
"Kamu ini kenapa Mia, kok uring-uringan?" Tanya bu Wiwin heran.
"Kasih hamil bu," ujar Mia memberitahu.
"Lalu, apa hubungannya dengan kita?"
"Aku gak terima aja Kasih bisa hidup bahagia sedangkan aku menderita begini."
"Sudahlah, jangan mengurusi si Kasih terus. Urus saja kuliah mu yang terbengkalai itu."
"Gak enak gak ada bapak. Gak ada yang belain aku!" Mia mengeluh.
"Iya, kamu benar. Kalau ada bapak, hidup kita tidak akan seperti ini."
Dito keluar dari kamar.
"Kalian ini tidak ada habis-habisnya menceritakan tentang Kasih. Sudahlah, urus saja diri kalian masing-masing!" Sambung Dito.
"Bela aja terus mantan kamu itu," ucap Mia kesal.
"Bukan perkara mantan atau bukan. Mia, cobalah berprasangka baik sedikit. Aku juga lelah mendengar kau yang hampir setiap waktu membahas tentang keluarga Kasih."
"Ah, tahu apa kau ini." Sentak bu Wiwin pada menantunya. "Dari pada kau banyak omong, mending kamu pulang ke rumah orang tua mu dan minta warisan sana!"
Dito tidak menghiraukan, pria ini mengambil ponsel dan kunci motor miliknya kemudian pergi.
"Dasar menantu tidak berguna!" Umpat bu Wiwin. "Andai keadaan kamu tidak seperti ini, sudah pasti ibu sendiri yang akan mengurus perceraian kalian!"
"Ya udahlah bu. Mau bagaimana lagi, terserahlah."
Mia masuk ke dalam kamar, wanita ini benar-benar memiliki perangai yang sangat buruk.
Hari ini keluarga Kasih kembali ke kampung, betapa bahagianya meraka setelah pulang dari kota. Ada bu Hesti dan pak Diman juga ikut, karena mereka ingin membuat syukuran di kampung.
Tersiarlah kabar jika pak Dimana akan mengadakan acara pesta di rumahnya.Semua warga desa di undang, mereka bebas menikmati jamuan makan dan acara musik.
"Aku ingin datang ke acara pesta itu," ujar Mia.
"Gak lah, kalau kita ke sana yang ada kita malu nanti." Kata bu Wiwin.
"Kita datang bukan untuk menikmati pesta bu, melainkan buat rusuh. Mari kita tumbalkan Nada!"
Mia pun memberitahu ibunya atas rencana yang akan ia lakukan besok malam. Rencana licik untuk mempermalukan keluarga Kasih di hadapan semua warga kampung.
Sedangkan Kasih, wanita ini tidak di izinkan melakukan apapun oleh bu Hesti. Kasih begitu di manjakan, karena ia sedang mengandung anak pertama sekaligus cucu pertama dari dua belah pihak keluarga.
"Sewaktu mamah hamil Rangga, rewel banget Hamilnya. Jangan sampai anak mu ini meniru papahnya." Ujar bu Hesti.
"Semoga aja ya mah!"
"Gimana, apa kamu merasa pusing dan mual setiap hari atau di waktu tertentu?" Tanya mamah Hesti.
__ADS_1
"Gak setiap hari mah, cuma kalau aku mencium bau amis langsung tuh muntah."
"Nanti juga hilang sendiri," ucap bu Hesti.
"Mah, di panggil sama papah!" Ujar Rangga memberitahu.
"Oh, iya....!!"
Bu Hesti pun pergi ke ruang kerja untuk menemui suaminya.
"Sayang, ayo ke kamar!" Ajak Rangga.
"Iya mas."
Mereka pun pergi ke kamar, Kasih beristirahat di sambil mengupas kuaci. Entah kenapa sejak hamil ia suka makan kuaci.
Kasih mengumpulkan kuaci yang sudah di kupas di atas tisu, tiba-tiba saja Rangga menghampiri istrinya lalu memakan kumpulan kuaci yang sudah di kupas oleh sang istri.
Kasih menatap suaminya tajam dengan sorot mata yang berkaca-kaca. Kuaci yang sudah ia kupas bersusah payah malah di makan oleh suaminya.
Seeeeek........
Kasih menghamburkan kulit kuaci di lantai, ia marah kemudian keluar dari kamar tanpa mengatakan apa pun pada suaminya.
