
"Mas ngapain sih?" Tanya Kasih dengan mata terpejam mengantuk.
"Mau menjenguk anak, mas kangen." Jawab Rangga yang sibuk membuka celana dallam istrinya.
"Mas, kamu ini loh. Perasaan tiap malam jenguk anak mulu. Alasan!"
"Udah, kamu bobo aja. Biar mas yang menyelesaikan!"
Kasih yang benar-benar mengantuk tak bisa lagi melayani nafsu suaminya. Rangga sibuk sendiri, memasukan sendiri menggoyang sendiri bahkan mendeesah sendiri.
"Sayang,....!" Panggil Rangga.
"Hem, iya mas. Kenapa?"
"Kok lapis legit kamu makin tebal dan melebar ya, kenapa?" Tanya Rangga membuat Kasih kesal.
"Pertanyaan mu ini mas, ingin rasanya aku menjahit mulut mu!"
"Kenapa?"
"Aku sedang hamil anak mu, wajarlah jika seperti itu. Besok-besok kamu aja yang hamil, biar lubang ku gak lebar!"
"Udah selesai...!" Ujar Rangga.
"Apanya udah selesai?" Tanya Kasih heran.
"Ini, udah mas buang di tisu." Ujar Rangga sembari menunjukan gumpalan tisu berisi cairan kentalnya.
"Mas, astaga. Kamu ini bisa-bisanya. Udah ah, aku mau tidur!"
"Mas mau kubur dulu," ucap Rangga.
"Malam-malam begini?" Tanya Kasih. "Di buang ke tempat sampahkan bisa. Kenapa harus di kubur. Perasaan tiap malam ngubur begituan mulu."
"Biar gak di makan semut. Kalau di makan semut bahaya, nanti dia akan melahirkan anak mas. Jadi anak semut nanti...!"
"Terserah kamu lah mas. Aku mengantuk."
Rangga kemudian keluar dari kamar, pria ini mengambil cangkul kecil atau gaco untuk menggali tanah.
"Weeeh,...ngapain malam-malam menggali tanah?" Tanya Daffa yang heran melihat kelakuan Rangga.
"Ngubur ini,....!" Jawab Rangga dengan santainya.
"Apa itu?" Tanya Daffa yang tidak tahu. "Sepertinya tisu, Kenapa mengubur tisu malam-malam?"
"Tisu bukan sembarang tisu. Isinya adalah bibit unggul dengan kualitas terbaik," sahut Rangga semakin membuat Daffa bingung.
"Ini orang kenapa sih? Aneh!"
"Makanya cepat nikah biar kau tahu makna tisu di dalam kamar," ucap Rangga benar-benar membuat Daffa tidak mengerti.
"Bicara yang jelas!" Seru Daffa mulai kesal. "Apa itu?"
Huft,.....
Rangga menghembuskan nafas kasar.
"Cairan dari sini aku kubur," jawab Rangga seraya menunjuk burungnya.
__ADS_1
Shiiiiiit........
"Benar-benar tidak waras. Lama-lama bisa gila aku tinggal di rumah mu ini." Kata Daffa yang kemudian masuk ke dalam rumah.
Daffa heran melihat sikap Rangga, Rangga yang di kenal pendiam ternyata bisa seperti itu juga.
Malam telah berganti pagi, Daffa pergi lebih dulu ke pabrik karena ada pekerjaan yang harus segara ia selesaikan.
"Mas, kok gak sarapan kenapa?" Tanya Kasih heran apa lagi wajah suaminya pagi ini terlihat lesu.
"Gak selera, perut mas rasanya mual."
"Mas sakit?" Tanya Kasih khawatir.
"Badan mas pegal semua.Terutama ini pinggang, uh nyeri."
"Hem,....itulah. Setiap malam olahraga mulu. Gak ada puasnya."
"Rasanya kalau gak ngeluarin satu malam aja itu beda. Gelisah, gak bisa tidur. Di dada itu seolah ada yang protes," ucap Rangga membuat Kasih tertawa.
Saat Kasih dan Rangga sedang asyik mengobrol, tiba-tiba saja Daffa pulang dengan senyum lebarnya hingga membuat Rangga dan Kasih heran.
"Dari mana?" tanya Rangga.
"Biasa, dari pabrik." Jawab Rangga.
"Kesambet di pabrik nih, masa pulang-pulang senyum sendiri." Ujar Kasih.
"Yeee, gak gitu juga konsepnya. Aku senyum karena aku sudah mendapatkan ini," kata Daffa sambil menunjukan map berwarna hijau di tangannya.
"Apa itu?" Tanya Rangga.
"Hah? Kok bisa?" Tanya Kasih tidak percaya.
