
Hueeek.....hueeek.......
Bukan Kasih melainkan Rangga pagi ini mengalami mual bahkan sampai muntah-muntah. Kasih yang panik langsung keluar dari dalam kamar untuk memanggil ibu mertuanya.
"Mamah,....mamah.....!" Teriak Kasih dari lantai atas.
"Kasih, ada apa?" Tanya bu Hesti panik.
"Mas Rangga mah. Dia muntah-muntah!"
Mendengar hal tersebut bu Hesti dan pak Diman langsung naik ke lantai atas. Begitu juga dengan Yunita dan mamahnya bahkan ada Daffa juga.
"Heh, kau mau apa masuk?" Tegur Kasih yang menghalangi langkah Yunita yang hendak masuk ke dalam kamarnya.
"Minggir, aku ingin melihat Rangga!" Ujar Yunita yang tidak memiliki rasa malu.
"Ini kamar ku, Rangga suamiku dan kalian tidak berhak masuk. Keluar sana!" Usir Kasih kemudian mendorong Yunita lalu menutup pintu kamarnya.
"Ah, sial!" Umpat Yunita kesal.
"Kau yang pembawa sial," ucap Daffa. "Bisa-bisanya mau masuk kamar orang tanpa permisi. Dasar tamu tidak sopan!"
Setelah mengatakan hal tersebut Daffa dengan santainya berlenggang turun.
Yunita dan Desi ikut turun, tidak mungkin mereka menunggu di depan pintu kamar Kasih dan Rangga.
Sementara itu, Rangga yang di bantu sang papah menuju tempat tidur.
"Mas Rangga kenapa sih? Perasaan kemarin baik-baik aja!" Kasih khawatir.
"Aduh, gak usah khawatir apa lagi panik. Suami mu ini ngidam, wajar aja!" Ucap bu Hesti.
"Sayang, mas pengen makan tapi yang masak kamu dan mamah." Pinta Rangga.
"Mas mau makan apa?" Tanya Kasih.
"Apa aja yang penting dari tangan kamu dan mamah!"
Bergegas bu Hesti dan Kasih pergi ke dapur.
"Heleh,...kamu ini ngidam bukan sembarang ngidam. Pasti setiap malam jenguk jalan lahir anak mu kan?" Tebak pak Diman.
"Papah ini kalau ngomong ngasal aja!"
"Heh, Rangga. Papah pernah muda dan papah pernah merasakan apa yang kamu rasakan. Ngaku aja?"
"Udah ah, keluar sana!" Rangga mengusir papahnya sendiri.
Pak Diman mengangkat kedua bahunya lalu keluar dari kamar anaknya.
Sementara itu, Kasih dan bu Hesti yang tengah sibuk menyiapkan bahan masakan di hampir Yunita.
"Di meja makan sudah banyak makanan. Kok tante masak lagi?" Tanya Yunita heran.
"Oh, ini Rangga minta masakin." Jawab bu Hesti.
__ADS_1
Mendengar nama Rangga, Yunita berniat membantu.
"Em, tante. Yunita bantuin ya!" tawarnya.
"Eh, gak usah. Rangga cuma mau makan dari bau tangan mamah dan istrinya."
"Kalau jadi tamu itu, yang sopan." Singgung Kasih.
Yunita hanya diam saja tak berani menyahut karena ada bu Hesti. Hatinya benar-benar dongkol, ia tidak terima di perlakukan seperti ini.
Tanpa banyak bicara Yunita kembali ke meja makan, pagi ini ia hanya sarapan berdua dengan sang mamah tanpa tuan rumah.
Rangga menuruni tangga dengan langkah sempoyongan karena kepalanya masih pusing. Yunita yang melihatnya langsung menghampiri Rangga yang sedang menuruni Rangga.
"Heeeh....berhenti!" Ujar Rangga yang menahan dengan tanganya.
"Rangga, kamu jalan sempoyongan. Aku akan membantu mu!"
"Sana jauh-jauh. Selain istri ku, tidak boleh ada yang menyentuh ku!"
"Rangga, kau ini kenapa sih? Aku hanya ingin membantu mu!"
Hueeek......
Rangga merasa mual lagi.
"Pergi sana, aku mual melihat mu!" Ujar Rangga.
"Rangga, kamu kok gitu sih sama Yunita? Maksud dia baik loh." Ujar Desi membumbui.
Rangga malah memanggil istrinya.
