
"Lihat tuh bu, Kasih udah pulang dari kota!" Ujar Mia memberitahu ibunya.
Perempuan ini mengintip dari lubang kecil tembok yang sengaja di bolongi.
"Kerjaan jalan-jalan melulu. Senangnya memanfaatkan harta keluarga Raharja aja!" Bu Wiwin menggerutu.
"Hamil kok senangnya berpergian. Aku sumpahin keguguran sama seperti aku!" Mia mendoakan hal buruk untuk Kasih.
"Kalau perlu nyusul bapaknya sekalian!" Sahut bu Wiwin.
Mereka terus mengintip, hingga akhirnya mereka di kejutkan dengan suara Dito yang tanpa mereka sadari sudah pulang sejak tadi.
"Susah ya kalau punya penyakit hati. Orang gak ganggu aja kalian sumpahi," ucap Dito seraya menggelengkan kepala.
"Diam kamu!" Sentak bu Wiwin.
"Aku sebenarnya sudah tidak tahan lagi dengan kalian. Mia, ada baiknya kita bercerai!"
"Kalau ngomong seenak jidat bapak mu. Kau yang membuat anak ku sampai tidak bisa memiliki anak lagi dan sekarang kau mau menceraikan Mia. Di mana hati mu?" Bu Wiwin menolak, ia tidak terima jika anaknya menjanda di usia muda.
"Iya, kau yang sudah menyebabkan aku hingga membuat aku tidak bisa memiliki keturunan. Enak aja mau menceraikan aku. Tidak bisa!" Tolak Mia.
"Jika kau tidak mau bercerai, setidaknya hargai aku. Bersikaplah lebih baik dan jangan suka mengurusi kehidupan orang lain. Gak capek apa?"
"Kasih yang mulai, dia sudah merebut segalanya dari ku!" Ucap Mia benar-benar membuat Dito stres.
"Kasih tidak pernah menyakiti mu, kalian saja yang selalu mengusik keluarganya!"
"Bela aja terus mantan kamu itu...!" Ujar Mia tidak terima.
"Sifat mu terlalu keras Mia. Meskipun kau menikah dengan banyak lelaki, kau pasti tidak akan pernah mendapatkan kebahagiaan."
"Tahu apa kau tentang kebahagiaan?" Tanya Mia dengan suara keras. "Sudah mencukupi ku belum? Sudah memberikan ku apa hah?"
"Dasar manusia tidak bersyukur. Setiap hari kau, ku beri uang. Kau minta ini itu sebisa mungkin aku turuti, tapi apa? Apakah kau mengurus ku? Makan minum ku? Pakaian ku atau menurut dan patuh pada ku?"
"Kau ini berani membentak anak ku. Mia bukan pembantu mu, jika kau mau cari istri seperti itu bukan Mia orangnya. Enak aja anak ku cantik-cantik begini mau kau jadikan pembantu!"
"Sana cari perempuan yang mau dengan laki-laki pelit seperti mu. Aku bukan pembantu mu, cari aja perempuan yang mau memasak dan mencuci pakaian mu!"
Dito tertawa sarkas mendengar ucapan Mia dan ibunya.
"Lihat saja nanti....!!" Batin Dito kemudian pria ini memutuskan untuk pergi.
__ADS_1
Mia dan ibu nya terus mengeluarkan sumpah serapahnya untuk Dito.
Hari telah berganti, kehidupan desa tampak damai tak ada yang membuat keributan. Rasanya sepi juga, ibu-ibu yang biasa ada bahan untuk bergosip sekarang tidak ada.
"Seharusnya aku membeli satu bidang tanah di desa untuk masa tua ku bersama Nada," ucap Daffa saat berjalan-jalan di perkebunan dengan Rangga.
"Berani macam-macam akan ku jadikan kau tumbal pabrik!" Ancam Rangga.
"Keluarga mu menggunakan pesugihan?" Tanya Daffa tiba-tiba merinding.
"Enak aja!" Bantah Rangga, "kau tahu sendiri jika perkebunan jeruk beserta pabriknya peninggalan dari kakek buyut ku!"
"Tadi kau mau menumbalkan aku!" Ujar Daffa.
"Itu jika kau berani macam-macam pada adik ipar ku. Lumayan lah menumbalkan kau sama aja menumpuk harta kekayaan ku!" Sahut Daffa bercanda.
