Menikahi Calon Suami Tetanggaku

Menikahi Calon Suami Tetanggaku
Chapter 38


__ADS_3

Acara pesta yang di selenggarakan pak Diman dan bu Hesti banyak di hadiri para warga. Senang sekali rasanya melihat warga yang ikut menikmati suguhan yang telah di sediakan oleh panitia acara.


Tanpa memiliki malu bu Wiwin dan Mia ikut hadir di sana. Beberapa warga yang melihat kedatangan Mia dan ibunya langsung bergosip.


"Bisa diam gak bu!" Sentak Mia. "Kerjanya cuma bisa menggosip saja. Dasar tukang ghibah!" Ucap Mia tak sadar diri.


"Hidiiih,....yang tukang ghibah itu kamu. Suka jelekin orang lain." Sahut ibu-ibu tersebut.


"Heh, diam kalian!" Sentak bu Wiwin.


"Hiih,....udah kenyang belum bu Wiwin makan uang desanya?" Singgung ibu-ibu yang lain.


Sontak saja bu Wiwin langsung membuang muka lalu mengajak Mia untuk maju paling depan lagi.


Betapa panas hati Mia saat melihat kebahagiaan Kasih bersama suami dan keluarga. Bu Hesti yang begitu memanjakan Kasih, tentu saja Mia iri karena sampai sekarang ia belum pernah merasakan di manja oleh mertuanya, orang tua Dito.


Huft.......


Bu Wiwin membuang nafas kasar, mereka yang duduk di pojokan kini tak bisa duduk bersanding dengan keluarga Raharja.


"Seharusnya ibu yang duduk bersama keluarga pak Diman dan bu Hesti. Bukan si Erni sialan itu," ucap bu Wiwin geram.


"Gimana bu, jadi rencana kita?" Tanya Mia.


"Hem,...ayo beraksi." Ajak bu Wiwin.


Mereka sengaja berbaur dengan tamu, semua orang sangat menikmati pesta membuat Mia dan bu Wiwin lancar menjalankan aksinya.


"Gimana, sudah?" Tanya bu Wiwin.


"Sudah bu. Ayo kita pulang!" Ajak Mia lalu mereka bergegas pergi dari kediaman Raharja.


Beberapa saat kemudian beberapa warga mengeluh pusing dan mual. Semakin bertambah para warga yang merasa mual dan pusing hingga ada warga yang pingsan. Acara pesta mendadak di hentikan, pak Diman dan Rangga mulai gelabakan.


"Bawa ke puskesmas saja. Cepat,...cepat....!!" Titah pak Diman yang panik.


Pak Diman dan pak Mun mulai membantu warga yang pingsan.


"Mah, ajak Kasih masuk. Aku akan membantu papah. Ibu dan Nada juga masuk, jangan makan apa pun terlebih dahulu. Aku yakin ada yang tidak beres." Ujar Rangga tak kalah paniknya.


"Mas, hati-hati." Ucap Kasih sebelum masuk ke dalam.


Di temani Daffa, Rangga membantu warga yang mengalami keracunan.


"Bagaimana ini pak Diman? Banyak warga yang mengalami keracunan, bapak harus bertanggung jawab," ucap salah seorang warga yang tidak mengalami keracunan.

__ADS_1


Kebanyakan korban adalah anak-anak dan ibu-ibu.


Pak Diman mengangkat kedua tangannya lalu berkata.


"Sabar bapak-bapak. Saya akan bertanggung jawab, saya juga tidak tahu apa yang sebenarnya sudah terjadi."


"Kami tidak mau tahu, jika sampai ada korban jiwa, bapak harus bertanggung jawab."


"Iya, bapak harus bertanggung jawab!" Para warga mulai menuntut pak Diman.


"Tenang,...tenang....!" Rangga mencoba menenangkan. "Kami akan bertanggung jawab. Saya akan mencari tahu apa yang sudah terjadi sebenarnya."


"Kami tidak mau tahu, kalau sampai ada korban jiwa. Kalian kami tuntut!"


"Pak, pak Mun bagaimana ini? Kok bisa para warga keracunan?" Tanya pak Diman karena memang pak Mun lah yang bertanggung jawab atas acara ini.


