Menikahi Calon Suami Tetanggaku

Menikahi Calon Suami Tetanggaku
Chapter 71


__ADS_3

Kabar Mia, wanita sampai dengan sekarang belum mendapatkan pekerjaan. Beberapa bulan ini Mia dan ibunya memenuhi kebutuhan dari hasil penjualan toko sembako yang kadang ramai kadang sepi karena tempat tinggal mereka berada di pinggir kota.


"Ternyata cari kerja zaman sekarang susah juga. Apa lagi status yang sekarang membuat orang jadi memandang ku sebelah mata," ucap Mia dengan wajah lesu.


"Mau bagaimana lagi, sudah nasib kita seperti ini."


"Ku lihat Nada kemarin menikah. Padahal bocah itu baru aja lulus sekolah," ujar Mia memberitahu.


"Ah, sudahlah. Jangan mengurusi orang. Ibu udah malas, ujung-ujungnya kita juga yang kena."


"Ibu gak jenguk bapak?" Tanya Mia karena sudah hampir satu bulan ibunya tidak menjenguk pak Rahman.


"Rencananya besok. Ada yang mau ibu omongin sama bapak."


"Ngomong apa?" Tanya Mia penasaran.


"Tanah kita di kampung masih satu bidang. Lumayan luas, sekitar lima hektar. Rencananya ibu mau jual dua hektar, buat memperbesar usaha kita."


"Ibu yakin?" Tanya Mia.


"Mau gimana lagi? Kita harus merenovasi ruko, biar pembeli mau belanja di tempat kita."


"Terserah ibu lah. Aku mau istirahat!"

__ADS_1


Di tempat baru ini, Mia dan bu Wiwin tidak begitu akrab dengan tetangga apa lagi rumah yang menjadi satu dengan ruko berada tepat di pinggir jalan.


Di sisi lain, kehidupan rumah tangga Dito dan Arum terlihat sangat bahagia apa lagi saat ini Arum tengah mengandung anak pertama mereka.


Sampai dengan hari ini Dito tidak pernah lagi mendengar kabar tentang Mia, sang mantan istri.


Kembali ke keluarga Kasih, siang ini setelah acara besar kemarin suasana rumah kembali sepi, tidak seramai kemarin.


Bu Santi yang hobi bicara terus menceritakan pengalaman di masa muda pada besannya.


"Lihatlah kedua janda ini, tampak akrab sekali." Tegur Daffa.


"Mas, ih...kamu ini gak sopan!" Tegur Nada yang tidak terima.


"Bener mas?" Tanya Nada menggoda suaminya.


"Gak ada, mamah bohong tuh!"


"Udah ah, sana pergi. Jangan ganggu orang tua!" Usir bu Santi.


Daffa mengajak Nada masuk ke dalam kamar, dengan santai Daffa merebahkan diri di atas ranjang yang menghadap jendela dengan pemandangan sawah milik warga.


"Sayang, nanti malam kalau belah duren jendelanya di buka aja ya. Anginnya sepoi-sepoi....!"

__ADS_1


"Ah, gak ah. Kalau ada yang ngintip gimana?"


"Itu kan sawah, siapa yang mau ke sawah malam-malam?"


"Ya ada, biasanya orang cari kodok atau belut!"


"Lagian, Rangga sialan itu kenapa tidak menembok belakang sini juga?"


"Ibu bilang gak usah, biar bisa lihat pemandangan."


"Sayang,...!" Panggil Daffa.


"Iya mas, ada apa?"


"Jujur ya, sebenarnya selama ini tuh kalau mas lihat kamu, belut mas selalu berkedut!" Ujar Daffa memberitahu istrinya.


"Mas melihara belut?" Tanya Nada yang tak paham maksud suaminya.


"Iya, kadang suka bangun kadang juga tidur. Nah, belut yang ini yang mas maksud!"


Daffa menunjuk ke arah burungnya.


Nada hanya bisa memutar bola matanya geli, ternyata menikah dengan orang yang jauh lebih dewasa darinya tidak bisa di anggap dewasa apa lagi Daffa suka sekali bercanda.

__ADS_1


__ADS_2