Menikahi Calon Suami Tetanggaku

Menikahi Calon Suami Tetanggaku
Chapter 36


__ADS_3

Rangga memboyong keluarga dari istrinya menuju kota untuk menghadiri acara ulang tahun pernikahan pak Diman dan bu Hesti yang ke tiga puluh tahun.


Bahagia sekali rasanya bu Erni bisa bertandang ke kota seperti ini. Pak Diman dan bu Hesti menyambut hangat kedatangan besan mereka.


Bertempat di sebuah hotel mewah acara tersebut berlangsung. Untuk pertama kalinya juga keluarga Kasih menginjakkan kaki di hotel mewah seperti ini.


Nada yang tak kalah cantik dari sang kakak menjadi pusat perhatian dari beberapa tamu muda yang ikut menghadiri acara tersebut.


Daffa kesal, pria ini sengaja menempel pada bu Erni dan Nada agar semua orang tahu jika ia dekat dengan keluarga ini.


"Maaf pak Diman. Kalau boleh tahu, gadis cantik yang duduk di meja Rangga itu siapa ya pak?" Tanya Salah seorang tamu undangan.


"Yang itu,...?" Tunjuk pak Diman, "kalau itu istri Rangga, namanya Kasih."


"Bukan pak. Yang di sampingnya lagi."


"Oh, itu nama Nada. Adik ipar Rangga."


"Cantik ya pak, murah senyum lagi. Seperti cocok untuk anak laki-laki saya." Ucap tamu tersebut.


Daffa yang mendengar jelas percakapan pak Diman dan temannya itu langsung membuat darahnya mendidih. Bukannya apa, meja mereka sangat dekat dengan meja tamu tersebut. Untung saja bu Erni dan Nada tidak mendengarkan percakapan tersebut.


"Heh, kenapa dengan wajah mu?" Tanya Rangga heran.


"Tidak kenapa-kenapa!" Jawab Daffa acuh.


Tak berselang lama, sepasang suami istri menghampiri meja Rangga. Mereka semua berjabat tangan memperkenalkan diri. Bukan Rangga, tapi Kasih dan yang lainnya.


"Gimana kabarnya pak Burhan?" Tanya Rangga untuk sekedar berbasa basi.


"Baik,..sangat baik." Jawab pak Burhan. "Oh ya Rangga, kalau boleh tahu siapa nama gadis yang duduk di samping istri mu itu?" Tanya Pak Burhan iseng.


Seketika mata Daffa melebar.


"Oh, adik ipar saya ini ya pak?" Ujar Rangga. "Namanya Nada pak. Kenapa ya pak kalau boleh tahu?"


"Anak saya sejak tadi memperhatikan Nada. Mau kenalan malu katanya."


"Iya, takut sama kamu!" Imbuh istri pak Burhan.


"Di mana anak bapak?" Tanya Rangga.


Bergegas istri pak Burhan memanggil anaknya. Rangga kemudian memperkenalkan Nada pada anak pak Burhan yang bernama Guntara.


"Sialan...!" Umpat Daffa dalam hati, "aku aja belum pernah menyentuh tangan Nada malah dia duluan!" Gerutunya.


Acara kemudian di mulai, semua tamu hening mendengarkan sambutan dari pak Diman dan bu Hesti.

__ADS_1


Kasih merasa gugup karena ia dan Rangga sebentar lagi akan memberikan kejutan atas kehamilannya.


Dengan gagahnya Rangga menggandeng Kasih menuju mimbar. Pasangan suami istri ini tampak serasi dan teduh di lihat.


Rangga mulai memberikan sambutannya untuk kedua orang tuanya.


"Aku dan Kasih tidak memberikan hadiah yang mahal atau berupa barang. Kami hanya bisa memberikan ini saja." Ujar Rangga seraya memberikan kotak kecil pada kedua orang tuanya.


"Hadiahnya kecil ya mah!" Ucap Kasih yang tak tahu mau ngomong apa.


"Apa ini?" Tanya bu Hesti penasaran.


"Ayo buka.....!!" Teriak Daffa yang sengaja.


"Bukalah mah, pah!" Pinta Rangga.


Pak Diman dan bu Hesti yang penasaran langsung membuka kotak kecil tersebut. Bu Hesti tersenyum menoleh ke arah suaminya.


"Cucu pah," bisik bu Hesti.


