Menikahi Calon Suami Tetanggaku

Menikahi Calon Suami Tetanggaku
Chapter 47


__ADS_3

"Mana pesanan ku tadi pagi, mas?" Tanya Kasih yang masih ingat jika dirinya pesan buah pepaya gantung.


Huft,......


Rangga menarik nafas panjang, pria ini kemudian mengambil bungkusan plastik lalu menyerahkannya pada sang istri.


"Wah,...makasih mas!" Ucap Kasih senang.


"Awas aja entar malam, mas remas-remas pepaya kamu!" Ancam Rangga.


"Mas, kalau perempuan di remas gak masalah. Kalau telur mu yang di remas sudah pasti harus masuk sangkar, jangan macam-macam sama perempuan!"


"Lagian, ngidam kok aneh-aneh aja. Mau di makan sekarang atau nanti?" Tawar Rangga.


"Besok pagi aja mas, aku taruh di sini aja!" Ujar Kasih yang menaruh buah pepaya tersebut di atas bantal.


"Terserah kamu lah, sayang. Mas mandi dulu, gerah nih!"


Rangga bergegas masuk ke dalam kamar mandi. Kali ini pepaya menyelamatkannya dari rasa penasaran Kasih pada Yunita.


Sore telah berganti malam, pak Diman dan bu Hesti yang sedang makan malam bersama teman lama mereka di salah satu restoran.


"Yunita bilang dia tadi sore pergi ke rumah mu, mbak." Kata Desi memberitahu ibu Hesti.


"Oh, ya?" Ibu Hesti menanggapi dengan wajah biasa saja.


"Emang benar ya kalau Rangga udah menikah?" Tanya Desi penasaran. Desi adalah mamah Yunita.


"Iya benar, sekarang istri Rangga sedang mengandung anak Rangga. Kami bahagia sekali, bukan begitu pah?"


Pak Diman tersenyum lalu menjawab. "Iya dong mah!"


"Yunita bilang Rangga sangat tampan. Kalau tahu begitu kita besanan aja dari dulu," ucapnya tak tahu malu.


"Ketampanan tidak menjamin pernikahan itu bahagia. Rangga sangat mencintai istrinya, kami tahu betul akan itu." Ujar bu Hesti.


"Ngomong-ngomong, perempuan mana yang sudah berhasil memikat hati Rangga?" Tanya Desi penasaran.


"Bukan perempuan mana-mana. Kasih hanya gadis desa yang cantik dan juga santun. Tapi Rangga sangat mencintai dia," jawab bu Hesti dengan menegaskan kata cinta.


"Ya ampun jeng, kok bisa sih Rangga menikah dengan perempuan desa? Perasaan teman wanita Rangga banyak deh yang orang kota!"


"Kota dan desa sama aja yang penting dia baik dan patuh pada suaminya. Kami sama sekali tidak mempermasalahkan semua itu," sahut bu Hesti.


Desi benar-benar tidak percaya jika keluarga keturunan Raharja lebih memilih menikahi perempuan desa.


Sementara itu, Dito yang malam ini tidak pulang lagi ke rumah Mia membuat Mia kesal. Dito lebih memilih tidur di rumah Arum, istri barunya.


Di banding rumah Mia yang cukup bagus, Dito lebih nyaman berada di rumah Arum yang sederhana tapi bisa membuatnya tenang.

__ADS_1


"Makan dulu mas," tawar Arum yang baru saja selesai menyiapkan makan malam.


"Oh, iya!"


Dito meletakan ponselnya lalu berjalan menuju maja makan yang berada di dapur.


Untuk kesekian kalinya Dito tercengang melihat hidangan di atas meja makan.


"Kamu masak semua ini?" Tanya Dito tidak percaya.


"Iya mas," jawab Arum malu-malu.


"Kamu hebat, kamu bisa masak lauk yang enak-enak. Beda sama Mia, hampir setiap malam aku cuma di masakin mie goreng kalau gak mie rebus. Bahkan terkadang cuma teh manis aja!"


"Jangan membandingkan seperti itu mas. Kalau Mia dengar tidak enak, mas!"


"Bukan membandingkan, tapi semua itu kenyataan!"


"Udah ah, gak usah di bahas. Yuk makan," ajak Arum.


