Menikahi Calon Suami Tetanggaku

Menikahi Calon Suami Tetanggaku
Chapter 42


__ADS_3

"Tiap hari ngasih uang segini, mana cukup buat belanja dapur belum lagi bedak, parfum dan yang lain. Nyesel aku nikah sama kamu," ucap Mia yang tak pernah merasa bersyukur.


"Dua ratus ribu itu perhari sudah termasuk besar bagi kita di kampung. Belanja lah sesuai kebutuhan, Mia. Aku belum bisa bekerja, kau tahu sendiri kalau kita wisuda masih beberapa bulan lagi." Sahut Dito kesal.


"Kamu tuh ya, punya orang tua kaya tapi tidak ada gunanya sama sekali. Aku juga pengen beli baju bagus, emas-emasan. Kamu tuh gimana sih? Gak peka banget deh!"


"Heh Mia, kamu minta ini itu tapi gak sadar kalau kamu itu istri yang gak sempurna?"


"Heh Dito!" Sentak bu Wiwin. "Maksud kamu bicara seperti itu pada anak ku apa?"


"Anak ibu ini tidak sadar diri," jawab Dito. "Bagi kita orang yang tinggal di kampung, dua ratus ribu perhari itu sudah cukup. Jika ada kebutuhan lain kan bisa di bicarakan baik-baik. Tapi, anak ibu ini sama sekali tidak bersyukur!"


"Wajar dong si Mia minta uang lebih sama kamu. Dua ratus ribu Zaman sekarang dapat apa? Semua bahan sembako mahal. Tahu apa kamu tentang harga pasar hah?"


"Setiap hari aku hanya makan dengan sayur bening dan goreng tempe tahu kadang telur dadar. Apa? Mending beli di warung, sepuluh ribu aja masih ada kembalian. Kalian ini emang ya, ibu dan anak sama aja!"


Dito yang sudah naik emosi memutuskan untuk pergi. Ini lah yang menjadi alasan Dito tidak betah berada di rumah. Bahkan, sejak Mia keluar dari rumah sakit entah kenapa hasratnya pada Mia telah hilang. Dito belum pernah lagi menyentuh istrinya.


"Kenapa kamu, Dito?" Tanya Fandi, salah satu teman Dito.


"Nyesal aku nikah sama Mia. Niat nikah cuma bikin Kasih cemburu eh malah sekarang aku yang kena sial!"


"Makanya, jadi orang itu gak usah jahat. Lagian kau dan Mia sudah pacaran lama. Karma tuh udah ngeduain Kasih!"


"Rumah mertua terasa seperti neraka jahanam. Udah bawel, cerewet gak bersyukur lagi. Heran sama keluarga pak Rahman."


"Heh Dito, kalau aku jadi kamu, mending cerai sama si Mia. Pergi ke kota cari istri baru lagi." Sahut Beni, taman Dito.


"Gak usah cari istri lagi, mending selingkuh aja. Biar tahu rasa tuh Mia!" Ujar Fandi yang ikut kesal.


"Kalian ini gila semua!" Seru Dito.


Setiap hari begini lah keseharian Dito. Jika pagi pria ini membantu usaha sang ayah mengantar hasil kebun ke pengepul jika siang ia akan melakukan kuliah online dan jika sore sampai malam akan nongkrong bersama teman-temannya.


Lain hal nya dengan Kasih yang sore ini sangat ingin makan tahu gejrot. Permintaan yang mendadak membuat Rangga bingung kemana ia akan mencari makanan yang belum pernah Rangga makan itu.


"Lagian, kamu tuh lihat di mana makanan seperti itu?" Tanya Rangga heran.


"Tadi aku lihat ftv pagi di televisi. Kok sepertinya enak makan tahu gejrot. Mas, aku pengen makan itu." Rengek Kasih.


"Mas cari di mana sayang? Mas juga gak pernah makan tahu gejrot."


"Ya gak tahu, pokoknya aku mau makan tahu gejrot!"

__ADS_1


"Kalau kamu yang mas gejrot bagaimana?" Goda Rangga.


"Mas,....!!" Kasih yang geram mencubit lengan suaminya.


"Kalau gak ada ya bikin sendiri. Bahan utama juga tahu. Gampangkan?"


