Menikahi Calon Suami Tetanggaku

Menikahi Calon Suami Tetanggaku
Chapter 68


__ADS_3

Ekspresi wajah Rangga terlihat aneh seperti orang hendak muntah saat melihat bu Erni yang sedang membersihkan kotoran anaknya.


"Anu bu, kok tititnya kecil ya?" Tanya Rangga dengan polosnya.


"Kamu pikir ini punya kamu, besar seperti belalai gajah?" Sahut pak Diman yang duduk di sofa kamar Rangga.


Bu Erni tertawa begitu juga dengan bu Hesti yang saat ini sedang menyuapi Kasih makan.


"Aku heran sama mas Rangga, tidur di samping anaknya aja gak mau!" Ujar Kasih heran.


"Bukan gak mau sayang, mas takut khilaf. Kena tindih, habis lah mas." Sahut Rangga.


"Heran sama kamu. Gendong anak gak mau, tidur di samping anak takut. Maunya apa sih?" Bu Hesti pusing sendiri.


Rangga hanya memanyunkan bibirnya lalu duduk di samping istrinya.


"Gantian, suapin istri kamu." Ujar bu Hesti.


"Mamah mau kemana?" Tanya Rangga.


"Nyuci baju anak kamu. Pilih mana, nyuapin makan atau nyuci baju?" Bu Hesti memberi pilihan.


"Gak deh, aku nyuapin istri tercinta aja."

__ADS_1


Ingin rasanya bu Hesti menendang anaknya ini. Memang ada pembantu tapi bu Hesti ingin melakukan sendiri demi sang cucu kesayangan.


"Masih sakit gak tempenya?" Tanya Rangga dengan suara pelan.


"Enggak sih, rasanya lega aja udah melahirkan."


"Mas lihat dengan jelas loh. Lebar, kok bisa ya?"


"Aduh mas, jangan tanya aku. Aku juga gak tahu....!"


"Segini loh....!" Ujar Rangga yang mengukur dengan tangannya.


Huft......


"Mas, bisa-bisanya membahas hal seperti itu."


"Iya, gak di bahas deh. Ini, obatnya di minum dulu."


Bu Erni tersenyum melihat Rangga yang begitu baik memperlakukan anaknya. Terlebih lagi kedua mertua Kasih juga baik pada anaknya.


"Rangga, ayok belajar menggendong anak mu." Ujar bu Erni.


"Aduh, gak deh bu. Aku takut, kalau jatuh gimana?"

__ADS_1


"Mas, kamu itu papahnya loh!"


"Ya mau gimana lagi, mas beneran takut!"


"Ya udah, jangan di paksa. Nanti belajar pelan-pelan."


Seperti biasa Rangga hanya menunggu anaknya tidur jika bocah bayi itu berada di dalam box bayi.


Beda lagi dengan Daffa yang sedang mempersiapkan pernikahannya. Karena semua telah di putuskan jika Daffa dan Nada akan di nikahkan dua minggu lagi. Betapa bahagia pria ini yang akan melepas masa lapuknya.


Karyawan di perusahaan mendadak heboh saat mereka dapat undangan pernikahan dari Daffa terutama Vivi sang sekretaris pak Diman yang ternyata selama ini diam-diam menyukai Daffa.


"Cintaku kandas!" Ucap Vivi dengan wajah lesu.


"Kita ini loh, punya bos udah jarang pergi ke kantor. Nikah pun mendadak eh sekarang pak Daffa juga ikutan sama seperti pak Rangga." Ujar salah seorang resepsionis bernama Teri yang menjadi teman ngobrol Vivi setiap hari.


"Dengar-dengar sih istri mereka itu orang kampung. Heran, nemu di mana juga. Pasti di pelet tuh." Kata Vivi memfitnah, wanita ini tidak terima jika Daffa menikah dengan perempuan lain.


"Lah iya, ku dengar lagi katanya istri pak Rangga adalah kakak kandung dari calon istri pak Daffa. Pasti mereka ini menggunakan ilmu pelet." Ujar Teri memberitahu.


"Mungkin iya. Secara mereka dari kampung," sahut Vivi yang kesal dan tidak terima.


"Aduh, jangan fitnah deh. Nanti kalau di dengar pak bos bisa di pecat kalian." Ucap Nadia, resepsionis kedua.

__ADS_1


"Kami bicara kenyataan!" Seru Vivi yang merasa paling benar.


__ADS_2