Menikahi Calon Suami Tetanggaku

Menikahi Calon Suami Tetanggaku
Chapter 44


__ADS_3

"Kasih makan dulu ya, nak!" Ujar bu Hesti dengan semangkuk bubur ayam.


"Perut Kasih mual mah, gak nafsu makan."


"Satu atau dua sendok yang penting makan. Di paksa masuk aja, biar kamu ada tenaga!"


"Sayang, makan ya...!!" Bujuk Rangga yang hari ini rela membatalkan semua jadwal pekerjaan demi menemani istrinya di rumah.


"Semua gara-gara mas Rangga!" Kasih menunjuk suaminya.


"Eh, kenapa sama mas?" Tanya Rangga mendadak panik.


"Di apain kamu sama Rangga?" Tanya bu Hesti.


"Mas Rangga ngajak main dua ronde!" Jawab Kasih yang lupa jika ada mertuanya di dalam kamar.


"Rangga....!!" Sentak bu Hesti. "Bisa-bisanya ya kamu ini....!!" Dengan mata melotot bu Hesti memarahi anaknya.


Kasih membuka matanya saat ia sadar yang sejak tadi bicara adalah ibu mertuanya.


"Matilah aku....!!" Ujar Kasih mendadak segar.


"Mah, sumpah mah. Cuma main sekali. Tanya aja sama Kasih!"


"Eh, iya mah. Cuma main sekali...!!"


"Mamah gak percaya. Mamah lebih percaya ucapan Kasih yang pertama."


"Mah, serius kami cuma main satu kali." Ucap Kasih tanpa malu lagi.


"Kamu tahu istri kamu sedang hamil muda tapi kok gak bisa mengontrol nafsu mu itu. Mau jadi apa kamu?"


"Mah,...apa sih kok teriak-teriak?" Tanya pak Diman di ambang pintu kamar anaknya.


"Anak kamu ini pah, udah tahu istri lagi hamil muda malah main dua ronde!" Adu bu Hesti marah.


"Cuma sekali kok pah!" Sahut Rangga.


Bug,......


Pak Diman melempar salah satu sandalnya ke arah Rangga.


"Demi anak kok gak mau ngalah. Pantesan aja istri kamu kelelahan!" Pak Diman geram.


"Ah, papah. Seperti orang yang gak pernah muda aja. Pasti papah dan mamah juga pernahkan khilaf seperti ini?"


Ucapan Rangga membuat kedua orang tuanya mati ucap.


"Suapin istri mu makan. Jangan lupa obat dan vitamin di minum. Mamah dan papah mau pergi dulu," ujar bu Hesti mendadak kalem.


Bu Hesti mengajak suaminya keluar dari kamar sang anak.


"Mas, maafin aku. Aku salah ngomong tadi." Kata Kasih.


"Udah, gak usah di pikirin. Sekarang kamu makan ya?"

__ADS_1


"Makannya sama mas ya?"


"Iya,...iya....!!"


Demi menyenangkan hati suaminya Kasih langsung memakan bubur tersebut meskipun perutnya sangat menolak.


"Mas, udah!" Ujar Kasih yang baru makan beberapa sendok.


"Kamu mual lagi?"


"Iya. Mas, aku makan yang asem-asem tapi bukan buah!"


"Lah, apa dong?"


"Permen kek apa kek, asal jangan buah!"


"Oh, iya...iya....!!"


Untung saja sepulang dari rumah sakit tadi Rangga sempat mampir ke minimarket dan mendapatkan kembalian berupa permen rasa lemon dua biji.


Lain pula dengan Mia, perempuan ini yang sudah beberapa hari tidak melihat Kasih dan Rangga merasa penasaran kemana suami istri itu pergi.


"Hai Nada....!!" Mia menghentikan Nada yang hendak masuk ke dalam gerbang rumahnya.


"Ada apa?" Tanya Nada ketus.


"Kemana mbak mu yang jelek itu?"


"Hiidiih,....kepo! Ngatain orang jelek, situ ok?"


"Yang mulai duluan siapa kok sembarangan menyuruh orang menjaga omongan!"


"Dasar anak janda!" Ejek Mia.


"Gak apa-apa anak janda. Yang penting bahagia dan gak makan duit desa!" Sahut Nada juga menyinggung.