"Lah iya, mumpung murah aku beli." Ucap Daffa.
"Siapa yang mengizinkan mu untuk membelinya?" Rangga menatap dengan wajah dingin.
"Kau ini kenapa sih? Ini saja aja aku investasi, heran. Bukannya mendukung malah tanya kenapa?"
"Ya maksudnya kenapa harus rumah pak Rahman yang kau beli?" Sahut Rangga.
"Murah, cuma di jual lima ratus juta."
"Itu artinya sekarang ibu ku tidak memiliki tetangga mereka lagi dong?"
"Semua aku lakukan demi ayang Nada," ucap Daffa dengan senyum lebarnya. Pria ini kemudian pergi ke kamarnya.
"Mas, mau kemana?" Tanya Kasih saat suaminya beranjak dari duduk.
"Menghajar bajingan satu itu," jawab Rangga.
"Udah ah, itu kan hak dia. Ngapain sih?"
Rangga kembali duduk, rasa-rasanya ia tak pernah tenang saat Daffa ikut tinggal bersamanya. Rangga tahu betul jika Daffa sedang mengincar adik iparnya.
Sementara itu, bu Wiwin sedang menangis tersedu-sedu karena sebentar lagi ia dan anaknya akan meninggalkan rumahnya.
Sambil berkemas, sesekali bu Wiwin mengusap air matanya. Mia sendiri merasa berisik saat mendengar tangisan ibu nya.
__ADS_1
"Udahlah bu, yang di tangisi itu apa?"
Mia kesal.
"Kamu tuh gak tahu bagaimana rasanya kehilangan sesuatu yang di sayang. Heran sama kamu, gak ada sedih-sedihnya!"
"Ah, cerewet. Udah ayo cepat, sebentar lagi mobilnya datang!"
Tidak mau beradu mulut dengan anaknya, bu Wiwin terpaksa diam.
Setelah beberapa saat akhirnya mereka pun pergi meninggalkan kampung, tempat di mana selama ini mereka tinggal dan hidup. Tak ada yang tahu kepergian bu Wiwin dan Mia.
Setelah beberapa jam akhirnya bu Wiwin dan Mia tiba di kota. Untuk sementara waktu Mia mengajak ibunya tinggal di kontrakan bekas ia tinggal dulu saat kuliah.
"Uang kita ada sekitar satu miliar hasil dari jual tanah dan rumah. Di kampung masih ada satu bidang tanah lagi, Sebaiknya kita membeli rumah. Mia, cari rumah yang murah-murah sesuai dana kita."
"Ya, besok aku akan mencari. Udahlah, ibu istirahat aja!"
"Ibu mau pergi menjenguk bapak. Kamu mau ikut gak?" tawar bu Wiwin.
"Gak lah, malas aku ketemu sama bapak. Gara-gara bapak hidup kita hancur sekarang!"
Bu Wiwin pergi sendiri, tentu saja ia hafal jalanan di kota. Bu Wiwin membeli buah-buahan dan beberapa makanan untuk suami yang di hukum lima tahun penjara ini.
"Tumben ibu jenguk dan bawa makanan banyak seperti ini. Uang dari mana?" Tanya Pak Rahman dengan tubuh kurusnya.
"Pak, ibu dan Mia sudah memutuskan untuk pindah ke kota. Rumah sudah ibu jual sama tanah yang dekat jalan raya." Ujar bu Wiwin memberitahu.
"Kenapa ibu jual?"
Pak Rahman terkejut mendengarnya.
"Percuma saja tinggal di kampung, keluarga kita sudah di kucilkan. Pak, Mia dan Dito sudah bercerai."
Semakin terkejut pak Rahman jika anaknya sekarang menyandang status sebagai janda muda.
"Kok bisa? Gimana ceritanya?"
"Dito nikah lagi sama perempuan dari desa sebelah," jawab bu Wiwin membuat emosi pak Rahman naik.
"Bisa-bisanya bajingan itu menceraikan anak ku."
Prak....
Pak Rahman menggebrak meja.
"Udah bu, gak usah di pikirin. Uang yang ada untuk sementara waktu buat beli rumah sederhana aja dulu, buka usaha apa kek yang penting ibu dan Mia bisa makan."
"Mia juga akan cari kerja, dia sudah wisuda juga. Kasihan Mia, pak. Dia tidak ikut menghadiri acara wisudanya."
"Semua gara-gara ulah Rangga. Berani-beraninya dia membohongi keluarga kita dulu."
Pak Rahman mengepalkan kedua tangannya menahan emosi.
°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°
Hallo kak, yuk mampir di novel baru ku, up setiap hari juga yang berjudul "Love You Jandaku" Ceritanya bikin greget loh😁
__ADS_1