"Ya udah, mas ngomong sama bibi untuk buatin tahu gejrot dulu."


"Gak mau, maunya kamu yang buat kalau gak mas beli aja di luar!"


Huft,....


Rangga hanya bisa menghembuskan nafas kasar. Demi istri tercinta pria segara pergi ke dapur untuk membuat pesanan sang istri. Tidak lupa sebelum membuat tahu gejrot, Rangga berselancar di mbah google untuk mencari resep.


"Oh, gampang!" Ucap Rangga sombong.


Setelah mengutak atik selama setengah jam di dapur, Rangga sudah selesai. Pria ini membawa satu mangkuk tahu lengkap dengan kuah siramnya ke ruang keluarga.


"Sayang,....udah selesai." Ujar Rangga.


"Lah, kok beda mas?" Protes Kasih.


"Apanya yang beda?"


"Kok hancur begini tahunya?"


"Gak yakin deh!"


"Udah, cepat makan. Icipi dulu!"


Dengan perasaan ragu Kasih menyendok satu suapan lalu di masukan ke dalam mulut.


"Loh, kok rasanya begini mas?" Tanya Kasih heran.


"Ya mana mas tahu. Mas gak pernah makan!"


"Pedes sih ok, tapi kok warnanya hitam banget?"


"Oh ini, di dapur gula aren nya habis jadi mas inisiatif pake kecap!" Jawab Rangga dengan polosnya.


Seketika wajah Kasih cemberut.


"Ya pantesan beda rasa. Gak mau makan ah, rasanya aneh begini."

__ADS_1


"Heh, perasaan ribut-ribut terus sejak tadi. Ada apa?" Tanya pak Diman yang ternyata kamarnya berada di dekat ruang keluarga.


"Iya ih, ada ada apa?" Sambung bu Hesti.


"Kasih pengen makan tahu gejrot mah. Karena aku gak tahu belinya di mana, ya udah aku inisiatif bikin sendiri." Jawab Rangga.


"Masa kuahnya pake siraman kecap mah?" Ujar Kasih.


"Ya gak lah. Pasti beda rasanya," sahut bu Hesti. "Di depan sana, dari gerbang komplek belok kanan maju sekitar seratus meter di bawah pohon besar itu biasanya ada yang mangkal jualan tahu gejrot." kata bu Hesti memberitahu anaknya.


"Rangga-Rangga,...makanya kalau apa-apa itu tanya sama orang tua kalau gak tahu!" Cibir pak Diman.


"Ayo beli mas!" Rengek Kasih yang masih ingin makan tahu.


"Kalau tahu sejak tadi mending beli aja. Heran, kenapa baru di kasih tahu sih?" Protes Rangga.


"Ya kamunya gak tanya. Salah sendiri." Ucap Hesti ikutan kesal.


"Sayang, kamu tunggu mas sebentar ya. Mas beli dulu, bilang sama anak kita, SABAR!" Ucap Rangga dengan menekan ucapannya.


"Papah satu ya, Rangga!" Ujar pak Diman.


"Mamah juga!" Imbuh bu Hesti. "Jadi pengen, eeem,.....pasti ini bawaan cucu pah!"


"Iya mah, sepertinya begitu."


"Jadi rindu mengidam!" Kata bu Hesti.


"Eh, emang bisa begitu ya mah?" Tanya Kasih heran.


"Ya bisa dong, mamah kan calon neneknya!"


"Eh mah, kalau sudah punya cucu itu artinya kita sudah tua ya...?" Ujar pak Diman lalu pasangan suami istri ini tertawa.


Kasih itu tertawa mendengar candaan mertuanya ini. Di bilang tidak lucu tapi mereka tertawa.


"Aku yakin kelakuan mas Rangga pasti turunan dari papahnya," ucap Kasih dalam hati.


"Kasih,...!!" Tegur bu Hesti.


"Eh, iya mah. Ada apa?" Tanya Kasih gugup.


"Jangan melamun dong, ayo ketawa!" Ujar bu Hesti yang masih sibuk bercanda dengan suaminya.

__ADS_1


Hehe hahahaha......


Dengan terpaksa Kasih tertawa, agar kedua mertuanya ini merasa senang.


__ADS_2