
Tiga hari kemudian, setelah kematian bapaknya. Mia kembali bekerja seperti biasa, rasa sedih masih menggelayut di hatinya.
Menata hidup lebih baik lagi adalah tujuan Mia sekarang. Masa lalu biarlah berjalan pada tempatnya setidaknya ia sekarang berniat memulai kehidupan yang lebih baik.
"Mamah,......mamah....!"
Tiba-tiba saja ada anak kecil yang menggelayut di bawah kaki Mia bahkan memanggilnya mamah. Tentu saja Mia terkejut.
"Aduh,....ini kan anak pak bos." Batin Mia.
"Mamah.....mamah.....!" Bocah tiga empat tahun ini terus memanggil Mia dengan sebutan mamah.
"Ray, ini bukan mamah Ray. Ini tante Mia, karyawan papah." Ujar Jeni memberi pengertian.
"Namanya Ray?" Tanya Mia.
"Iya, yang satu lagi Kay."
"Ray........!!" Panggil Surya, bos pemilik perusahan ini. Surya berlari kecil sambil menggendong Kay, anak laki-lakinya yang berusia dua tahun setengah.
"Mamah, pah.....!" Celetuk Ray.
Surya mengerutkan keningnya melihat Mia.
"Kamu karyawan baru?" Tanya Surya.
"Iya pak. Saya karyawan magang di sini."
"Oh....!" Sahut Surya. "Ray, ayo pulang sayang. Ikut sama nenek ya...ada mbak juga di rumah!"
"Gak mau. Mau sama mamah!" tolak bocah ini dengan bahasa bayinya.
__ADS_1
Siapa pun akan iba melihat keadaan Surya yang seperti ini. Kerja sambil membawa dua anaknya yang masih kecil. Ingin rasanya mengeluh, tapi mau bagaimana lagi? Sudah takdir.
Ray memeluk kaki Mia dengan begitu erat tidak mau melepaskan.
"Biar sama saya aja pak. Kasihan, dari pada nangis." Ujar Mia.
"Ray, jangan ganggu tantenya lagi kerja ya...!" Bujuk Surya.
"Gak mau....!"
Huft......
Surya memijat dahinya yang terasa nyeri.
"Serius kamu gak kerepotan?" Tanya Surya. "Ray ini nakal, gak bisa diam....!"
"Namanya juga anak-anak pak. Umur segini mah lagi aktif-aktifnya." Sahut Jeni.
Surya kembali mengerutkan keningnya heran mendengar ucapan Mia.
"Kamu udah punya anak, Mia?" Tanya Diva penasaran.
"Sudah meninggal, kau tahu sendiri aku janda!" Jawab Mia yang jujur.
"Lengkap sudah, yang satu kehilangan anak yang satu kehilangan ibu. Cocok kalau di satuin," ucap Jeni yang tak melihat keadaan.
Diva langsung menyenggol lengan Jeni, mendadak Jeni sadar.
"Maafkan," ucap Jeni.
"Biar sama saya aja pak. Kalau bapak mau lanjut kerja, silahkan. Nanti saya antar ke ruangan bapak!"
__ADS_1
"Ini saya mau pulang mengantar Kay. Saya titip Ray sebentar ya," ujar Surya.
"Iya pak....!"
Surya bergegas mengantar anak perempuannya pulang. Sedangkan Ray di jaga oleh Mia, Diva dan Jeni.
"Ganteng banget, sama kek papahnya!" Ucap Jeni yang gemas.
"Ray, duduk di sini ya. Tante mau kerja sebentar!"
Ray begitu penurut, bocah ini duduk di samping Mia.
Sementara itu, di tempat lain Nada yang sudah mulai aktif kuliah banyak sekali para laki-laki mencoba mendekati dirinya.
Daffa yang melihat istrinya sedang di dekati seorang pria langsung turun dari mobilnya lalu berjalan dengan wajah emosi menghampiri istrinya yang sedang berjalan ke arah tempat parkir.
"Mas,....!" Panggil Nada sedikit mempercepat langkahnya.
"Nada, aduh. Minta dong nomor ponselnya?" Teriak teman laki-laki Nada.
"Buat apa hah?" Tanya Daffa dengan mata melotot.
"Eh kak,...hehehe....gak buat apa-apa. Buat nambah teman aja!"
"Kamu tahu gak kalau Nada itu sudah menikah?" Tanya Daffa kesal.
"Hah, serius?" Tanya pria tersebut.
"Sudah ku bilang berapa kali jika aku sudah menikah. Ini buktinya," ucap Nada seraya mengangkat tangannya dan tangan suaminya untuk menunjukan cincin kawin mereka.
"Sekali lagi kau mengganggu istri ku, akan ku buat kau hilang dari muka bumi ini." Ancam Daffa kemudian mengajak istrinya pulang.
__ADS_1
Bukan hanya satu atau dua orang, sudah beberapa orang laki-laki yang mencoba mendekati Nada. Tentu saja Nada menjadi incaran, ia memiliki paras cantik yang tak kalah dari Kasih.