Menikahi Calon Suami Tetanggaku

Menikahi Calon Suami Tetanggaku
Chapter 58


__ADS_3

"Ya ampun, mas seneng banget loh bisa pergi berdua sama kamu seperti ini," ucap Daffa yang saat ini sedang mengemudi mobil menuju kota.


"Eh, masa?" Gurau Nada.


"Belajar yang rajin ya sayang mas. Demi masa depan kita," ucap Daffa dengan lembut hingga membuat wajah Nada merona malu.


"Hidih,...sayang. Aku udah punya pacar loh mas." Bohong Nada.


"Bodoh amat, panggil sini pacar kamu."


"Mau di apain?"


"Balikan ke rahim ibunya!" Jawab Daffa membuat Nada tertawa.


"Ada-ada aja, heran sama kamu mas!"


"Kita pulang ke rumah mas dulu ya, istirahat sebentar nanti siang baru kita cari kampusnya."


"Iya mas, terserah mas aja. Di anterin seperti ini aja udah syukur."


"Ehem,...calon mertua udah nunggu loh di rumah," ucap Daffa.


"Apa sih mas?" Protes Nada.


"Ya gak kenapa-kenapa, kamu cantik hari ini."


"Mas, udah deh. Perasaan dari berangkat udah sampai kota begini masih aja ngegombal."


"Kalau hari ini pulang ke kota semangat karena ada kamu. Coba kemarin, beeeh....ngadepin dua nenek ember. Di dalam mobil ribut mulu."


"Siapa mas?" Tanya Nada penasaran.


"Tamunya tante Hesti," jawab Daffa.

__ADS_1


"Aku gak tahu malah kalau di rumah mas Rangga kedatangan tamu."


"Gak nyampe satu hari, udah di usir sama Rangga." Sahut Daffa lalu pria ini tertawa.


"Ah, masa sih mas? Kenapa?"


"Mereka rese, wajar aja jika di usir sama kakak ipar mu."


"Lucu....!"


"Apanya yang lucu?"


"Itu tamunya....!"


"Masih lucuan kamu loh, sayang mas. Uh...itu senyumnya manis banget kek gula aren, jadi gemes!"


"Mas, udah deh. Aku nya malu....!!"


"Nanti kalau udah kuliah, kalau kehabisan uang ngomong sama mas ya. Mas gak mau kalau calon istri tercinta sampai kelaparan."


"Itukan dari serangga, mas juga pengen ngasih kamu."


"Nada bilang mas Rangga loh kalau mas Daffa ngatain dia serangga." Ancam Nada.


"Ya enggak apa-apa, kalau calon istri senang apa pun akan di lakukan oleh calon suami."


"Mas, gombal mulu deh dari tadi."


"Ya biarin aja, biar semangat!"


Mobil memasuki kawasan perumahan yang cukup elit, Nada kagum melihat kawasan orang kaya ini.


"Udah nyampe, nah itu mamah nungguin di pintu."

__ADS_1


"Aduh, kok aku berdebar ya mas?"


"Mau ketemu calon mertua wajar aja berdebar."


"Mas, iiiih......!!" Nada mencubit lengan Daffa.


"Aduh, yang di cubit lengan serasa hati yang di cium. Ya udah, ayo turun!"


Huft......


Nada hanya bisa membuang nafas kasarnya.


"Ya ampun,...cantik banget calon mantu," ucap Santi, mamah Daffa.


"Eh,....!" Nada mengeryitkan kedua alisnya. "Hallo tante....!" Sapa gadis ini dengan senyum termanisnya.


"Hallo juga sayang, ayo masuk. Tante udah siapin kamar buat kamu selama di sini."


"Cuma tiga hari loh mah!" Seru Daffa.


"Ya gak apa-apa. Nanti pergi sama tante aja nyari kampusnya. Kita cari yang berkualitas."


"Enak aja, pergi kok sama nenek-nenek. Harusnya sama aku dong, calon suaminya." Ujar Daffa yang tidak terima.


"Mas, gak sopan loh ngatain orang tua nenek-nenek." Sahut Nada.


Bu Santi mengejek dengan bibir mencongnya.


"Nah, ini kamar kamu. Istirahat gih. Tante mau masak buat makan siang."


"Terimakasih tante. Gak usah repot-repot," ucap Nada sungkan.


"Tidak merasa di repotkan. Tante senang loh, soalnya tante cuma punya dua anak cowok tuh yang satu masih sekolah menengah pertama."

__ADS_1


"Oh, begitu....!"


Bu Santi menyeret Daffa keluar dari kamar tamu untuk membiarkan Nada beristirahat. Tentu saja Daffa tidak terima, ibu dan anak ini saling beradu argumen.


__ADS_2