
"Mas, kamu ngapain sih?" Tanya Kasih heran saat melihat suaminya sedang menggali tanah.
"Ini, mau tanam pohon rambutan!" Jawab Rangga.
"Oh, tumben. Sejak nikah sama kamu baru sekarang aku lihat kamu pegang cangkul."
"Demi anak. Nanti pohon ini akan sama umurnya dengan tumbuh kembang anak kita. Gimana, baguskan?"
"Iya lah mas, terserah kamu aja. Foto dulu, mau aku kirim ke grup keluarga kita!"
Rangga langsung berpose sambil memegang cangkul. Hanya satu kali jepretan Kasih langsung mengirimnya ke grup keluarga.
"Heran sama orang ganteng, mau foto sejelek apa pun tetap aja ganteng!" Kata Kasih seraya menggelengkan kepalanya.
Rangga yang sudah selesai menanam pohon rambutan langsung masuk ke dalam rumah. Pria ini bergegas mandi karena hari sudah sore.
Senja berganti malam, Rangga dan Kasih sedang bersiap-siap untuk tidur. Seperti biasa, sebelum tidur Kasih harus menghabiskan segelas susu hangat yang selalu di buatkan oleh suaminya.
"Sini, mas peluk!" Ujar Rangga yang setiap malam memiliki pekerjaan baru yaitu mengelus-elus perut buncit istrinya.
Rangga dan Kasih sudah jauh berlayar ke alam mimpi. Pasangan suami istri ini selalu tidur berpelukan.
Tepat tengah malam, tiba-tiba saja Rangga mengigau. Entah apa yang sedang di mimpi pria ini, Kasih berusaha membangunkan suaminya.
"Mas, bangun mas!" Kasih mengguncang tubuh suaminya.
"Maafkan aku,...maafkan aku...jangan buat anak ku seperti ini." Ucap Rangga yang belum bangun.
"Mas bangun,...mas bangun!"
Beberapa kali Kasih membangunkan suaminya tapi tetap saja Rangga tak kunjung bangun. Mau tidak mau Kasih mengambil air lalu menyipratkan nya ke wajah Rangga.
Wuaaaaah......
Rangga yang kaget langsung bangun dan duduk.
"Mas, kamu kenapa? Kamu mimpi apa?" Tanya Kasih khawatir karena wajah suaminya saat ini menunjukkan ekspresi tegang.
"Sayang,....!!"
Rangga langsung mengelus-elus perut istrinya.
"Mas, kamu mimpi apa?" Tanya Kasih penasaran.
"Duh, mas mimpi kalau kamu itu lahiran. Tapi, wajah anak kita sama persis dengan wajah palsu ku dulu. Giginya tonggos, ada tompel besar di atas jidatnya. Terus, anak kita marah sama mas, katanya mas penyebab dari semua ini." Rangga menceritakan mimpinya pada Kasih.
huft,.....
Kasih menarik nafas panjang.
"Makanya mas, kalau mau ngerjain orang di kira-kira dulu. Ada efek sampingnya enggak? Sekarang kamu mimpi seperti itu, membuat ku takut aja!" Omel Kasih.
__ADS_1
"Sayang, bagaimana ini?" Rangga khawatir.
"Semua ini salah mu!" Seru Kasih.
"Besok pagi kita langsung USG ya. Kita pastikan keadaan anak kita."
"Kamu sih mas,....!!" Kasih benar-benar geram.
"Sayang, mas minta maaf!" Ucap Rangga.
"Aku jadi kepikiran, semoga aja anak kita sehat, sempurna tidak kurang satu apapun." Ucap Kasih langsung di aminkan oleh Rangga.
Rangga mengajak istrinya kembali tidur. Saat Kasih sudah terlelap, Rangga tidak bisa tidur karena ia terus memikirkan mimpinya tadi.
"Sumpah, nyesal aku udah ngerjain istri ku dulu!" Batin Rangga.
Tidak mungkin ia akan menceritakan mimpinya pada kedua orang tuanya karena sudah pasti Rangga akan di marahi habis-habisan.
Malam telah berganti pagi, selesai sarapan Rangga langsung mengajak istrinya pergi ke rumah sakit yang ada di kecamatan tersebut.
Meskipun belum masuk jam kerja, Rangga rela merogoh kocek untuk memanggil Dokter kandungan tersebut agar datang lebih cepat.
