Menikahi Calon Suami Tetanggaku

Menikahi Calon Suami Tetanggaku
Chapter 64


__ADS_3

"Mah,...mamah......!" Daffa berteriak memanggil sang mamah.


"Daffa, ada apa sih teriak-teriak segala?" Tanya bu Santi yang merasa kebisingan.


"Ada calon besan loh mah. Di sambut dong," ujar Daffa memberitahu.


"Eh,...ya ampun. Iya, ada calon besan. Aduh, kok datangnya mendadak gak kasih kabar? Kalau tahukan di masakin yang enak-enak. Daffa ini gimana sih? Kok gak ngomong sama mamah?"


Cerocos bu Santi.


"Iya saya juga dari rumah sakit langsung di ajak Daffa ke sini," ucap bu Erni.


"Ya ampun, pantesan anaknya cantik begini. Ibunya ternyata cantik juga," ucap bu Santi.


"Aduh, jadi malu. Makasih loh bu, pujiannya." Ujar bu Erni.


"Kita semua belum makan siang loh, gimana kalau kita makan di luar aja." Ajak bu Santi.


"Aduh, jangan deh bu. Merepotkan!" Tolak bu Erni.

__ADS_1


"Hidiih,...enggak kok. Sambil makan di luar, sambil cuci mata. Mana tahu ada duda lewat yang naksir kita berdua," ucap bu Santi membuat bu Erni tertawa.


"Gini nih, kalau ibu-ibu ngumpul lupa sama anaknya!" Singgung Daffa.


"Kenapa sih? ganggu orang tua mau senang-senang aja!" Geram bu santi pada anaknya.


Bu Santi pun mengajak bu Erni dan Nada pergi makan siang. Tentu saja Daffa akan menjadi supir mereka kali ini.


Banyak makanan yang di pesan oleh bu Santi. Bu Santi dan bu Erni tampak akrab padahal baru bertemu hari ini.


"Eh bu, ngomong-ngomong ada yang mau saya omongin loh," ucap bu Santi serius.


"Diam kamu....!!"


"Mau ngomong apa ya bu?" Tanya bu Erni.


"Begini bu, saya sudah senang sekali sama Nada. Saya harap Nada bisa menjadi menantu saya," ucap bu Santai seketika membuat senyum Daffa melebar.


"Aduh, jadi bingung!" Sahut bu Erni.

__ADS_1


"Kalau bisa secepatnya saya akan melamar Nada untuk Daffa. Gak masalah kok, udah nikah sambil kuliah. Maksudnya gini, ibu kan di kampung, biar Nada aman ada yang jaga di kota, gak masalah kalau kita menikahkan mereka." Tutur bu Santi panjang lebar.


Bu Erni menoleh ke arah anaknya.


"Gimana ya bu, Nada juga masih muda. Masa iya nikah muda?"


"Pergaulan jaman sekarang itu susah di tebak loh bu, apa lagi ini kota besar. Lagian, tuh lihat anak kita udah cocok banget apa lagi kita berdua, udah cocok banget jadi besan."


"Em, gini bu. Saya sebagai orang tua tidak bisa memutuskan, semua keputusan ada di tangan anaknya sendiri. Saya orang tua tunggal yang harus menjaga dua orang perempuan. Jujur saja, jika Nada belum menikah, hati saya belum tenang."


"Nah, justru dari itu kita harus segara menikahkan Daffa dan Nada. Coba lihat, uh serasinya anak mamah."


"Ada baiknya kita bicara sama keluarga pak Diman dulu karena mereka lah yang selama ini sudah membiayai sekolah Nada. Saya harus minta pendapat dulu sama Kasih, biar bagaimana pun dia anak paling tua."


"Ketemu sama Rangga lagi deh...," ucap Daffa kesal.


"Nanti kalau kuliah, biar Daffa aja yang biayain. Rencananya tanah dan rumah yang di beli Daffa itu mau di jadikan mahar, gimana bu, cocok gak?" Tanya bu Santi.


"Saya tidak meminta mahar yang besar bu. Yang penting tidak memberatkan dan merendahkan anak saya saja itu lebih dari cukup."

__ADS_1


Bu Santi terus merayu bu Erni, menurutnya ini adalah salah satu kesempatan untuk bicara mengenai pernikahan meskipun terkesan mendadak.


__ADS_2