"Hadiahnya ternyata cucu ya para tamu....!" Ucap Pak Diman mendapatkan sorak ramai dari para tamu.


Mereka memeluk Kasih, betapa bahagia bu Hesti yang akan segera memiliki cucu.


"Semoga kembar empat ya permisa....!" Ucap sang pembaca acara di aminkan oleh semua tamu.


"Kasih,....uh....gemes. Mamah senang banget!" Ucap bu Hesti.


"Gas pah,....!!" Seru Rangga.


Acara pesta kembali berlangsung, semua orang menikmati suguhan acara dan makanan yang sudah di hidangkan.


Ada seorang bapak-bapak menghampiri Daffa lalu duduk di samping Daffa. Tentu saja Daffa kenal dengan orang ini, dialah pak Bimo, salah satu klien pak Diman.


"Daffa,....boleh tanya sesuatu?" bisik pak Bimo.


"Iya pak, apa?"


"Saya dengar tadi ibu mertuanya Rangga itu janda ya?"


"Ah, bapak dengar dari mana?" Tanya Daffa penasaran.


"Itu tadi, gak sengaja dengar saat ngobrol sama bu Hesti dan teman-temannya."


"Kalau janda kenapa memangnya?" Tanya Daffa curiga.


"Kamu tahukan saya duda?"

__ADS_1


"Kalau bapak Duda, kenapa memangnya?"


"Kenalin dong sama ibu mertua Rangga. Kamu pasti dekat, tadi aja kalian duduk satu meja."


"Bu Erni calon ibu mertua saya juga. Bapak jangan macam-macam ya!"


"Heeeeh,....gak macam-macam. Saya duda, dia janda. Kalau bersatu bisa membangun rumah tangga di masa tua. Apa salahnya sih?"


"Hallo pak....!!" Sapa Rangga mendadak obrolan pak Bimo dan Daffa terhenti.


"Oh, hallo juga Rangga. Selamat atas kehamilan istri mu," ucap pak Bimo."Kalau begitu saya ke sana dulu," imbuh pak Bimo yang merasa tidak enak hati pada Rangga.


Rangga melirik Daffa dengan tajam, senang sekali rasanya jika ia harus beradu mulut dengan Daffa.


"Jaga mertua dan adik ipar ku. Aku dan Kasih akan beristirahat lebih dulu."


"Tanpa kau minta pun aku sudah pasti akan menjaga calon mertua dan calon istri ku."


"Dalam mimpi mu!" Seru Rangga kemudian berlalu.


Rangga dan Kasih memutuskan untuk beristirahat lebih awal. Malam ini mereka menginap di hotel.


"Eeeh, mas mau ngapain?" Tanya Kasih saat suaminya menaikan kedua kakinya ke atas bantal.


"Kamu pasti lelah, mas pijitin ya."


"Gak usah mas. Aku baik-baik aja!" Tolak Kasih.


"Mas gak mau kamu kelelahan atau apalah. Kamu lecet sedikit nanti mas yang bakal di gantung sama mamah dan papah."


"Ya gak gitu juga mas!"


"Udah deh. Nurut aja sama mas!"


Rangga dengan senang hati memijat kaki sang istri. Tidak lupa membuatkan segelas susu hangat untuk Kasih sebelum tidur.


Sedangkan Mia, wanita merasa panas saat melihat foto-foto milik Nada yang sengaja di unggah lewat media sosial gadis itu.


"Apaan, pantesan rumahnya sepi. Gak tahunya mereka pergi ke kota semua!"


"Siapa?" Tanya Dito penasaran.


"Siapa lagi kalau mantan kamu dan keluarganya. Bisa-bisanya mereka menghadiri acara pesta semewah ini."


"Ya udahlah ya, gak usah di bahas. Itu semua urusan mereka!"


"Aku iri, kamu gak pernah sama sekali memberikan aku hadiah atau menghadiri acara seperti ini. Menyebalkan!"

__ADS_1


"Terus saja membandingkan aku. Lama-lama aku bosan sama kamu!"


Dito yang niatan hatinya tidak mau keluar malam ini pada akhirnya memilih keluar untuk menghindari Mia. Rasanya lelah juga jika harus menghadapi sikap Mia yang sangat keras kepala dan hanya ingin menang sendiri. Jujur saja, Dito sama sekali tidak mencintai istrinya.


__ADS_2