Menikahi Calon Suami Tetanggaku

Menikahi Calon Suami Tetanggaku
Chapter 40


__ADS_3

"Tadi malam Yesi, sekarang Finda. Heran sama teman-temannya Rangga, kenapa pada datang ke rumah kita?" Pak Diman menggelengkan kepala.


"Udah ah, jangan ngomel. Yuk samperin," ajak bu Hesti.


Melihat bu Hesti dan pak Diman yang memasuki ruang tamu, Finda langsung berdiri lalu menyapa kedua orang tua Rangga.


"Tumben ke sini, ada apa?" Tanya pak Diman tanpa basa basi.


Finda tersenyum tipis.


"Finda mau cari Rangga om, tante. Udah lama juga gak ketemu sama Rangga, kok tiba-tiba menghilang gitu."


"Ada keperluan apa sama Rangga?" Tanya bu Hesti penasaran.


"Gak ada kok tante. Tadi pagi Finda ke kantor Rangga tapi kata karyawan di sana, Rangga udah lama gak masuk ke kantor. Finda khawatir, makanya Finda datang kemari." Jelas wanita cantik itu. "Kalau bisa, Finda mau ketemu sama Rangga."


"Rangga gak ada!" Ucap pak Diman singkat.


"Kalau boleh tahu, kemana ya om?"


"Rangga tinggal di rumah istrinya di kampung," bu Hesti.


Sama seperti Yesi, Finda juga terkejut saat mendengar Rangga sudah menikah.


"Rangga sudah menikah?" Tanyanya tidak percaya.


"Rangga sudah lama menikah dengan gadis cantik di kampung," jawab pak Diman tidak menutupi.


"Dan sekarang istrinya sedang hamil. Iya kan pah?" Ujar bu Hesti.


"Masa sih Rangga udah nikah? Sama gadis kampung lagi. Kok selera Rangga turun banget?" Finda benar-benar tidak percaya.


"Selera turun bagaimana?" Tanya pak Diman tidak suka. "Menantu kami cantik, baik dan sebentar lagi juga sarjana!" Pak Diman memuji menantu kesayangannya.


Finda tersenyum tipis untuk sekedar membuang rasa malunya. Wanita ini pun pada akhirnya berpamitan dan untuk pulang.


"Aku penasaran, secantik apa sih perempuan kampung itu? Kok bisa Rangga yang ganteng dan kaya malah kepincut perempuan seperti dia?"


Finda memutar kemudinya, wanita ini memilih pergi ke kantor Rangga untuk mencari Daffa. Finda yakin jika Daffa pasti tahu tentang Rangga.


Sementara itu, Rangga yang sedang menikmati kebersamaan dengan sang istri belum tahu jika ia sedang di cari dua orang perempuan yang mengaku teman dekat Rangga.


"Mas, kenapa mas lebih memilih tinggal di desa seperti ini? Mas kan anak kota!"


"Enak tinggal di desa sayang. Udaranya masih alami beda dengan kota yang ramai dengan hiruk pikuk kendaraan."

__ADS_1


"Tapi, di kota semua ada."


"Yang ada di kota belum tentu ada di desa. Yang ada di desa belum tentu ada di kota, contohnya kacang rebus ini. Baru di panen langsung di rebus." Ujar Rangga yang sejak tadi sibuk mengupas kacang rebus untuk istrinya.


"Bisa aja kamu mas," ucap Kasih tertawa. "Kalau lahiran nanti rencananya gimana mas?"


"Lahiran di kota aja. Mas ingin rumah sakit yang berkualitas karena mas ingin memberikan yang terbaik untuk kamu dan anak kita."


"Terimakasih ya mas," ucap Kasih.


Kehamilan Kasih tidak begitu rewel, hanya sesekali ia mengidam.


"Udah ah mas, ngupas kacangnya." Kata Kasih.


"Kenapa?"


"Kata orang tua, jangan banyak-banyak makan kacang. Nanti jerawatan!"


"Mitos, jangan percaya!"


"Ah, masa sih mas?"


"Kalau makan sesuatu itu jangan takut ini lah itu lah. Tapi niatkan aja untuk kenyang. Jangan lupa bersyukur!"


"Bisa aja kamu ini mas," ucap Kasih kembali tertawa lagi.