Mereka makan malam bersama, sungguh membuat Dito kenyang bahkan pria ini dua kali menambah.


Selesai makan malam Dito izin pada Arum untuk pergi sebentar. Tidak pergi kemana-mana melainkan pulang ke rumah Mia.


"Dari mana kamu hah?" Tanya Mia kesal.


"Dari rumah orang tua ku, kenapa?"


"Kau yang mengusir ku, lupa kah?" Tanya Dito.


"Aku minta uang dong, mau beli baju baru!"


Bukannya minta maaf Mia malah meminta uang pada suaminya.


"Aku tidak punya uang!" Jawab Dito.


"Dasar suami tidak berguna!"


Sekali lagi Mia menghina Dito.


"Kalau kau ingin cari yang berguna, silahkan!" Sahut Dito membuat Mia kesal.


"Wah, bagus betul mulut mu ini. Istri minta uang bukannya di beri malah di ceramahi. Suami macam apa kamu?"


Bu Wiwin membela anaknya.


"Aku tidak menceramahi Mia, bu. Harusnya dia mengerti dengan keadaan ku. Perasaan sehari kalau minta uang lebih dari satu juta. Ada aja alasan beli ini lah itu lah!"


"Wajar dong Mia minta sama kamu. Dia kan istri kamu, kalau kamu gak sanggup gak usah nikah!"

__ADS_1


"Bukan masalah sanggup gak sanggupnya. Laki-laki mana pun akan mengeluh jika memiliki istri seperti Mia ini."


"Udahlah, kamu ini malam-malam berisik banget. Kalau kamu gak mau ngasih aku uang, jangan tidur di rumah ku!" Ujar Mia dengan senang hati Dito pergi.


Dengan senyum lebar Dito pergi meninggalkan rumah Mia. Sebenarnya sengaja Dito pulang ke rumah Mia. Ia sudah bisa menebak pasti ada aja alasan bagi mereka untuk bertengkar.


Tentu saja hal ini sangat menguntungkan bagi Dito yang bisa tidur di rumah Arum.


Hari telat berganti, sekarang Rangga dan Kasih telah kembali ke kampung. Rangga menghirup nafas dalam-dalam. Sungguh segar sekali rasanya.


"Mas, ayo masuk. Ngapain sih?"


"Cari nafas segar!" Jawab Rangga kemudian bergegas masuk ke dalam rumah.


"Mas, aku mau pergi ke rumah ibu. Aku bolehkan naik motor?"


"Gak boleh!" Tegas Rangga. "Biar mas antar!"


"Hallo,.....!!" Sapa seorang dari luar.


Betapa kagetnya Kasih dan Rangga saat melihat Daffa dengan kopernya.


"Loh, mas Daffa kok ada di sini?" Tanya Kasih heran.


"Mau ngapain kau ikut menyusul ke sini?" Tanya Rangga kesal.


"Pak Diman menugaskan aku untuk mengurus masalah di pabrik. Beliau menyuruh ku untuk tinggal selama satu bulan di sini," jawab Daffa dengan senyum lebarnya.


"Ah, masa sih? Jadi, siapa yang mengurus perusahaan di kota?"


"Pak Diman yang baik hati akan mengurusnya sendiri," jawab Daffa.


Rangga tidak percaya, pria ini langsung menghubungi sang papah. Setelah mengobrol beberapa saat melalui telpon seluler, Rangga hanya bisa mendengus kesal.


"Awas aja kalau kau mengganggu Nada!" Ancam Rangga.


Seketika senyum di wajah Daffa memudar, Kasih hanya bisa menahan tawa nya.


"Belum ketemu udah main ancam aja. Dasar tidak berperasaan!"


Rangga masuk terlebih dahulu ke dalam kamar sedangkan Kasih pergi ke dapur sebentar untuk minum.


"Suami mu itu, sumpah galak bener!" Ujar Daffa.


"Santai, nanti juga Nada akan kuliah di kota. Kenapa kau harus bingung?"


"Katanya mau di kuliah kan ke luar negeri sama Rangga."


"Ibu tidak mengizinkannya. Titip adik ku ya...!!" Ujar Kasih kemudian pergi menyusul suaminya ke kamar.

__ADS_1


"Calon kakak ipar ku memang baik. Beda sama yang satu itu!" Ketus Rangga kesal.


__ADS_2