"Saya sudah memeriksa makanan sebelum di hidangkan pak. Tapi, semua baik-baik aja. Makanannya yang bermasalah hanya makanan yang terhidang di atas meja luar saja!"


"Loh,...loh,....pak Mun serius?" Tanya Diman tidak percaya.


"Iya pak, saat semua orang sibuk menolong para warga, saya mencoba mencaritahu penyebabnya. Saya mengorbankan ayam peliharaan kita, makanan dari dapur tidak membuat ayam mati tapi makan yang ada di atas meja sana membuat ayam kita mati pak," jelas pak Mun panjang lebar.


Berbisik-bisiklah para warga, siapa yang sudah melakukan tindakan keji seperti ini.


"Aku akan mengecek cctv rumah kita pah," ujar Rangga kemudian bergegas pergi ke ruang cctv yang berada di ruang paling belakang rumah mereka.


Rangga bergegas kembali ke luar, pria ini memberitahukan apa yang ia lihat di cctv.


"Bapak bisa melihat ini," ujar Rangga yang menunjukkan rekaman cctv yang sudah ia pindah ke ponsel miliknya.


"Waaaah,.......bu Wiwin ternyata biang keladinya."


Terlihat jelas sekali jika bu Wiwin dan Mia sedang menaburkan sesuatu pada makanan yang terhidang di atas meja.


"Kalau begitu mari kita ke rumah bu Wiwin....!!" Ajak salah seorang warga.


Berbondong-bodong para warga menuju rumah pak Rahman untuk meminta pertanggung jawaban pada Mia dan ibunya.


"Mereka tidak tahu atau benar-benar polos jika di rumah sebesar ini sudah pasti di lengkapi oleh cctv?" Rangga tertawa sarkas, heran dengan kelakuan keluarga pak Rahman.


"Ya sudah, mari kita pergi ke puskesmas. Biar bagaimana pun, kita harus bertanggung jawab pada korban!"


Rangga dan pak Diman pun pergi ke puskesmas untuk menyelesaikan masalah yang menimpa mereka.


Sedangkan Mia dan bu Wiwin sedang tertawa membayangkan kekacauan yang di buat oleh mereka.

__ADS_1


"Lebih parah lagi kalau ada yang mati bu. Mereka pasti di penjara!" Kata Mia lalu tertawa.


Hahahaha.....


Hahaha....


Tawa memenuhi ruang tamu rumah pak Rahman.


"Si Kasih dan ibunya yang janda itu tidak akan berani bergaya lagi."


Belum puas tawa Mia dan ibunya, mereka di kejutkan dengan kaca jendela pecah akibat lemparan batu.


"Keluar kalian....!!" Teriak warga beramai-ramai.


"Bu, ada apa ini?" Mia panik.


"Berani-beraninya mereka memecahkan kaca rumah kita. Awas aja!"


Dengan beraninya bu Wiwin keluar.


"Hai,....siapa yang sudah melempar batu ini?" Tanya bu Wiwin sambil berkacak pinggang.


"Heh Wiwin, kau dan anak mu harus bertanggung jawab!"


"Iya, kalian harus bertanggung jawab!"


"Apa maksud kalian?" Tanya bu Wiwin pura-pura tidak tahu.


"Kau dan anak mu sudah menabur racun di makanan rumah pak Diman. Kalian harus bertanggung jawab."


"Jangan fitnah kalian!" Teriak bu Wiwin tidak terima.


"Iya, jangan asal menuduh kami...!" Timpal Mia.


"Kami sudah melihat rekaman cctv. Dengan jelas kalian berdua sudah menaburkan sesuatu ke makanan."


Wajah bu Wiwin dan Mia mendadak panik.


"Bagaimana ini bu?" Tanya Mia dengan suara pelan. "Kenapa kita begitu bodoh bu. Sudah pasti rumah mereka di lengkapi dengan cctv."


Bu Wiwin menarik nafas panjang lesu.


"Ikut kami ke kantor polisi," ucap salah seorang warga.


"Jangan, jangan bawa kami. Kami minta maaf," ucap bu Wiwin memohon.

__ADS_1


Tidak memperdulikan ucapan bu Wiwin, para warga menyeret ibu dan anak itu ke kantor polisi terdekat. Dito, entah kemana pria ini karena sejak siang Dito pulang pulang.


__ADS_2