
"Habis harta kita,...habis sudah tanah kita. Kemarin mengganti uang desa dan sekarang kita harus mengganti rugi pada warga!" Bu Wiwin yang baru saja pulang dari kantor polisi langsung mengamuk.
Warga tidak menuntut bu Wiwin dan Mia setelah mereka melakukan kesepakatan di kantor polisi dengan menanggung biaya perawatan serta ganti rugi senilai delapan juta rupiah untuk satu orang korban.
"Seharusnya kalian bersyukur karena pak Diman tidak menuntut kalian. Tindakan ibu dan Mia sudah termasuk tindakan kriminal. Kalian mengacau pesta orang lain bahkan mengancam banyak nyawa orang. Sadarlah!" Dito menggelengkan kepalanya bingung ingin bersikap seperti apa.
Bukan seperti ini tujuan ia menikah dengan Mia melainkan hanya ingin membuat Kasih cemburu tapi malah Dito terjebak berumah tangga dengan Mia.
"Diamlah!" Sentak bu Wiwin. "Kau,....!!" Tunjuknya tepat di depan wajah Dito. "Sudah tidak membantu tapi banyak bicara pula."
"Aku hanya ingin kalian menghentikan tindakan yang akan merugikan kita. Apa itu salah?"
"Diam lah Dito. Aku pusing, sana masuk ke kamar sana!" Mia mengusir suaminya sendiri.
"Mau sampai kapan kau akan bersikap seperti itu Mia? Lama-lama aku bosan pada mu!"
"Jika kau bosan, cari sana perempuan lain." Mia menantang. "Tidak akan ada perempuan yang mau dengan kau karena kau sudah terikat pernikahan denganku," ucap Mia benar-benar menyakiti perasaan Dito.
Dito menatap tajam pada Mia sebelum akhirnya pria itu memutuskan masuk ke dalam kamar.
Tak berapa lama Dito masuk, Mia menyusul suaminya ke dalam kamar.
"Kerja mu makan tidur keluyuran. Kapan kau akan membuatkan aku rumah bagus dan mobil bagus hah?"
"Kapan-kapanlah!" Jawab Dito yang sibuk dengan ponselnya. "Makanya Mia, ubahlah pola pikir mu itu. Apa kau tidak sadar jika sikap mu selama ini sudah banyak merugikan orang lain?"
"Ceramah lagi ceramah lagi. Kalau mau ceramah, sana di masjid sana!"
"Jangan salahkan aku jika aku mencari kesenangan di luar sebab di dalam hubungan kita aja seperti ini," ucap Dito terdengar serius.
"Aku tidak pernah takut kehilangan seseorang di dalam hidup ku. Kau lihat, apa aku pernah bersedih atas kehilangan anak kita?" Mia tersenyum sinis, ucapannya yang barusan sungguh sangat menyakiti hati Dito.
"Setiap pasangan yang menikah sudah pasti mereka sangat menginginkan seorang anak. Di awal mungkin aku tidak mengharapkan anak itu, tapi sekarang aku menyesal."
"Sekarang kau maunya apa?" Tanya Mia kesal. "Sudahlah, jangan bahas anak lagi. Anak kita sudah tenang di surga. Aku mau tidur!"
__ADS_1
Mia merebahkan diri di samping Dito. Mia memang memiliki lekuk tubuh yang cukup menawan. Tapi, sejak ia di nyatakan tidak bisa memiliki anak lagi, Dito serasa mati rasa pada istrinya sendiri.
Hari ke hari telah berganti, satu kampung serempak memusuhi keluarga pak Rahman. Keluarga yang semula sangat di hormati bahkan di para warga tak berani melawan nyatanya kini hancur berantakan.
Bu Erni sebenarnya memandang sedih pada keluarga pak Rahman. Meskipun mereka pernah bersikap jahat pada keluarganya, tapi tetap saja bu Erni tidak tega melihat kehidupan bu Wiwin sekarang yang di jauhi banyak orang.
"Ibu kasihan sama bu Wiwin. Sekarang dia susah banget," ucap bu Erni.
"Ya gimana lagi ya bu, toh semua ini juga kesalahan mereka." Sahut Kasih.