"Rangga, ada aku didekat kamu tapi kenapa kamu malah memanggil perempuan itu sih?" protes Yunita.
Yunita yang hendak menyentuh Rangga langsung di tepis oleh Rangga.
"Sudah ku bilang jangan menyentuh ku!" Bentak Rangga dengan suara tinggi hingga membuat seisi rumah keluar.
"Rangga, kamu kok gitu?" Yunita kesal.
"Mas, ada apa?" Tanya Kasih panik.
"Kamu kenapa Rangga?" Tanya bu Hesti sambil membawa centong sayur.
"Mah, tolong usir mereka. Aku tidak mau melihat mereka ada di rumah ini lagi," ujar Rangga.
"Loh,...loh,....Rangga kamu kok malah seperti ini. Niat Yunita baik loh, dia hanya ingin membantu mu turun." Kata bu Desi membela diri.
"Tante, aku hanya ingin membantu Rangga. Ku lihat Rangga jalan sempoyongan tadi." Imbuh Yunita.
"Pergi....!" usir Rangga dengan sorot mata tajam. "Istri ku masih bisa mengurusku. Pergi dari rumah ku!"
"Jeng,.....!" Bu Desi menghampiri bu Hesti.
"Maaf jeng. Tapi apa yang di katakan Rangga benar, Yunita tidak sopan. Rangga sudah menikah, seharusnya dia tidak bersikap seperti itu." Kata bu Hesti benar-benar membuat Desi geram.
__ADS_1
"Daffa....!" Panggil Rangga.
"Ya bos!" sahut Daffa santai.
"Antar mereka kembali pulang ke asalnya. Aku tidak mau melihat mereka terutama perempuan ini," ujar Rangga seraya menunjuk ke arah Yunita.
Kasih hanya diam saja berdiri di samping pak Diman sambil melipat kedua tangannya.
Mau tidak mau Yunita dan mamahnya kembali pulang ke kota pagi ini. Sumpah serapah keduanya memenuhi mobil hingga membuat Daffa jengkel.
Ciiiit.......
Daffa mengerem mendadak.
"Heh, kenapa kau berhenti?" Tanya bu Desi.
"Sekali lagi kalian berisik, akan ku lempar keluar dari mobil ini. Menyusahkan ku saja!" Omelin Daffa geram.
Yunita dan mamahnya langsung diam.
"Heh Daffa, kok bisa sih Rangga dapat istri orang kampung udik seperti itu?" Tanya Yunita penasaran.
"Wah, sembarangan. Yang kau katain udik kampungan itu calon sarjana," sahut Daffa.
"Heran sama Rangga, perasaan perempuan di kota apa lagi teman-teman perempuannya terutama Yunita itu cantik. Kok mau-maunya nikah sama perempuan kampung dan tinggal di kampung lagi," ucap Desi panjang lebar.
"Cantik aja belum cukup. Rangga udah ngincar Kasih sejak kecil!" ujar Daffa memberitahu hingga membuat Yunita dan mamahnya terkejut.
"Lawak macam apa ini?"
Yunita tertawa, ia mulai ingat jika sejak dulu ia mengejar Rangga tapi tidak bisa dapat.
Daffa tidak menanggapi, ia kembali fokus pada kemudi. Yunita dan mamahnya sebenarnya masih belum terima di perlakukan seperti ini.
Sementara itu, Rangga sekarang sedang asyik menikmati masakan mamah dan istrinya. Tubuhnya sudah kembali segar kembali.
"Rangga, yang tadi itu akting apa beneran?" Tanya Pak Diman yang penasaran karena ia tahu betul jika anaknya ini suka mengerjai orang.
"Ya beneran lah,pah. Masa bohongan!"
"Ah, serius?" Tanya bu Hesti.
"Iya nih mas, gak biasanya loh kamu seperti ini." Timpal Kasih.
"Mas serius sayang, percaya dong!"
"Jadi kasihan sama Daffa. Kamu harus memberinya bonus loh mas," ucap Kasih yang merasa kasihan pada Daffa.
"Iya, bolak balik cuma buat ngantar mereka doang." Imbuh pak Diman.
"Iya, iya...nanti aku beri bonus."
"Mamah pikir mereka akan bertahan seminggu, eh sehari aja langsung pergi."
Bu Hesti tertawa, rasanya geli hati juga melihat kelakuan Rangga yang mengusir tamunya.
__ADS_1