Menikahi Calon Suami Tetanggaku

Menikahi Calon Suami Tetanggaku
Chapter 70


__ADS_3

"Cantiknya istri mas ini. Jadi gak sabar untuk malam pertama," ucap Daffa yang saat ini tengah duduk di pelaminan bersama dengan Nada.


"Mas, kalau ada yang dengar gimana?"


"Gak ada yang dengar, suara musik kencengnya gini."


"Ngantuk, sumpah!" Ucap Nada yang semalam hampir tidak tidur memikirkan acara hari ini.


"Sebentar lagi juga selesai, sabar ya sayang mas. Ada baiknya kita selfi dulu," ujar Daffa yang langsung mengeluarkan ponselnya.


"Kalau suaminya seperti suami Nada dan mbak Kasih. Aku juga mau nikah muda," ucap Weni, salah satu anak tetangga.


"Aku juga mau,....!" Timpal yang lain.


Hanya bisa mengkhayal tanpa bisa memiliki.


Sementara itu, Rangga dan Kasih tidak bisa berada di rumah bu Erni untuk mengikuti acara pernikahan seharian penuh.


Terlalu ramai dan berisik, Kasih tidak ingin anaknya yang baru berumur dua minggu merasa kurang nyaman apa lagi terganggu. Mereka datang hanya sekedar berfoto keluarga saja setelah itu pulang.


"Kalau mau ke rumah ibu bilang sama mas ya. Nanti mas anter," ujar Rangga.


"Kasihan Zayn, di sana musiknya terlalu kencang. Ramai orang dan pengap juga. Masih ada dua minggu lagi, acara di kota."


"Kamu tahu gak?"


"Tahu apa mas?" Tanya Kasih penasaran.

__ADS_1


"Betapa malunya wajah mas mu ini saat melihat papah joget nyawer para biduan. Mamah malah sibuk merekam dan gak marah sama sekali. Heran sama mereka!"


"Biarin aja lah mas, hiburan juga. Sesekali.....!!"


"Oh, kalau mas yang seperti itu kamu gak akan marah juga kan?" Goda Rangga.


"Tidak akan marah. Hanya saja tidak ada jatah setiap malam selama satu bulan....!" Ancam Kasih secara halus.


Rangga memutar bola matanya malas, "sama aja dong!"


Rangga memilih membaringkan tubuh di samping anaknya, bukan Rangga namanya kalau tidak menganggu. Pria ini mentoel pipi bulat anaknya, mencubit manja hidung Zayn yang tampak mancung seperti papahnya.


Siang telah berganti malam, acara pernikahan selesai. Hanya ada acara-acara biasa berbaur bersama tetangga.


Daffa dan Nada yang kelelahan hanya bisa istirahat di kamar milik Nada.


"Hasil pacaran diam-diam akhirnya nikah juga ya mas," ujar Nada.


"Iya dong sayang. Oh, mas lapar. Mas ke dapur sebentar, jangan tidur dulu. Kita mau malam pertama!"


"Jangan lama-lama mas," ujar Nada.


Melihat menantunya keluar dari kamar dan pergi ke dapur, bu Erni langsung menghampiri Daffa.


"Kamu mau makan?" Tanya bu Erni.


"Iya bu, menantu ibu yang paling tampan ini lapar." Jawab Daffa.

__ADS_1


Bu Erni membantu Daffa mengambilkan makanan.


"Mamah kamu udah tidur di kamar Kasih. Jangan di ganggu ya, biar istirahat." Ujar bu Erni memberitahu.


"Iya bu,...!" Sahut Daffa. "Suasana hajatan di desa itu ramai ya bu. Semua tetangga pada datang membantu."


"Iya. Meskipun banyak yang suka gosip, tapi kalau ada hajatan pada maju paling depan. Senang aja gitu rame....!"


"Ibu gak makan sekalian?"


"Enggak, ibu sudah makan tadi. Nada kok gak ikut makan, kenapa?"


"Kenyang katanya, tadi udah di suapin sama mamah."


Bu Erni menemani menantu makan di dapur. Setelah selesai makan, Daffa langsung kembali masuk ke dalam kamar istrinya.


"Sayang mas, ayo siap-siap malam pertama." Ucap Daffa yang ternyata Nada sudah jauh lelap ke alam mimpi.


Huft.......


Daffa menarik nafas panjang.


"Kasihan, kecapean. Ya tapi aku juga kasihan, mau malam pertama tapi gak jadi."


Mau tidak mau Daffa merebahkan diri di samping istrinya yang sudah tidur.


"Tidur saja cantik banget. Jadi gemes....!"

__ADS_1


Daffa yang jahil mencubit pipi istrinya. Untung saja Nada tidak bangun, jika tidak pasti ia akan terkejut.


__ADS_2