
Satu bulan kemudian, kehidupan di desa tampak damai sejak kejadian Keluarga bu Wiwin bertengkar dengan keluarga bu Erni.
Bu Wiwin dan Mia semakin di benci para tetangga dan warga setempat.
"Sudah lama gak ada yang bikin heboh ya bu,ibu!" Ucap salah seorang warga.
"Iya bu, tumben banget itu si Mia tidak bikin ulah!" Ujar bu Mawar.
"Eh, ibu-ibu. Tahu gak, kata orang-orang, itu si Dito udah nikah lagi secara diam-diam sama kembang desa sebelah!" Kata bu Julaiha memberitahu.
"Ah, iya. Aku juga dengar!" Timbal bu Marni.
"Biar tahu rasa tuh si Mia!" Seru bu Mawar.
"Wah,...wah,....dasar orang kumpang. Senangnya bergosip tapi tidak bercermin pada dirinya sendiri," sahut Mia yang tiba-tiba muncul di tongkrongan bu Mawar, bu Julaiha dan bu Marni.
"Siapa yang bergosip? Masa kamu gak tahu kalau suami mu hampir setiap hari pergi ke desa sebelah?" Ketus bu Mawar.
"Makanya Mia, jadi istri itu yang baik dan penurut. Alhasil malah di tinggal nikah diam-diam!" Sahut bu Marni.
Seketika Mia diam saja, sebenarnya ia sudah mendengar desas desus jika Dito sudah menikah lagi secara diam-diam dengan perempuan lain di desa sebelah.
Mia memutuskan untuk pulang, hatinya tiba-tiba saja berkecamuk penasaran.
"Siap-siap kampung heboh bu,...!" Ucap bu Mawar.
Untuk pertama kalinya Mia pulang ke rumah sambil menangis. Bu Wiwin yang sedang berada di dapur langsung keluar saat mendengar tangisan anaknya.
"Mia, kamu kenapa? Siapa yang sudah membuat mu menangis?" Tanya bu Wiwin.
"Bu,....!!" Mia memeluk ibunya.
"Kamu kenapa Mia?"
"Semua orang bilang kalau Dito nikah lagi secara diam-diam dengan perempuan dari desa sebelah. Aku gak terima," adu Mia dengan isak tangisnya.
"Jadi benar isu yang beredar itu?"
"Aku gak mau di madu, bu. Aku gak mau di madu!"
"Benar-benar keterlaluan, awas aja. Ayo kita pergi ke rumah mertua mu!"
Bergegas bu Wiwin dan Mia pergi ke rumah pak Fahmi. Hanya butuh waktu sepuluh menit mereka sudah sampai.
"Dito,...Dito....!" Teriak bu Wiwin. "Bajingan, sialan, keluar kau!" Umpat bu Wiwin sedangkan Mia hanya bisa menangis.
Mendengar suara ribut-ribut di luar, para tetangga dan pak Fahmi sendiri langsung keluar. Kebetulan sekali Dito dan Arum sedang menginap di rumah pak Fahmi.
"Kenapa kau teriak di rumah ku hah?" Sentak pak Fahmi.
__ADS_1
Betapa sakit hati Mia saat melihat suaminya keluar bersama perempuan lain.
"Oh, jadi ini alasan kamu jarang pulang?" Tanya Mia dengan suara sesegukkan.
"Kau sendiri yang menantang ku untuk mencari perempuan lain," sahut Dito.
"Berani-beraninya kau memadu anak ku. Dasar bajingan!" Bu Wiwin benar-benar geram dan marah pada Dito.
"Dito, kenapa kau tega sekali?" Tangis Mia semakin deras.
Bu Wiwin yang tidak terima hendak menjambak Arum tapi dengan cepat Dito menarik Arum kebelakang dirinya.
"Jangan sentuh istri ku!" Ucap Dito.
"Aku tidak terima, kenapa kau tega menikah lagi?"
Tangis Mia semakin kencang.
"Harusnya kalian sadar diri kenapa anak ku sampai menikah lagi," ucap bu Rima.
"Apa kurangnya anak ku hah? Di banding dengan pelakor ini, Mia jauh lebih cantik dan segalanya!"
