Menikahi Calon Suami Tetanggaku

Menikahi Calon Suami Tetanggaku
Chapter 65


__ADS_3

"Gak, gak ada nikah-nikahan, kalau mau nikah nunggu Nada selesai kuliah kalau gak mau noh nikahin janda tiga anak teman lama mu kemarin," ucap Rangga kesal.


"Haduh, kamu ini kok ngomongnya gitu sih?" Tegur pak Diman.


"Menurut mamah ada baiknya di nikahkan saja dari pada di lihat orang ke sana ke sini gak ada ikatan," ucap bu Hesti yang setuju.


"Nah, pemikiran bu Hesti sama dengan saya." Sahut bu Santi.


"Saya sebagai orang tua tidak bisa melarang. Terserah anaknya saja, dia sudah dewasa itu artinya sudah bisa menentukan pilihan hidupnya." Imbuh bu Erni.


"Kalau Kasih gimana pendapatnya?" Tanya pak Diman.


"Terserah mereka saja lah. Yang penting adik ku jangan di sakiti, di bimbing ke jalan yang benar itu aja udah." Jawab Kasih.


Daffa tersenyum lebar saat semua orang merestui rencana pernikahannya.


"Mainnya sama janda anak tiga belum di cerai tuh Daffa," ucap Rangga memberitahu semua orang.


"Mana ada, ngada-ngada benget ini serangga satu." Sahut Daffa tidak terima.


"Halah, bohong. Daffa nih, udah numbalkan aku buat ngaku ke janda tuh kalau aku adalah Daffa."


Daffa langsung memalingkan wajahnya tertawa mengingat kejadian beberapa waktu yang lalu.


"Kalian berdua ini loh, isinya cuma bertengkar aja setiap hari. Rangga dan Daffa ini harus di sunat lagi," ucap pak Diman bergurau.


"Gimana ini, setuju enggak kalau Daffa dan Nada kita nikahkan?" Tanya bu Santi memastikan.


"Nada, kamu mau jadi istri penyuka janda itu?" Tanya Rangga yang sengaja mengompori.

__ADS_1


"Lama-lama ini mulut serangga harus di semprot cairan pembasmi serangga deh." Sahut Daffa mulai kesal.


"Em,...gimana ya....?"


Nada menoleh satu persatu orang-orang yang ada di sana.


"Cantik, jangan kecewain abang ya." Goda Daffa seraya mengedipkan sebelah matanya.


"Serius bu, mbak. Nada boleh nikah?" Tanya Nada bingung.


"Dari pada jadi bahan omongan orang di kampung, ibu sih yes aja." Jawab bu Erni membuat semua orang tertawa. "Kamu sudah besar nak, tentu jalan hidup mu sendiri."


"Em, ya udah deh." Jawab Nada tidak jelas.


"Ya udah apa?" Tanya bu Santi.


"Iya, nikah!" Jawab Nada memperjelas.


"Aduh,...jangan peluk suami ku!" Ucap Kasih tidak terima.


"Oh,...iya maaf-maaf kakak ipar."


"Kapan rencananya nikahnya?" Tanya bu Santi yang tidak mau membuang waktu.


"Sekarang....!" Jawab Daffa.


"Di pikir beli sapi apa?" Sahut Rangga geram.


"Nikahnya di mana? Kota apa kampung?" Tanya bu Santi lagi.

__ADS_1


"Di kampung bu, saudara kami masih banyak di sana." Jawab bu Erni.


"Nikahnya nunggu aku selesai lahiran ya," pinta Kasih.


"Kalau nunggu lahiran, kelamaan dong!" protes Daffa.


"Astaga ini orang,....!" Rangga semakin kesal.


"Iya dong Daffa, harus nunggu Kasih selesai lahiran biar kita semua tenang." Ucap pak Diman.


"Sabar eh....!" Tegur bu Santi pada anaknya.


"Mau berladang kok gak sabaran!" Celetuk pak Diman.


"Aduh,.....!!" Kasih merintih.


"Sayang, kamu kenapa?" Tanya Rangga.


"Anu mas, ini perut bagian bawah nyeri."


"Kontraksi palsu lagi sepertinya," ucap bu Hesti.


"Di bawa istirahat," imbuh bu Erni.


"Eh,...enggak palsu nih. Ada yang ngalir di bawah." Ujar Kasih memberitahu semua orang.


Sontak saja semua orang melihat ke arah bawah.


"Ketuban pecah....!" Jerit bu Santi histeris.

__ADS_1


Paniklah semua orang, Rangga langsung menggendong istrinya menuju mobil.


Namanya juga ibu-ibu, mau di mana saja tetap heboh. Kasih yang melahirkan bu Erni, bu Hesti dan bu Santi yang panik.


__ADS_2