Menikahi Calon Suami Tetanggaku

Menikahi Calon Suami Tetanggaku
Chapter 51


__ADS_3

"Ehem,...ada calon istri. Tumben datang kemari, ada apa?" Tanya Daffa yang salah tingkah saat melihat kedatangan Nada ke rumah kakak iparnya.


"Mau nganterin ini mas," jawab Nada seraya mengangkat bungkusan plastik.


"Wah, buat mas ya....? Ya ampun, calon istri baik banget!" Daffa langsung mengambil bungkusan yang di tangan Nada.


"Ini pesanan mas Rangga, bukan untuk mas Daffa!" Jawab Nada membuat ekspresi Daffa berubah datar apa lagi Rangga yang mendengar semua ucapannya langsung tertawa.


"Makanya, kalau jadi manusia gak usah percaya diri banget. Kena batunya jadi malu sendiri," ucap Rangga mencibir.


"Mas, apaan sih?" Kasih mencubit lengan suaminya.


"Nada pamit pulang dulu. Kata ibu jangan lama-lama!"


Gadis ini pun pamit pulang, Daffa yang kesal hanya bisa duduk diam dengan hati sebesar buah semangka.


Rangga mengajak istrinya pergi ke taman samping untuk menikmati pesanan Rangga tadi siang.


Sementara itu, Dito tiba-tiba saja datang ke rumah Mia dengan membawa surat dari kantor pengadilan agama.


Mia yang tidak terima langsung merobek-robek surat surat tersebut.


"Tega kamu, kamu jahat!" Ucap Mia dengan isak tangisnya.


"Selama ini aku sudah setia sama kamu tapi kenapa kau tega menikah diam-diam di belakang ku?"


"Di banding aku, kau jauh lebih jahat." Sahut Dito. "Selama menjadi istri ku, apa kau pernah bersikap baik pada ku? Menghargai dan melayani ku layaknya seorang istri? Yang ada kau malah menghina ku bahkan mencemooh setiap hari. Belum lagi ibu mu yang selalu ikut campur dan menyalahkan ku!" Tutur Dito panjang lebar.


Mia hanya bisa menangis.


"Tapi gak gini juga caranya Dito. Kau mamadu ku!"


"Kau sendiri yang menantang ku." Sahut Dito. "Apa kau lupa jika kau pernah menyuruh ku untuk mencari perempuan yang bisa mengurus ku dalam segala hal?"


"Dito, aku.....!!"


"Ah, sudahlah Mia. Lagian kita menikah waktu itu hanya untuk membuat Kasih cemburu saja. Aku tidak mencintaimu lagi. Perceraian adalah jalan satu-satunya untuk hubungan kita!"


"Aku gak mau jadi janda. Setelah aku tidak bisa memiliki anak, kau mencampakkan aku begitu saja?"


"Aku selalu memberi mu kesempatan untuk berubah. Tapi, kau selalu merendahkan aku. Menyumpahi bahkan selalu menghina ku, apa pun yang aku berikan pada mu tidak pernah kau anggap ada. Kau dan Arum berbeda, dia perempuan sederhana yang selalu bersyukur bahkan dia dengan senang hati mengurus diriku."


"Dito, pikirkan lagi dong!" Ujar bu Wiwin meminta.


"Tidak bisa!" Tolak Dito. "Kedua orang tua ku juga sudah sepakat menyuruh ku untuk bercerai dari Mia."

__ADS_1


Dito kemudian pergi, pria ini sama sekali tidak memperdulikan Mia yang saat ini sedang menangis histeris.


Bu Wiwin hanya bisa menenangkan anaknya. Mau bagaimana lagi? Semua sudah terjadi.


Keesokan harinya, Daffa merasa senang saat Rangga dan Kasih mengajak dirinya pergi ke rumah bu Erni. Ini adalah satu kesempatan bagi Daffa untuk melihat Nada.


"Ehem,....!" Daffa berdehem. "Ya ampun, calon istri ku rajin banget. Pagi-pagi udah jemur baju aja!"


"Heh,...heh......!!" Rangga menendang kaki Daffa.


"Ibu mana?" Tanya Kasih pada adiknya.


"Ada di dapur, lagi masak." Jawab Nada.


Kasih berjalan masuk ke dalam rumah sedangkan Rangga dan Daffa duduk di teras rumah.


