalau gak malam ini gak dapat jatah. Ingat, malam ini malam jatah!" Kasih mengancam.


"Sayang,....!!" Rangga merengek. "Jangan ancam mas seperti itu dong. Masa gak Kasihan sama jojo sih?"


"Biarin aja, biar jojo mu itu mengkerut kedinginan!"


Rangga mengiyakan karena ia sudah kesiangan. Hari ini Kasih hanya sendirian di rumah karena kedua mertuanya ada acara di luar kota sedangkan suaminya baru saja berangkat ke kantor.


Mia, perempuan ini berdiri tempat di depan pintu rumahnya sambil melipat kedua tangannya dengan wajah marah.


Geram, emosi sudah pasti karena sang suami ini tidak pulang semalaman.


"Dari mana kamu?" Tanya Mia dengan nada dingin.


"Pulang kerja!" Bohong Dito.

__ADS_1


"Kerja apaan pagi baru pulang hah?"


"Kamu tahu sendiri kalau usaha orang tua ku itu hasil bumi. Aku mengantar hasil panen ke kota, bapak ku yang meminta."


"Kalau kamu kerja, mana uangnya?" Mia menjulurkan tangannya.


Dengan santai Dito merogoh saku celananya lalu mengeluarkan dua lembar uang berwarna merah.


"Cuma segini?" Tanya Mia tidak terima. "Bapak kamu itu pelit banget, masa ngasih cuma segini."


"Udahlah, syukuri aja apa yang aku kasih."Sahut Dito kesal.


"Kamu tuh ya, jadi suami tidak berguna sekali. Ngasih uang sama istri cuma dua ratus ribu sehari. Dapat apa?"


"Mia, sebenarnya mau kamu itu apa sih?" Tanya Dito geram. "Kamu gak pernah masakin aku, lauk yang enak, kerjaan kamu cuma ngomel dan ngomel setiap hari. Aku muak lama-lama!"


"Kalau kamu muak, ya udah sana pergi....!!" Usir Mia.


Tanpa banyak bicara lagi Dito yang belum sempat masuk ke dalam rumah langsung kembali menghidupkan sepada motornya kemudian kembali pulang ke rumah Arum.


"Mas, kok pulang lagi ke sini? Kenapa?" Tanya Arum heran.


"Gak boleh kalau pulang ke sini?" Tanya Dito.


"Bukannya begitu, aku takut aja kalau Mia tahu!"


"Biarin aja dia tahu. Lagian dia yang ngusir aku!"


"Oh, ya udah. Mau makan lagi mas?" Tawar Arum.


"Tidak, aku masih kenyang. Aku mau tidur," ujar Dito.


Dengan santainya Dito melenggang masuk ke dalam kamar Arum lalu merebahkan diri di atas ranjang yang tampak sederhana tapi terasa nyaman bagi Dito.


"Mas, uang yang kamu kasih sisa enam juta. Aku beli kulkas dan belanja kebutuhan lainnya." Kata Arum menjelaskan.


"Gak apa-apa. Nanti kalau habis ngomong aja ya!"


Arum tidak menanggapi, ia sebenarnya merasa tidak enak hati pada Dito karena uang yang di berikan sisa segitu.


"Kenapa melamun?" Tanya Dito heran.


"Uangnya tinggal sisa segitu, aku takut kamu marah!"


"Ngapain marah?" Tanya Dito, "lagian uangnya buat belanja kebutuhan rumah kan?"


"Iya mas," jawab Arum dengan senyum terpaksa. "Em, mas. Besok aku harus masuk bekerja lagi. Aku cuma di kasih libur satu hari."


"Gak usah kerja, di rumah aja. Aku masih sanggup menafkahi kamu," ujar Dito membuat Arum kebingungan. "Kenapa?"


"Aku gak enak sama kamu mas," jawab Arum.


"Gak enak kenapa?"


"Ya gak enak aja merepotkan kamu!"

__ADS_1


"Gak usah di pikirin. Mulai sekarang kamu gak usah kerja, cukup aku yang kerja. Oh ya, dua bulan lagi aku akan wisuda, jadi kau tidak usah khawatir jika kebutuhan mu tidak terpenuhi."


"Hem, iya mas!"


Arum keluar dari kamar, membiarkan suaminya ini tidur. Begitu juga dengan Dito yang rasanya baru sekarang ia bisa kembali tidur dengan nyaman tanpa suara-suara ribut.


Sore menjelang, Kasih yang tak sabar menantikan suaminya pulang hanya bisa duduk di depan rumah. Rasanya sudah tak sabar untuk bertemu dengan suami tercinta.


Dari jarak yang tak begitu jauh, pintu gerbang terbuka. Kasih senang melihatnya tapi ternyata bukan suaminya yang pulang melainkan ada tamu yang datang.


Seorang perempuan cantik berambut pendek keluar dari dalam mobil sambil membawa parsel buah-buahan.


"Hallo,....!!" Sapa perempuan itu ramah.


"Hallo juga, mau cari siapa ya mbak?" Tanya Kasih penasaran.


Perempuan tersebut tersenyum.


"Rangga nya ada?" Tanya perempuan tersebut.


Nyesss......


Seketika hati Kasih berdenyut.


"Maaf sebelumnya, mbak ini siapa?"


Perempuan tersebut mengulurkan tangannya mengajak Kasih berkenalan.


"Perkenalkan, nama ku Yunita. Aku teman lama Rangga, kami sudah lama tidak bertemu."


"Kasih, istri Rangga!" Balas Kasih tentu saja membuat perempuan tersebut kaget. Buru-buru ia melepas tangannya dari Kasih.


"Masa sih Rangga udah nikah?" Tanyanya tidak percaya.


"Rangga sudah menikah, dan aku sedang hamil anak suami ku sekarang. Mendingan mbaknya pulang aja lah!" Usir Kasih.


Yunita terdiam beberapa saat, pandangan mereka tertuju pada mobil yang baru saja masuk.


Rangga keluar dari dalam mobil, seketika senyum Yunita lebar. Wanita ini menghampiri Rangga hendak memeluknya.


"Apa-apaan sih?" Tolak Rangga seraya mendorong tubuh Yunita.


Kasih hanya melihat saja dari teras.


"Rangga, aku merindukan mu. Kenapa kau seperti ini?"


"Kau lihat perempuan di sana?" Rangga menunjuk ke arah Kasih. "Dia istri ku!" Ujar Rangga kemudian berlalu begitu saja.


Pria ini lebih memilih menghampiri Kasih lalu memeluk dan menciumnya di depan Yunita.


"Kau,...!" Tunjuk Rangga, "pergilah. Lagian aku tidak mengenal mu juga!"


"Come on Rangga, aku Yunita. Teman sekolah mu dulu."


"Aku tidak peduli. Pergilah!" Usir Rangga yang begitu dingin.

__ADS_1


"Rangga....!!" Perempuan itu tidak terima.


"Sayang, ayo masuk. Jangan hiraukan perempuan itu." Ujar Rangga yang mengajak istrinya masuk ke dalam rumah.


__ADS_2