"Kau,....!!" Tunjuk Mia. "Kalau berani sini, turun dari motor!" Mia menantang.


"Heh keluarga jelantah. Gak ada habis-habisnya mengusik keluarga orang. Ayo, siapa takut!"


Nada langsung turun dari atas motornya, gadis ini meletakan tas sekolahnya lalu menguncir rambutnya.


"Bilang sama mbak mu itu untuk menceraikan Rangga. Rangga itu sudah di jodohkan dengan aku!" Ujar Mia.


"Dalam mimpi mu," sahut Nada. "Sakit jiwa ini orang!"


"Keluarga mu sakit jiwa!" Sahut Mia tidak terima.


"Keluarga mu yang sakit jiwa. Gak bisa lihat orang lain bahagia!"


Mia maju, perempuan ini hendak menjambak rambut Nada tapi Nada lebih dulu menjambak rambut Mia.


Perkelahian mereka pun tak bisa di hindarkan lagi. Beberapa tetangga yang melihat langsung berlarian ke arah Mia dan Nada yang sedang beradu fisik. Mereka mencoba melerai Nada dan Mia, tapi malah beberapa orang ibu-ibu itu yang jatuh kesusahan.


"Bu, bu Erni itu...si Nada adu jotos sama Mia....!!" Lapor salah seorang ibu-ibu yang sengaja pergi ke toko kue untuk memberitahu bu Erni.

__ADS_1


"Ah, yang bener?"


"Iya bu, ayo pulang dulu....!!"


Bergegas bu Erni pulang, jarak dari toko ke rumah hanya lima menit. Begitu terkejutnya bu Erni saat melihat Nada dan Mia sudah di kelilingi orang banyak.


"Dasar anak setan!" Ucap Mia yang sudah di pegang beberapa orang.


"Kau yang anak setan. Senangnya cuma cari masalah aja!" Sahut Nada.


"Nada, udah nak. Jangan di lawan, biarin aja!" Bu Erni memegangi anaknya.


"Biarin aja bu, kalau gak di lawan mereka itu tuman!"


"Heh Erni, punya anak di jaga ya." Ujar bu Wiwin.


"Anak ibu yang mulai duluan. Jadi, tolong si minyak jelantah ini di jaga!" Sahut Nada kesal.


"Mia,...kamu ini apa-apaan sih?"Sentak Dito. "Bertengkar kok sama anak kecil!"


"Si Mia nih yang duluan nyamperin Nada," ujar salah seorang tetangga mereka.


"Tolong ya bu Wiwin, anaknya di nasehati untuk tidak membuat ulah." Ucap bu Erni geram.


"Anak mu tuh duluan!" Sahut Mia yang tak mau mengalah.


"Mia, udah!" Dito menarik tangan istrinya mengajak pulang.


Entah kenapa hilang Nada dan Mia, kini ganti bu Wiwin dan bu Erni yang saling jambak tidak terima jika anak-anak mereka di salahkan.


Para tetangga kembali di buah heboh. Mereka berusaha memisahkan bu Wiwin dan bu Erni.


"Dasar janda gatal!" Ejek bu Wiwin.


"Kau pun janda juga." Sahut bu Erni. "Suami mu di penjara, udah lama juga kan gak di garuk?"


Bu Erni yang di kenal kalem tiba-tiba saja mengeluarkan taringnya.


"Apa sih bu Wiwin ini, suka sekali cari masalah. Sadar bu, sadar. Lupa kalau ibu udah bikin banyak warga nyaris kehilangan nyawa!" Ujar salah seorang warga.


"Diam kau!" Sentak bu Wiwin kemudian pulang tak kuasa menahan malu.


"Nada, kamu gak apa-apa kan?" Tanya bu Erni.


"Gak kok bu." Jawab Nada.


"Nada, hindarin aja kalau ketemu tuh keluarga perusuh." Ujar salah seorang tetangga.


"Iya bu, tadi ibu lihat sendiri kan kalau Mia yang duluan?"


"Iya. Dasar itu keluarga aneh!"


Nada dan bu Erni pun masuk ke dalam rumah. Nada masih mengomel karena gadis ini masih kesal pada Mia.


"Udah, sabar aja. Pergi mandi gih, lihat pakaian mu kotor semua. Untung udah gak di pake lagi seragamnya."

__ADS_1


"Iya bu," jawab Nada.


__ADS_2