"Matilah aku....!" Ucap Rangga ketakutan.
Bergegas Rangga menyusul istrinya yang ternyata berada di ruang perpustakaan rumah.
Rangga yang ingin meraih tangan sang istri langsung di tepi oleh Kasih.
"Sayang maafin mas. Mas sebenarnya bercanda tadi. Mas kupasin ulang ya...!"
Kasih menutup buku lalu menatap suaminya.
"Mas bilang bercanda?" Kasih mengulangi perkataan suaminya. "Mas tahu sendiri aku bersusah payah mengupas satu bungkus kuaci tapi bisa-bisanya mas makan tanpa izin. Bikin sakit hati...!"
"Mas ganti deh!"
"Udahlah, gak perlu. Aku udah gak berselera lagi."
Kasih kembali membaca bukunya sambil mendengarkan rengekan sang suami.
Kasih menghembuskan nafas pelan, tak kuat mendengar rengekan suaminya ia bergegas keluar untuk menghindari Rangga.
"Loh Kasih, kamu mau kemana nak?" Tanya bu Hesti saat Kasih hendak keluar.
"Kasih mau ke toko kue sebentar mah. Rasa-rasanya ingin makan kue sama minum teh hangat."
"Kenapa gak sama Rangga perginya?" Tanya bu Hesti heran.
"Gak apa-apa mah. Ya udah, Kasih pergi dulu."
__ADS_1
Bu Hesti merasa curiga saat melihat wajah menantunya yang di tekuk.
"Mah, apa mamah lihat Kasih?" Tanya Rangga yang baru saja menyusul keluar.
"Pergi ke toko. Rangga, kamu apakan istri mu?" Tanya bu Hesti yang curiga. Bukannya apa, ia tahu betul sikap anaknya yang suka mengerjai orang.
"Kasih marah sama aku!" Jawab Rangga jujur.
"Kenapa?"
"Pas di kamar dia mengupas kuaci terus di kumpulin di atas tisu. Aku bercanda aja, kuaci yang udah di kupas aku ambil lalu aku makan."
Bu Hesti menggertakkan semua giginya geram lalu menendang kaki anaknya sendiri.
"Sakit mah!"
"Kalau mamah jadi istri kamu, mamah bakal pulang ke rumah orang tua mamah. Istri kamu itu lagi hamil, perasaannya sensitif. Janganlah bercanda yang kelewatan batas. Heran sama kamu, gak bisa berubah!"
"Ada apa sih mah, kok marah-marah?" Tanya pak Diman yang baru keluar dari arah dalam.
"Anak kesayangan kamu ini pah. Heran, ngerjain istri sendiri sampai Kasih marah. Mau jadi apa si Rangga ini?"
"Ya maaf," ucap Rangga. "Biasanya juga Kasih kalau di ajak bercanda gak marah."
"Masalahnya apa dulu, kok besar amat?" Pak Diman iseng bertanya.
"Si Kasih ngidam makan kuaci, terus di ngupasin tuh kuaci lalu isinya di kumpulin. Eh, si Rangga malah memakannya tanpa izin. Ya marah lah menantu mu itu pah," adu bu Hesti pada suaminya.
Pak Diman menatap anaknya tajam, ingin rasanya memukul wajah Rangga yang begitu menyebalkan ini.
"Tidak semua hal bisa kamu bercandaain, Rangga. Kalau papah jadi Kasih, papah hajar kamu! Susul istri kamu, minta maaf sana!"
"Iya pah....!"
Rangga kemudian pergi menyusul istrinya.
"Semua gara-gara kuaci...!" Ucap Rangga sebelum melajukan mobilnya.
Setibanya di toko kue, Rangga langsung masuk dan mendapati sang istri yang sedang makan kue sambil minum teh bersama Nada.
"Sayang,....!!" Panggil Rangga membuat Kasih memutar bola matanya malas. "Sayang, mas minta maaf ya."
"Udahlah. Gak usah di bahas. Ayo pulang!" Ujar Kasih.
"Tapi kamu masih marah loh sama mas!"
"Gak marah, ayo pulang mas. Sudah sore!"
Nada hanya bisa diam saja melihat kelakuan Rangga dan Kasih.
"Da, mbak titip motor." Ujar Kasih sebelum pulang.
__ADS_1
"Iya mbak!"