"Gak deh mas, sejak hamil kalau naik mobil kepala ku suka pusing." Tolak Kasih.


"Ya udah, gak usah. Mas gak lama kok, cuma satu hari aja."


"Iya mas. Aku mengerti."


"Udah malam, ayo tidur." Ajak Rangga.


Sejak Kasih di nyatakan hamil, Rangga tidak berani meminta pada sang istri karena takut menyakiti anaknya. Apa lagi terakhir bermain, Rangga begitu ganas memangsa istrinya di atas ranjang.


Malam telah berganti pagi, Kasih yang semula tidak mau ikut kali ini terpaksa ikut atas permintaan bu Hesti yang ingin mengajak Kasih untuk memeriksakan kandungan menantunya itu.


Rangga sebenarnya khawatir melihat keadaan Kasih yang sejak tadi menahan pusing di kepalanya.


"Kita berhenti dulu ya sayang."


Rangga menepikan mobilnya di salah satu minimarket. Pria ini membantu istrinya turun dari mobil lalu mereka duduk-dukuk di kursi yang sudah di sediakan minimarket tersebut.


"Mas beli minuman dingin dulu," ujar Rangga kemudian bergegas masuk ke dalam.

__ADS_1


Tak berapa lama Rangga keluar dengan membawa dua botol minuman dingin dan roti.


"Mas, istrinya kok kampungan banget sih. Masa naik mobil sebagus ini mabuk!" Celetuk salah seorang pengunjung minimarket yang sama-sama duduk di sana.


Rangga menatap tajam ke arah dua orang perempuan yang mengatai istrinya.


"Wajar jika istri ku mabuk. Dia sedang hamil," ucap Rangga membuat wajah kedua perempuan itu pias menahan malu. "Mbak, kami tidak kenal dengan kalian tapi kok bisa-bisanya berani mengomentari hidup orang lain. Sekolah di mana mbak?"


Rangga geram.


"Mas, udah ah. Jangan di tanggepin, bisa gila kita. Ayo lanjut lagi."


Kasih menarik tangan suaminya masuk ke dalam mobil sedangkan kedua perempuan itu hanya bisa menunduk malu.


Setelah sekian lama melakukan perjalanan dari desa ke kota dengan beberapa kali berhenti, akhirnya Kasih bisa bernafas lega juga. Mereka tiba di rumah kedua orang tua Rangga.


"Aduuuh,....nak. Kasih ayo istirahat sayang." Bu Hesti yang khawatir langsung mengatakan Kasih ke kamar. "Pah, minta tolong bilangin sama bibi untuk membuatkan Kasih teh hangat."


"Iya mah," jawab pak Diman yang begitu penurut. Pria paruh baya ini pergi ke dapur setelah mengabarkan pesanannya, pak Diman kembali lagi ke luar.


Rangga yang baru masuk ke dalam rumah dengan membawa barang mereka langsung di ajak pak Diman bicara.


"Hati-hati kamu Rangga, berani menyakiti istri mu akan papah tendang kamu." Ucap pak Diman membuat Rangga bingung.


"Gimana sih pah maksudnya? Aku menyakiti Kasih bagaimana?" Tanya Rangga tidak mengerti.


"Malam kemarin Yesi datang ke rumah mencari kamu. Besoknya lagi Finda. Besok siapa lagi?"


"Ngapain juga mereka ke sini, aneh!"


"Awas aja kamu macam-macam. Papah jadikan kamu tumbal pabrik nanti," ancam pak Diman yang bercanda.


"Apa sih pah? Aku mencintai istri ku, mana mungkin aku berani menyakiti dia."


"Awas kamu, papah pantau kamu!" Pak Diman menunjuk wajah anaknya. "Sana masuk!"


Rangga pun bergegas masuk menyusul istrinya.


"Itu calon kakek galak bener. Sensitif banget!" Gerutu Rangga sambil menaiki anak tangga.


"Huiii......!!" Panggil pak Diman dari lantai bawa. Rangga menghentikan langkahnya lalu menoleh ke arah bawah.


"Ada apa pah?" Tanya Rangga.


"Jangan coba-coba kamu mengomel di belakang papah!"

__ADS_1


Tidak menanggapi, Rangga kembali melanjutkan langkahnya.


__ADS_2