Menikahi Calon Suami Tetanggaku

Menikahi Calon Suami Tetanggaku
Chapter 45


__ADS_3

"Bikin malu aja," ucap Dito dengan nada tinggi. "Mau jadi apa kamu kalau gak bisa di nasehatin?"


"Bocah ingusan tuh yang mulai duluan. Bukan aku!" Mia mengelak.


"Udahlah Mia, berhenti membuat kegaduhan. Apa gak malu sama tetangga?"


"Heh Dito, terus aja kamu belain pihak sana. Dasar menantu tidak tahu di untung!"


"Ah, udahlah terserah kalian. Lama-lama bisa gila ku!"


Dito mengambil kunci motornya kemudian bergegas pergi. Bukan pergi untuk menemui teman-temannya melainkan pulang ke rumah orang tuanya.


"Ibu udah gak tahan dengan kelakuan mertua kamu ya, Dito. Ibu sama bapak malu," ucap bu Rima.


"Aku juga sudah pusing bu. Menasehati mereka sama aja aku ngomong sama batu!"


"Ceraikan Mia," ujar pak Fahmi yang sudah habis kesabaran.


"Malam ini aku akan bicara dengan Mia. Aku benar-benar sudah muak dengan mereka," ucap Dito.


"Lihat tubuh mu, kurus. Kau sudah dewasa. Dit, bapak dan ibu mau cucu." Kata pak Fahmi.


"Kalau tahu begini, ibu merestui kamu dan Kasih. Masih mending Kasih, dia anak yang baik dan sopan.Menyesal ibu merestui kamu menikah dan Mia."


"Cepat putuskan malam ini juga Dito. Kalau bisa secepatnya kau bercerai dari Mia." Ujar pak Fahmi.


Dito hanya mengiyakan, pria ini kembali pulang ke rumah Mia. Tekad Dito sudah bulat, malam ini ia akan mengajak Mia bercerai.


Sore telah berganti malam, Dito mendengus kesal saat melihat makanan di atas meja. Hanya sepiring mie goreng dan telur ceplok.


"Perasaan aku memberi mu uang setiap hari. Harusnya kau bisa memaksakan aku lauk yang enak sedikit," ucap Dito.


"Kau pikir aku pembantu mu?" Lantang suara Mia. "Masih mending aku mau memaksakan mu seperti ini, gak bersyukur banget!"


"Kalau setiap hari seperti ini, ada baiknya kita bercerai!" Kata Dito yang sudah tidak tahan lagi.


"Hai,....bajingan satu ini. Setelah anak ku tidak menghasilkan keturunan, kau seenaknya aja mau menceraikan anakku." Ujar bu Wiwin yang tidak terima.


"Aku sudah tidak tahan lagi dengan kalian. Keluarga ku malu, kalian membuat onar terus!"


"Jika kau berani menceraikan aku, akan ku tuntut kau ke penjara!" Ancam Mia. "Dito, setelah aku memiliki kekurangan seperti ini seenak jidat bapak mu mau menceraikan aku!"


Dito tidak menanggapi, pria ini sudah kehilangan selera makan. Dito kembali pulang ke rumah orang tuanya.

__ADS_1


"Jangan sampai kau bercerai dari Dito. Kalau bukan dia, siapa lagi yang akan membiayai hidup kita."


"Iya bu, aku mengerti...!!''


Sudah bisa di tebak oleh pak Fahmi jika Mia tidak mau di ceraikan oleh Dito.


"Kalau begitu sah-sah saja jika kau menikah lagi dengan perempuan lain," ucap pak Fahmi.


"Iya, lebih baik kamu menikah lagi tanpa sepengetahuan Mia." Imbuh bu Rima.


"Siapa yang mau dengan laki-laki yang sudah beristri, pak, bu?"


"Kau tenang saja, bapak dan ibu sudah menyiapkan calonnya untuk mu. Hidup mu akan jauh lebih baik jika kau menikah dengan perempuan ini dari pada Mia." Tutur pak Fahmi.


Setelah berbicara panjang lebar, atas keputusan bersama Dito akan mengikuti saran dari kedua orang tuanya.