"Bagaimana keadaan anak kami, Dok?" Tanya Rangga dengan wajah panik.
"Sehat pak, semua nutrisi juga cukup. Nah, ini bapak dan ibu bisa lihat sendiri perkembangannya di layar monitor."
Rangga dan Kasih langsung menghembuskan nafas lega.
"Dok, di mana saya bisa membeli alat seperti ini?" Tanya Rangga membuat Dokter terkejut. "Saya ingin memantau anak saya setiap hari."
"Duh, kalau alat seperti ini tidak di perjual belikan dengan bebas. Harus ada izinnya pak, lagian hanya Dokter yang boleh memakainya."
"Saya Sarjana strata dua. Kuliah di luar negeri dan saya juga ada gelar Dokter, jadi saya boleh dong membeli alat ini untuk di pakai secara pribadi?"
Dokter melirik ke arah Kasih lalu menggaruk kepalanya tak gatal.
"Tapi bapak bukan Dokter kandungan kan?"
"Mas,...apaan sih? Bikin malu aja. Gelar kamu memang Dokter, tapi kamu gak pernah kerja di rumah sakit."
"Itu semua salah papah. Anak mau jadi Dokter malah di suruh ngurusin perusahaan, perkebunan dan pabrik. Awas aja pak tua itu," sahut Rangga mengomel.
"Duh, maafin suami saya, Dok. Lagi dapet mungkin!"
Dokter hanya tersenyum, baru kali ini ia mendapatkan pasien yang luar biasa aneh.
Pulang dari rumah sakit Kasih dan Rangga mampir ke toko kue. Berbagai macam jenis kue di jual mulai dari kue tradisional maupun yang kekinian.
"Bu, tiba-tiba aku pengen makan arem-arem. Itu loh bu, yang di bungkus seperti pocong dari daun pisang!" Jelas Rangga.
"Sepertinya masih, sebentar itu ambil dulu."
__ADS_1
"Tapi dari tahu bu, tahu yang di becek-becek gitu."
"Kamu ngidam?" Tanya bu Erni.
"Mas, ada-ada aja!" Seru Kasih.
"Boleh minta tolong di buatin bu?" Senyum Rangga lebar.
"Boleh, nanti biar di antar sama Nada ke rumah kalian."
"Wah, terimakasih bu." Ucap Rangga.
"Mas, itu bu Wiwin pasang plang kalau rumah dan tanahnya di jual. Ada niatan mau beli gak?" Tawar Nada.
"Loh, kok di jual? Kenapa?" Tanya Kasih heran.
"Itu, si Dito ketahuan nikah lagi sama Arum, gadis kampung sebelah. Si Mia di madu, lebih tepatnya mereka menikah secara diam-diam." Ujar bu Erni memberitahu karena Kasih dan Rangga tidak tahu kabar ini.
"Ah, seriusan kalau Dito nikah lagi?" Tanya Rangga tak percaya.
"Iya mas, nikah lagi karena katanya Mia gak mau di cerai makanya nikahnya diam-diam." Jelas Nada.
"Wah, mantan kamu hebat juga ya sayang. Masih muda istrinya sudah dua!"
"Berani macam-macam sama anak ibu, ibu mixer kamu!" Ancam bu Erni sambil mengangkat mesin pengadon kue.
"Bercanda bu, sumpah bercanda!"
"Gini kok kuliah sampai S2 tapi kalau ngomong asal keluar aja!" Gerutu Kasih.
"Terus, kalau S2 hidup harus tegang mulu?" Tanya Rangga. "Heran sama kamu, apa-apa di bawa serius!"
"Ah, udah berisik. Sana pulang!" Usir bu Erni.
"Jangan lupa pesanan ku ya bu," ucap Rangga.
"Iya,...iya....!!"
Rangga dan Kasih pun memutuskan untuk pulang.
"Mas, serius mau beli rumah dan tanah milik bu Wiwin?" Tanya Kasih.
"Nanti mas bicarakan sama papah dulu. Tapi, apa mereka mau menjualnya pada Kita?"
Kasih hanya mengangkat kedua bahunya menanggapi.
°°°°°°°°°°°°°°°°
Hallo bestie💅🏻 yuk mampir di novel baru otor yang berjudul "Tetanggaku Maduku"
__ADS_1