
Huft,........
Mia membuang nafas panjang lalu duduk di sofa dengan wajah kusut nafas ngos-ngosan.
Bu Wiwin yang sedang menjaga toko sembakonya langsung masuk menghampiri anaknya.
"Kamu kenapa Mia?" Tanya bu Wiwin heran.
"Heran, kenapa cari kerja di kota itu susah banget. Aku capek loh bu," ucap Mia mengeluh.
"Sabar, semua butuh proses!"
"Sabar dan sabar. Hidup aku benar-benar hancur sekarang!"
"Ya mau gimana lagi, udah seperti ini jadinya."
"Semua ini gara-gara bapak. Karena ambisinya yang ini dan itu akhirnya membuat keluarga kita kacau."
"Bukan salah bapak. Semua ini salah Kasih, pasti dia dan ibunya yang janda itu sedang bersenang-senang."
"Aku janda dan gak bisa punya anak. Siapa yang mau sama aku, bu?"
Mia mengusap wajahnya kasar, menahan air mata yang hampir keluar.
"Lah iya, semua gara-gara Kasih."
"Bisa gak jangan sebut nama Kasih!" Sentak Mia dengan nada tinggi. "Hidup ku seperti ini karena ulah bapak dan ibu. Masa depan ku hancur sekarang!"
"Mia, kamu kok jadi menyalahkan ibu sih?"
__ADS_1
"Ah, sudahlah bu. Aku capek, kalian selalu menekan ku ini dan itu. Aku juga pengen seperti Kasih, di sukai semua orang, punya suami baik dan pengertian. Aku juga ingin punya keluarga yang damai."
Setelah mengatakan hal tersebut, Mia bergegas pergi dengan sepeda motornya.
Perlahan-lahan Mia mulai sadar jika apa yang ia lakukan dulu adalah salah. Kehilangan anak adalah doanya sendiri bahkan mendoakan orang lain yang buruk hingga berbalik pada dirinya sendiri.
Sambil berurai air mata Mia mengendarai motornya. Di bawah pohon besar di taman tengah kota ia berhenti sejenak untuk sekedar menata hati.
"Nada,.....!" Ucapnya pelan saat melihat perawakan perempuan yang begitu ia kenal. "Masa sih itu Nada? Kalau iya, ngapain dia di taman ini?"
Mia mengusap air matanya kasar, wanita ini turun dari motor lalu menghampiri Nada yang tengah duduk di kursi taman sambil menunggu Daffa yang membeli minuman.
"Nada,....!"
"Loh, mbak Mia. Ngapain di sini?"
"Mbak Mia nangis, kenapa?" Nada yang melihat wajah sembab Mia penasaran.
Tanpa banyak bicara Mia duduk di kursi tralis tersebut kemudian melanjutkan nangisnya.
"Aku capek,...!" Ucap Mia dengan isak tangisnya.
"Capek kenapa?" Tanya Nada penasaran.
"Ya capek aja. Ibu dan bapak terus menuntut ku ini dan itu. Aku capek!"
"Loh...loh....ini ngapain nenek gayung di sini?" Tanya Daffa heran.
"Mas,...hus....!!" Nada memberi kode pada Daffa yang baru datang.
__ADS_1
"Kenapa dia?" Tanya Daffa berbisik.
"Gak tahu juga," jawab Nada.
"Dunia sempit banget, masa ketemu orang beginian lagi." Ucap Daffa kembali berbisik.
"Mas,.....!"
"Udahlah, aku pulang aja!" Ujar Mia yang tanpa banyak bicara kembali ke motornya kemudian pergi.
"Aneh, tiba-tiba nangis bilang capek. Kenapa dia?" Nada semakin bingung.
"Ada masalah kali." Sahut Daffa.
"Dia kan tukang bikin masalah, masa iya kena masalah?"
"Ah, udahlah jangan bahas dia. Mending bahas masa depan kita aja," ucap Daffa.
"Hiiidih ......perasaan bahas masa depan mulu."
"Dari pada bahas itu orang. Nah, minum dulu, jangan sampai kehausan dan kelaparan bisa di prekedel sama Rangga nanti."
"Mas Daffa takut banget ya sama mas Rangga?"
"Gak takut, cuma malas aja melawan itu orang!"
"Halah, bilang aja takut!"
"Enggak!!"
__ADS_1