"Eh, gadis desa cantik-cantik ya. Apa lagi yang kerja di pabrik tadi," ucap Daffa membuat Rangga geram.
"Wah, mata mu ini harus di congkel lalu di kubur di perkebunan ini biar subur!"
"Mulut bajingan satu ini membuat ku geli saja. Hai, mau kemana kau Rangga?"
Rangga mempercepat langkahnya.
"Istri ku minta bawakan buah jeruk langsung dari pohonnya. Tolong bantu petik...!"
Sore ini Kasih yang sedang berjalan-jalan santai bersama adiknya di sapa oleh beberapa orang warga. Kata orang, saat hamil sering berjalan kaki akan mempermudah proses melahirkan.
"Sudah berapa bulan Kasih?" Tanya seorang tetangga.
"Jalan empat bulan bu," jawab Kasih dengan senyum ramahnya.
"Wah, sehat-sehat ya!"
"Iya bu, terimakasih!"
Tiba-tiba saja Mia yang sedang mengendarai motornya berhenti tepat di samping Kasih.
"Ya ampun, jalan-jalan santai katanya tapi kok pake emas seperti toko emas berjalan." Singgung Mia.
"Heh Mia, kamu ini kenapa sih? Bawaannya syirik aja!" Sahut bu Mawar, tetangga Kasih.
"Iya nih, suka-suka Kasih lah mau pakai emas atau rantai kapal sekalian." Imbuh bu Marni.
__ADS_1
"Yang beliin suaminya kok kamu yang repot!" Timpal bu Julaiha.
"Maklum bu, ini si Mia kalau tetangganya beli kipas angin dia yang muter-muter. Panas hatinya!" Sahut Nada membuat semua orang tertawa.
Mia yang merasa di permalukan langsung mencap gas.
Kasih dan Nada memutar haluan berniat untuk pulang karena hari sudah semakin sore.
Belum sempat membuka pintu gerbang, kakak beradik ini di hadang oleh Mia dan Ibu Wiwin.
"Mau apa?" Tanya Kasih.
"Berani-beraninya kamu mempermalukan anak ku. Sudah merasa jago kamu?" Ujar bu Wiwin.
"Dasar manusia sakit jiwa!" Ucap Nada. "yang mulai duluan anak situ kok kami yang di salahkan aneh!"
"Heh Nada. Yang sopan kamu sama orang tua!" Bentak Mia.
"Tidak perlu sopan pada kalian," sahut Nada.
"Sudahlah bu, kami tidak pernah mengusik kalian. Kenapa kalian suka mengusik kami?" Ujar Kasih yang sudah merasa lelah.
"Kalau kalian mau hidup tenang, kamu....!!" Tunjuk bu Wiwin. "Gugur kan anak mu dan ceraikan Rangga. Dia milik Mia, bukan milik mu. Dasar pencuri...!"
"Dasar pencuri calon suami orang!" Imbuh Mia.
Nada yang sudah kesal dan geram menjadi satu langsung menjambak rambut Mia. Pertengkaran tidak terelakan lagi.
Bu Erni yang baru saja pulang dari toko kue nya langsung turun dari motor untuk melerai anaknya yang sedang bertengkar dengan Mia.
Saat bu Erni hendak menarik Nada agar menjauh, bu Wiwin malah menjambak rambutnya.
Kasih mundur, ia tak berani melerai karena takut jika kandungan kenapa-kenapa.
Para tetangga mulai ramai berdatangan untuk memisah keempat orang ini.
Rangga dan Daffa yang baru saja pulang terkejut saat melihat di depan rumah mertuanya ramai orang.
Rangga langsung melompat dari atas motor untuk mencari istrinya. Begitu juga dengan Daffa yang membantu memisahkan Nada dan Mia.
Daffa langsung menggendong Nada sedikit menjauh dari Mia.
"Lepas mas,...lepaskan aku!" Ujar Nada. "Itu mulut si minyak jelantah harus di robek!"
__ADS_1
"Udah, gak usah!"
Mia yang seolah menantang membuat emosi Nada semakin tersulut. Gadis ini hendak berlari menghantam Mia tapi dengan cepat Daffa menggendongnya ke pundak lalu mengajak Nada masuk ke dalam rumah.