
"Kenapa kamu lihat saya?" Tegur Daffa pada Vivi yang sejak tadi memperhatikan jari tangan Daffa.
"Oh, gak pak. Itu, tumben pake cincin?"
"Wajar dong, ini cincin nikah saya. Kenapa?"
Vivi hanya menggelengkan kepala, dua tahun yang lalu, pertama kali masuk bekerja, wanita ini selalu berusaha mencari perhatian Daffa.
"Jangan macam-macam kamu. Dia menikah dengan adik ipar ku," ucap Rangga memperingatkan. Karena Rangga paham betul gelagat dari perempuan seperti Vivi.
Wajah Vivi bagai di lempar kotoran kucing. Wanita ini hanya bisa menunduk sambil membolak balik berkas yang ada di tangannya.
"Saya permisi dulu pak," pamit Vivi kemudian bergegas keluar dari ruangan Rangga.
Rangga dan Daffa acuh tidak peduli, kedua pria ini malah sibuk dengan pekerjaan mereka.
Huft.......
Rangga menarik nafas panjang lalu bersandar di kursi kebesaran yang selalu ia tinggalkan.
"Kenapa?" Tanya Daffa heran.
"Pusing...!" Jawab Rangga.
"Lebay, pusing dikit aja ngeluh!" Sahut Daffa.
"Bukan kepala atas yang pusing. Tapi kepala bawah!"
Sontak saja Daffa tertawa mendengar perkataan Rangga.
__ADS_1
"Biasanya juga ah...ih...uh......kok bisa pusing. Aneh!" Ujar Daffa yang masih tertawa.
"Sejak anak ku lahir, sampai detik ini aku belum lagi menyentuh istriku." Kata Rangga memberitahu.
"Heh, kok bisa?"
"Makanya, kalau sekolah jangan sampai gerbang aja. Belajar lagi sana!"
"Apaan, gak jelas!" Seru Daffa.
Rangga melirik jam yang melingkar di tangannya.
"Sudah hampir sore, aku mau pulang." Ucap Rangga.
"Lalu, bagaimana denganku?" Tanya Daffa. Aku ini masih pengantin baru, apa kau tidak kasihan padaku?"
Secepat kilat Daffa mengemasi tumpukan kertas yang memenuhi atas meja. Di banding Rangga, Daffa paling cepat keluar dari ruangan.
Setibanya di rumah, Daffa langsung mencari Nada yang ternyata sedang terlelap tidur di kamarnya. Jika waktu itu Nada tidur di kamar tamu, sekarang Nada sudah bisa tidur di kamar Daffa.
"Ya ampun, cantiknya istriku. Pasti capek ya, habis perjalanan." Daffa mengusap lembut kepala istrinya.
Nada yang merasa terganggu langsung membuka matanya.
"Mas, lapar!" Ucap Nada dengan suara pelan.
"Bangun, mandi. Sudah sore, nanti kita pergi makan malam deh."
"Mas,....!" Panggil Nada.
__ADS_1
"Iya sayang, ada apa?"
"Kenapa warna kamar mu harus hitam dan abu-abu? Gelap banget!"
"Mas suka aja, terkesan damai."
"Oh, begitu ya....?"
"Nanti juga mau mas ganti warna putih tulang. Warna kesukaan kamu," ujar Daffa.
"Tahu dari mana kalau itu warna kesukaan aku?" Tanya Nada penasaran.
"Kamar kamu warna putih. Rata-rata pakaian mu berwarna putih. Ada beberapa barang mu berwarna putih. Jadi, mas simpulkan kalau kamu suka warna putih."
"Aduh gemes sama suami ku ini," ucap Nada dengan memberanikan diri mencium bibir suaminya.
Sebagai seorang laki-laki, tentu saja Daffa terpancing. Pria ini langsung memeluk tubuh istrinya lalu mereka berciuman dengan sangat mesra.
"Mas, aku mandi dulu." Ujar Nada yang baru saja melepas ciuamannya.
Huft,......
Daffa menghela nafas panjang.
"Iya sayang,...!" Jawabnya pasrah karena belut jumbonya baru saja bangun.
Nada sengaja melepas ciuman dan beralasan hendak mandi karena ia sadar saat Daffa menggesekkan bagian bawah, ada benda yang mengeras hingga membuat Nada panik.
"Sabar Daffa, dua jam lagi sudah malam." Ucap Daffa dalam hatinya.
__ADS_1