
"Aku tidak mau bonus uang, uang ku sudah banyak. Aku mau bonus yang lain," ujar Daffa yang mencari kesempatan dalam kesempitan.
"Apa? Liburan?" Tanya Rangga kesal.
"Tidak mau juga. Em,...berhubung malam ini malam minggu, aku cuma minta izin kalian buat jalan berdua sama Nada."
"Heh, gak ada....!" Rangga menolak.
"Cuma malam ini doang. Sekali aja....!" bujuk Daffa.
Kasih tidak mau ikut campur.
"TIDAK BOLEH!" Ucap Rangga dengan tegas.
"Oh, kalau begitu aku akan kembali lagi ke kota menjemput Yunita dan mamahnya. Bilang aja di suruh Rangga," ancam Daffa.
"Sialan,...!" Umpat Rangga geram. "Sayang, bunga hatiku. Gimana, apa harus kita izinkan?" Tanya Rangga pada istrinya.
"Tanya sama anaknya lah, mau apa enggak." Sahut Kasih bingung.
"Calon kakak ipar ku memang bijak. Cepat telpon Nada, mau apa gak dia!"
"Ya bolehlah, karena aku akan meminta tolong pada mu besok." Ujar Rangga.
"Minta tolong apa lagi hah?" Tanya Daffa kesal. "Biasanya kau akan memberi ku pekerjaan yang susah!"
"Kalau tidak mau ya sudah. Kau pasti akan menyesal!"
"Em, kalau boleh tahu pekerjaan apa?" Tanya Daffa melunak.
"Besok tolong temani Nada mencari kampus yang bagus. Mahal gak apa-apa asal berkualitas." Ujar Rangga.
__ADS_1
"Mas, kamu serius?" Tanya Kasih merasa tidak enak hati.
"Mas serius sayang. Nada sudah seperti adik mas sendiri, kalau kita bisa memberikan yang terbaik, kenapa tidak?"
"Heh, serius?" Tanya Daffa tidak percaya. "Tapi besok hari minggu."
"Kau boleh mengajak Nada menginap di rumah mu. Aku akan menghubungi mamah mu, awas saja kau berani macam-macam." Ancam Rangga.
"Seumur hidup kerja dengan kau, baru sekarang aku sebahagia ini....!" Ucap Daffa yang tiba-tiba memeluk Rangga.
Saking bahagianya Daffa, nyaris saja pria ini mencium Rangga.
"Berani mencium suami ku, akan ku kirim kau ke dasar lautan!" Ancam Kasih kesal.
"Najis banget, sumpah!" Seru Rangga.
"Oh, maaf tidak sengaja." Sahut Daffa.
Sementara itu, kabar tentang Mia dan ibunya tampak biasa saja. Bu Wiwin membuka usaha sembako kecil-kecilan untuk menghidupi dirinya dan Mia selama Mia masih mencari pekerjaan.
"Lama-lama aku bosan hidup seperti ini," ucap Mia lesu.
"Iya, sebenarnya ibu juga tapi mau bagaimana lagi?"
"Semua ini gara-gara Kasih, keluarga kita jadi hancur berantakan seperti ini."
"Kamu gak ada niatan balas dendam sama Arum gitu?" Tanya bu Wiwin.
"Malas ah bu, nanti kita di buron sama warga kampung lagi."
"Ibu sedih loh sebenarnya." Ucap bu Wiwin.
__ADS_1
"Sedih kenapa bu?" Tanya Mia.
"Kalau ibu dan bapak mati sisa kamu, kalau kamu mati habislah garis keturunan kita."
"Ya udah, ibu hamil lagi aja!" Sahut Mia dengan santainya.
"Ibu sudah tua, emang masih bisa hamil lagi?"
"Ya gak tahu, konsultasi aja ke Dokter."
"Tapi, bapak kamu masih kurang empat tahun lebih di penjara. Gimana mau hamil?"
"Itu sih malasah gampang. Ada uang beres semua!"
Mia mulai memberikan ide pada ibunya. Lagian, apa yang di katakan bu Wiwin ada benarnya juga. Jika mereka semua mati, maka habislah garis keturunannya.
Sementara itu, Daffa yang sudah mendapatkan izin untuk mengajak Nada pergi malam minggu merasa senang sekali.
Pria ini mandi dengan menggunakan sabun dan sampo yang banyak, menyikat gigi berulang kali agar bersih. Selesai mandi Daffa memilih pakaian yang cocok untuknya. Tidak lupa menyisir rambut agar terlihat rapi.
Tidak lupa menyemprotkan parfum sebanyak mungkin agar Nada bisa menempel padanya.
"Ya ampun, pabrik parfum mana nih yang bocor?" Pak Diman menggelengkan kepala.
"Ingat, jam sembilan pulang. Lewat dari jam segitu, akan ku gantung kau di pohon depan!" Ancam Rangga.
"Hem, iya. Jangan pulang malam-malam." Imbuh Kasih.
"Kalau bawa anak orang pergi, harus di jajankan. Jangan pelit, awas kamu kalau tante mendapatkan laporan jika gadis yang kamu bawa sampai kehausan dan kelaparan." Pesan bu Hesti.
"Tidak akan tante, Daffa sudah mengisi dompet dengan tebal!"
__ADS_1
Semua orang hanya bisa menghembuskan nafas pelan melihat tingkah Daffa. Pria ini kemudian pergi untuk menjemput Nada dengan menggunakan sepeda motor. Katanya lebih romantis jika berboncengan dengan sepada motor.