"Aku sudah berapa kali mengajak Mia bercerai. Tapi dia tidak mau, aku juga sudah memberikan kesempatan bagi Mia untuk berubah tapi dia malah menantang ku. Laki-laki mana pun pasti akan mengambil keputusan yang sama jika istrinya sama seperti Mia." Jelas Dito panjang lebar.
"Ceraikan dia....!" Titah Mia tidak terima.
"Aku tidak akan menceraikan Arum tapi aku sudah mengurus surat perceraian dengan Mia." Sahut Dito membuat Mia semakin histeris.
"Tega-tega nya kamu, Dito!" Bu Wiwin geram.
"Makanya Mia, berubah. Sifat, sikap dan kelakuan kamu dan ibu mu sudah sangat mengganggu para tetangga!" Celetuk salah seorang tetangga.
Pak Fahmi tidak peduli, ia mengajak istri dan anak mantunya masuk ke dalam.
Bu Wiwin yang sudah menahan malu mencoba membujuk Mia pulang tapi Mia tidak mau pulang dan tetap menangis di depan rumah mertuanya.
"Mia ayo pulang. Ibu malu," ucap bu Wiwin.
"Kalau Dito menceraikan aku, siapa yang akan menghidupi kita bu?"
Bukannya merasa bersalah atau apa, Mia malah memikirkan hal seperti itu.
"Udah, yuk pulang. Malu...!!"
Bu Wiwin menarik anaknya menuju motor, memaksa Mia untuk pulang.
Mau tidak mau Mia pulang ke rumahnya, Dito yang sudah tidak peduli lagi pada Mia lebih memilih berada di dalam rumah.
Setibanya di rumah, Mia langsung masuk ke dalam kamar. Perempuan ini mengambil pakaian milik suaminya lalu membuangnya ke depan rumah.
__ADS_1
"Sebenarnya bukan salah Dito kalau dia menikah lagi. Makanya Mia, jadi dia perempuan itu harus bisa menghargai suami." Celetuk bu Mawar.
Mia mengusap air matanya kasar, lalu memandang jengah pada tetangganya ini.
"Gak usah ikut campur urusan orang lain!" Sentak bu Wiwin.
"Makanya anak di didik bu Wiwin. Sekeluarga kok sakit jiwa semua!" Sahut bu Marni.
"Bubar gak,....!"
Mia melempar sendal miliknya ke arah ibu-ibu yang menggosip.
Bu Wiwin mengajak anaknya masuk, keduanya sudah merasa malu tinggal di kampung ini.
"Ibu akan menjual rumah ini dan dua tanah kita yang masih ada," ujar bu Wiwin memberitahu anaknya.
"Kalau di jual, kita mau tinggal di mana bu?"
"Kita pindah ke kota aja. Biar lebih dekat kalau mau jenguk bapak."
"Tapi bu ....!"
"Ibu sudah malu tinggal di kampung ini. Lagian semua orang selalu menghujat kita."
"Tapi, Dito....!!"
"Sudahlah, lebih baik kalian bercerai. Lagian, kita juga salah!" Ujar bu Wiwin sadar.
"Tapi aku tidak terima di madu bu!"
"Sudahlah Mia. Lebih baik kita pindah, kau pasti tahu jika gosip ini sudah pasti akan sampai ke desa-desa lain."
"Terserah ibu aja!"
Bu Wiwin memijat keningnya yang terasa nyeri. Hidupnya tidak pernah tenang sejak suaminya masuk ke dalam penjara.
Nada, gadis ini langsung memberitahu ibunya tentang kabar panas yang sedang beredar. Tentu saja bu Erni merasa kasihan pada nasib bu Wiwin dan Mia.
"Ibu mau kemana?" Tanya Nada.
"Mau ke rumah bu wiwin. Kasihan Mia."
Nada menarik tangan ibunya.
"Udahlah bu, gak usah ke sana. Nanti kita di bilang mau menertawakan mereka lagi."
"Eh, iya juga. Ibu mau ngapain ke sana? Gak jadi deh!"
"Udah, gak usah. Nanti kalau mbak Kasih tahu, dia marah."
__ADS_1
Bu Erni kembali duduk lagi, entah punya pemikiran dari mana ia hendak pergi ke rumah bu Wiwin.