Sorot mata Rangga tajam saat melihat seseorang membuka pagar rumah bu Erni.


"Belum juga sarapan, udah ada yang bikin masalah aja!" Ujar Rangga.


"Siapa?" Tanya Daffa heran.


"Tuh,.....!!" Rangga menunjuk ke arah Mia yang berlenggang santai.


"Apa urusan mu mencari istri ku?" Tanya Rangga dengan wajah dingin.


"Ini orang gak ada habis-habisnya cari masalah. Sana pergi...!" Usir Nada.


"Heh,...gara-gara mbak mu itu, rumah tangga ku hancur berantakan." Ucap Mia yang selalu menyalahkan Kasih.


"Apaan sih? Gak jelas banget!" Sahut Nada.


"Pergi sana,....!" Usir Rangga.


"Heh Rangga.Sebentar lagi kau dan keluarga mu itu akan menerima karma karena keluarga mu sudah tidak amanah menepati janji."


"Pergilah....!" Sekali lagi Rangga mengusir. "Kau masuk ke halaman orang dan membuat keributan bisa saja aku melaporkan mu ke polisi." Ancam Rangga.


"Kehidupan keluarga mu sekarang adalah balasan atas perbuatan kalian sendiri. Kenapa harus menyalahkan aku?"


Kasih baru saja keluar dari dalam rumah.


"Dito menceraikan aku, semua gara-gara kau!" Mia menunjuk wajah Kasih.


"Dito menceraikan kau karena sikap mu sendiri. Dito yang menikah lagi kenapa aku yang di salahkan?"

__ADS_1


"Lucu banget makhluk satu ini," cibir Daffa.


"Cepat pergi sana!" Usir Rangga yang jengah.


Mia mendengus kesal, wanita ini langsung pulang.


"Biarin aja, gak usah di urusin. Kalian sarapan dulu," ujar bu Erni.


Nada menggelar tikar, ia dan ibunya mulai sibuk mengangkut makanan dari dapur.


"Calon mantu bantuin ya bu," ucap Daffa dengan senyum lebarnya.


Seketika sorot mata tajam Rangga mengikuti setiap langkah Daffa.


"Ya ampun, sarapan pagi menggelar tikar di tambah pemandangan indah seperti ini. Di kota mana ada!" Ucap Daffa.


"Bisa diam gak?" Sentak Rangga.


"Mas, udah deh. Biarin aja, heran sama kamu suka banget ganggu!" Kasih menegur suaminya.


"Suami mu ini tidak bisa melihat orang bahagia. Mau nya dia aja yang bahagia, orang lain jangan!" Sahut Daffa kesal.


"Sekali lagi bicara akan ku kirim kau kembali ke kota!" Ancam Rangga.


"Kalian ini ribut mulu, menghadap rezeki itu jangan bertengkar nanti rezeki takut datang," ucap bu Erni langsung membuat Rangga dan Daffa terdiam.


Mereka makan bersama-sama, bahagia sekali jika di lihat. Rangga yang berasal dari keluarga kaya dan terpandang mau duduk di bawah makan bersama-sama.


Selesai makan mereka duduk-duduk di teras sebentar sebelum akhirnya Rangga dan Daffa harus pergi ke pabrik.


"Kamu mau kemana?" Tanya Kasih pada adiknya.


"Mau ke sekolah mbak, ada yang mau di urus." Jawab Nada.


"Oh, minggu depan kamu sama mas Rangga akan pergi ke kampus. Jangan lupa siapkan semua berkas, di cek lagi takut nanti ada yang kurang."


"Iya mbak," jawab Nada.


Nada pergi, Kasih dan ibunya masuk ke dalam rumah.


Kabar Dito, pria ini merasa lega setelah ia bisa lepas dari Mia. Pria ini benar-benar menyesal sudah menikah dengan Mia.


Tidak ada yang menyalahkan Arum, bahkan semua orang mendukung keputusan Dito yang menikahi Arum dan menceraikan Mia.


Rasa-rasanya sudah tidak ada tempat lagi bagi Mia dan bu Wiwin untuk tinggal di kampung ini. Mereka mulai sibuk mencari orang yang mau membeli rumah beserta tanah mereka.

__ADS_1


__ADS_2