Menikahi Calon Suami Tetanggaku

Menikahi Calon Suami Tetanggaku
Chapter 66


__ADS_3

"Aku mual,....!" Ucap Rangga saat melihat istrinya yang terbaring di ranjang persalinan.


"Aduh, pak. Yang kuat, ini anaknya loh yang mau lahir." Ujar Dokter yang menangani persalinan Kasih.


Kasih yang sedang berjuang melahirkan anaknya sudah tidak peduli lagi pada suaminya yang mual atau apa lah. Ia menggenggam tangan Rangga dengan begitu erat hingga membuat tubuh Rangga gemetaran.


"Gak, aku gak kuat....!" Ujar Rangga yang melangkah mundur tapi ia malah melihat kepala anaknya tepat berada di lubang rahim istrinya.


Mata Rangga terbelalak, wajahnya merah padam bahkan tubuhnya kaku.


"Ayo bu, sekali lagi tarik nafas...hembuskan.....!"


Owek....owek.......


Terdengar tangis bayi, saat itu pula Rangga mendadak pingsan.


"Aduh, kok bapaknya malah pingsan?"


Dokter tersebut tertawa geli.


"Mas, kok malah pingsan? Bukannya bantuin malah tidur di lantai," ucap Kasih dengan nafas lelahnya.


"Jangan di pikirin bu," ucap Dokter, "ibu yang tenang karana saya akan melakukan pembersihan."

__ADS_1


Untuk beberapa saat Dokter melakukan tugasnya. Setelah Kasih sudah bersih dan terlihat normal, ia di pindahkan ke ruang rawat yang sudah di pesan sebelumnya.


"Loh, Kasih. Di mana suami kamu?" Tanya bu Hesti yang tak melihat anaknya keluar dari ruang persalinan.


"Pingsan di dalam bu," jawab Dokter mewakili Kasih.


"Pah,....aduh.....!" Bu Hesti dan yang lain malah panik memikirkan nasib Rangga.


Pak Diman dan Daffa langsung masuk ke dalam ruang persalinan langsung membopong tubuh lemas Rangga.


"Di mana istriku?" Tanya Rangga dengan keadaan lemah.


"Sudah di pindah ke ruang rawat." Jawab pak Diman.


"Kau ini, bukannya memberi semangat Istri mu malah milih rebahan di lantai," ucap Daffa lalu menggelengkan kepala.


Mereka merebahkan Rangga di sofa, semua orang langsung menghampiri Rangga untuk melihat keadaannya.


"Rangga, bangun. Itu anak kamu udah lahir."


Bu Hesti mengguncang tubuh anaknya.


"Anu mah, lebar, besar ada kepala dan ada darah." Ucap Rangga yang tidak sadar.

__ADS_1


"Mas,....!" Panggil Kasih, "mas anak kita sudah lahir."


Rangga belum sadar juga.


"Wah, ini kesambet ini." Ujar pak Diman.


"Nah ini nih, jenis seperti Rangga ini menyaksikan istrinya melahirkan secara langsung. Kelak dia tidak akan berani melawan ibu dan tidak akan menyakiti istrinya karena dia tahu bagaimana perjuangan mengeluarkan kepala bayi." Tutut bu Santi.


"Udah, biarin aja dulu. Nanti juga sadar sendiri." Timpal bu Erni.


"Kasih, kok bisa pingsan?" Tanya Daffa penasaran.


"Mas Rangga bilang mual, pusing. Eh pas mundur kebelakang, langsung pingsan." Jawab Kasih yang masih lemah.


"Rekam dulu ah, buat jadi jaminan." Ujar Daffa yang mengambil kesempatan.


Semua orang hanya bisa menggelengkan kepala melihat kelakuan Daffa.


Bukannya menangis haru dan bahagia atas kelahiran sang anak, Rangga malah pingsan saat melihat anaknya keluar dari rahim istrinya.


Mata Rangga memang terbuka, tapi tubuhnya lemas tak berdaya. Jangankan untuk memegang gelas, menyentuh saja tak terasa.


Bayangkan darah dan bayi keluar terus menari-nari di kelopak mata Rangga.

__ADS_1


Rangga tiba-tiba saja menangis, tentu saja hal ini membuat keluarganya semakin panik terutama Kasih.


Dokter yang memeriksa keadaan Rangga pun tak dapat berbuat banyak. Rangga hanya syok saat melihat proses kelahiran anak pertamanya.


__ADS_2