"Itu lah asalan papah dan mamah tidak mau menuntut mereka. Papah dan mamah masih memberikan mereka kesempatan untuk berubah ke arah yang lebih baik lagi." Sambung Rangga.
"Iya kalau mau berubah, kalau enggak?" Celetuk Nada yang masih kesal dengan keluarga pak Rahman.
"Udah ah, gak usah bahas mereka. Mas, ayo kita pulang. Udah sore!" Ajak Kasih.
"Bu, kami pamit pulang dulu ya," pamit Rangga.
Rangga dan Kasih pun, mereka pulang dengan menggunakan sepeda motor. Saat hendak keluar dari pintu gerbang, tak sengaja Rangga dan Kasih berpapasan dengan Mia dan Dito.
Setibanya di rumah, Kasih bergegas pergi mandi begitu juga dengan Rangga. Selesai mandi mereka bersantai sejenak sambil menunggu jam makan malam.
"Hem,...!!" Jawab Rangga yang sejak tadi mengelus perut istrinya yang masih datar.
"Mas tuh sebenarnya punya mantan gak sih?" Tanya Kasih penasaran.
"Gak punya," jawab Rangga singkat.
"Ah, bohong!'' Ujar Kasih tak percaya. "Kamu itu ganteng, masa gak punya mantan!''
"Mantan gak punya, tapi kalau teman dekat banyak." Ucap Rangga dengan senyum lebarnya tapi tidak dengan Kasih yang cemberut. "Loh, kok cemberut kenapa?" Tanya Rangga.
"Mantan gak ada tapi teman dekat banyak. Apa bedanya?" Kasih bertanya balik. "Lelaki sama aja. Gak bisa di percaya!"
"Dia ini kenapa coba? Mulai duluan di jawab salah gak di jawab salah. Mas jadi serba salah!"
__ADS_1
"Udah ah, malas. Nyebelin deh!"
Kasih beranjak pergi dari kamar, Rangga hanya bisa menggelengkan kepalanya heran dengan sikap sang istri.
"Apa semua perempuan seperti itu?" Rangga bertanya pada cicak di dinding.
Rangga menyusul Kasih dari pada nanti panjang urusannya.
Hari mulai gelap, pak Diman dan bu Hesti kedatangan tamu malam ini. Perempuan cantik berambut panjang yang sudah lama tidak datang bertamu ke rumah mereka yang di kota.
"Ini ada oleh-oleh untuk om dan tante," ucap wanita cantik yang bernama Yesi.
"Terimakasih Yesi," ucap bu Hesti dengan senyum ramahnya.
Yesi celingukan seperti mencari seseorang.
"Ehem,....!" Yesi berdehem. "Rangga di mana ya tante?" Tanyanya yang tak melihat Rangga sejak ia datang tadi.
"Rangga lebih memilih tinggal di kampung," jawab bu Hesti.
"Loh, kok lebih milih tinggal di kampung sih? Sekolah di luar negeri kok malah sekarang tinggal di kampung. Lucu banget deh!" Yesi tertawa.
"Karena di kampung ada istrinya!" Jawab pak Diman yang memang tidak pernah suka pada Yesi.
Seketika tawa Yesi terhenti, wanita ini melongo tak percaya mendengar ucapan pak Diman.
"Are you serious uncle?" Tanya Yesi menggunakan bahasa inggris. Wanita ini hanya ingin menunjukan jika ia perempuan pintar.
"Yes, seriously. Rangga is married to a beautiful girl in the village (Ya, serius. Rangga sudah menikah dengan gadis cantik di kampung)" Jawab bu Hesti membuat Yesi mati ucap.
"K-kapan Rangga menikah tante?" Tanya Yesi dengan suara sedikit bergetar.
"Sudah lama dan sekarang istrinya sedang mengandung anak Rangga. Kami bahagia sekali, iyakan pah?"
"Oh, iya dong mah!" Sahut pak Diman dengan senyum lebarnya.
__ADS_1
Yesi memaksa senyumnya kemudian berkata. "Kalau begitu Yesi pamit pulang dulu ya om, tante."
"Iya, terimakasih oleh-olehnya ya." Sahut bu Hesti kemudian mengantar Yesi sampai ke depan pintu rumahnya.