Tidak pernah terpikir sebelumnya jika Dito akan memiliki dua orang istri dalam usia muda.


Sementara Kasih, ia merasa sangat bahagia karena malam ini Rangga mengajaknya makan berdua di sebuah restoran yang cukup terkenal di kota.


Bukan Kasih yang mengidam melainkan Rangga yang mengidam makan malam sambil melihat bintang-bintang di langit.


"Aku sudah kenyang mas," ucap Kasih seraya meletakan kedua sendoknya.


"Serius, aku sudah kenyang mas."


"Iya,...iya sayang. Kamu itu loh, semakin hari makin cantik aja." Rangga memuji istrinya.


"Cantik apa gemuk?"


"Cantik dong sayang, gemes lihatnya. Apa lagi kalau lihat perut kamu, mas gemes banget. Rasanya bangga juga melihat hasil karya mas setiap malam."


"Kamu ini ada-ada aja mas!"


"Sebenarnya, di banding kota mas lebih senang suasana kampung. Gak bising suara kendaraan."


"Tapi rata-rata warga di sana suka ghibah. Kamu tahu sendiri bagaimana keadaan di kampung."


"Itu sudah lumrah sayang, mau tinggal di mana pun kalau ratu ghibah itu pasti ada. Lucu aja sih kalau lihat orang adu mulut." Ujar Rangga membuat Kasih merasa heran dengan sikap suaminya ini.


"Nada dan ibu tadi sore adu fisik sama Mia dan bu Wiwin," ujar Kasih memberitahu.


"Ah, masa sih sayang?" Tanya Rangga tidak percaya. "Seharusnya kita ada di sana untuk mengompori."

__ADS_1


"Kamu ini mas, bisa-bisanya!"


Rangga melirik jam yang melingkar di tangannya lalu berkata. "Sudah malam, ayo kita pulang."


"Kata mamah gak boleh lewat dari jam sembilan malam. Ayo cepat mas!"


Kasih dan Rangga bergegas pulang.


Kembali ke Dito, pria ini ternyata baru saja melaksanakan acara pernikahan sederhana dengan seorang perempuan yang bernama Arum.


Arum adalah gadis yatim piatu yang tinggal berjarak dua desa dari desa tempat Dito tinggal. Arum, tidak begitu buruk di mata Dito, perempuan ini cantik hanya saja kurang perawatan.


Selesai acara orang tua Dito bergegas pulang karena hari semakin larut malam sedangkan Dito tetap tinggal di sana.


"Ini uang belanja untuk kamu," ujar Dito seraya meletakan segepok uang untuk istri barunya.


Arum yang masih malu-malu tak berani menatap wajah Dito.


"Ini banyak banget mas!" Protes Arum.


"Udah ambil aja, beli pakaian baru dan kebutuhan mu untuk berias. Kamu itu cantik, jadi harus di rawat." Ucap Dito semakin membuat Arum merona menahan malu.


"Terimakasih mas," ucap Arum.


"Oh itu, di rumah mu ini tidak memiliki kulkas. Kamu beli aja sekalian besok, kalau uangnya kurang ngomong aja."


"Eh, enggak kok mas. Ini banyak banget. Baru sekarang aku pegang uang sebanyak ini."


"Udah malam, tidur gih!"


Malam pertama pernikahannya Dito belum berani menyentuh Arum. Ada rasa yang tidak bisa Dito jelaskan beda dengan Mia dulu, Dito sangat bernafsu untuk menggagahinya.


Mereka yang tidur satu ranjang merasa canggung. Bukannya apa, Dito dan Arum baru mengenal malam ini tapi Dito yakin jika Arum jauh lebih baik dari Mia.


Malam telah berganti pagi, Dito yang baru saja bangun dan hendak menuju kamar mandi terkejut saat melihat meja makan penuh dengan lauk pauk enak.


Untuk sejenak Dito termenung, Mia tidak pernah memasak lauk enak seperti ini untuk dirinya.


"Sarapan mas?" Tawar Arum.


Dito mengangkat wajahnya lalu menatap istri keduanya ini.


"Oh, aku mandi dulu!" Ujar Dito yang bergegas pergi ke kamar mandi.

__ADS_1


__ADS_2