Menikahi Gadis Polos

Menikahi Gadis Polos
Bab 10. Tiba di Bali


__ADS_3

Angel tengah dalam perjalanan pulang bersama kedua orangtuanya, namun ia masih terus memikirkan Nayaka dan bahkan tak bisa melupakan pria itu.


Tata serta Ferdi pun terlihat bingung, mereka juga tidak mengerti mengapa Angel bisa sampai sesedih itu karena ditinggal pergi oleh Nayaka yang hanya seminggu.


"Angel, kamu masih sedih karena Nayaka pergi?" tanya Tata sambil menoleh ke kursi belakang.


"Iya ma, aku khawatir kak Nayaka keasyikan disana terus gak mau kembali. Aku takut kehilangan kak Nayaka!" jawab Angel.


"Bicara apa sih kamu? Mana mungkin Nayaka menghilang dari kamu?" ujar Tata.


"Iya Angel, kamu jangan mikir begitu lah! Kamu harus percaya sama Nayaka kalau dia akan kembali buat kamu!" timpal Ferdi.


"Tapi ma, pa. Baru kali ini kak Nayaka pergi jauh dari aku, makanya sulit buat aku terima kenyataan. Aku kan biasanya setiap hari selalu sama kak Nayaka, mulai dari berangkat sampai pulang sekolah," ucap Angel.


"Itu artinya mulai sekarang kamu harus terbiasa tanpa Nayaka! Dia itu kan model, pasti dia sering dapat job ke luar kota seperti sekarang. Jadi, kamu harus maklumi itu!" ucap Ferdi.


"Ih aku gak mau pa! Biar nanti aku minta kak Nayaka berhenti jadi model aja," ucap Angel.


"Loh jangan dong sayang! Jadi model itu kan keinginannya Nayaka, masa kamu tega suruh dia berhenti? Itu namanya kamu gak sayang sama dia," ucap Tata.


"Tapi ma, aku kan pengen kak Nayaka ada di dekat aku terus. Aku gak bisa jauh-jauh dari kak Nayaka," ucap Angel.


"Gak lama kok sayang, cuma seminggu. Selagi gak ada Nayaka, mama sama papa bakal temenin kamu terus deh sebagai gantinya," bujuk Tata.


"Tetep aja rasanya beda," keluh Angel.


"Terus maunya gimana? Nyusul Nayaka ke Bali gitu?" tanya Ferdi tampak kesal.


"Nah iya, kalo itu aku mau pa!" jawab Angel antusias.


"Tapi papa yang gak mau," ujar Ferdi.


"Ih kok gitu? Terus kenapa papa tadi nyaranin buat nyusul ke Bali??" tanya Angel heran.


"Cuma basa-basi itu mah," kekeh Ferdi.


"Ish papa jahat!" kesal Angel.


Gadis itu pun membuang muka sembari melipat kedua tangan di depan, ia memasang wajah cemberut akibat kelakuan papanya tadi.


"Tuh kan, papa sih ih pake bercanda segala! Jadi tambah ngambek tuh dia," tegur Tata.


"Biarin aja ma, nanti juga baik sendiri. Sekarang kita fokus pulang aja," ucap Ferdi.


"Jangan pulang dulu deh pa! Kita ke restoran biasa aja, siapa tahu Angel bisa gak sedih," usul Tata.


"Mama yakin Angel mau diajak ke restoran saat lagi sedih begini?" tanya Ferdi.

__ADS_1


"Ya gak tahu juga sih pa, tapi gapapa kita coba aja dulu. Kalau ditanya, nanti pasti jawabannya gak mau. Angel mungkin lebih milih pulang dan ngurung diri di kamar," jawab Tata.


"Yaudah, kita langsung aja ya ke resto nya?" ucap Ferdi.


"Iya pa,"


Ferdi pun mengarahkan mobilnya menuju restoran tempat mereka sekeluarga biasa makan tanpa sepengetahuan Angel.


Dan sesampainya disana, Angel terlihat bingung karena mereka tiba di sebuah restoran bukannya rumah seperti ucapan orangtuanya tadi.


"Ma, pa, kita ngapain kesini? Aku kan mau pulang tau," tanya Angel.


"Kita makan dulu ya sayang? Kamu itu kan lagi sedih, pasti kalo di rumah susah makan. Jadi, mama sama papa sengaja bawa kamu kesini biar kamu bisa makan apapun yang kamu mau dan sukai," jawab Tata.


"Tapi ma, aku gak mau!" sentak Angel.


Tata dan Ferdi saling memandang satu sama lain, benar saja dugaan mereka tadi kalau Angel tidak akan menyukai kejutan itu.




Sementara itu, Nayaka tiba dengan selamat di kota Bali meskipun pesawat yang ia tumpangi tadi sempat mengalami masalah.


Nayaka tampak bernafas lega dan mengucap syukur karena ia masih diberi kesempatan untuk hidup.


"Betul mas! Padahal tadi saya udah panik banget," ucap Nara.


"Itu dia Nara, makanya sebelum bepergian kemana-mana tuh berdoa dulu!" ujar Nayaka.


"Ih saya berdoa kok, mas Nayaka kali yang enggak," ucap Nara.


"Sembarangan kamu! Saya selalu berdoa dimana pun dan kapanpun," ucap Nayaka membela diri.


"Hehe, kirain gitu mas Nayaka lupa karena kepikiran terus sama Angel," ucap Nara.


"Sudahlah, ayo kita segera ke penginapan! Besok kan pemotretan nya dimulai, kita manfaatin waktu buat istirahat atau mungkin jalan-jalan dulu!" ucap Mawar menengahi.


"Iya Bu manager, aku juga udah gak sabar pengen jalan-jalan ke pantai," ucap Nara.


"Jalan-jalan, kamu itu disini buat bantu kerjaan saya, bukan malah jalan-jalan. Paham gak sih kamu Nara?!" sentak Nayaka.


"Maaf mas! Tapi, saya kan juga berhak dong buat refreshing. Masa iya harus kerja terus?" ujar Nara.


"Refreshing boleh, tapi gak diwaktu kerja juga dong," ucap Nayaka.


"Iya iya mas, terserah mas Nayaka aja deh," ucap Nara pasrah sambil mengerucutkan bibirnya.

__ADS_1


Nayaka menggeleng pelan, kemudian mengambil ponsel untuk segera menghubungi Angel bahwa ia sudah sampai disana.


...Nayaka...


...Hai Angel! Aku udah sampe nih di Bali, kamu disana baik-baik aja kan sayang?...


Begitulah isi pesan yang dikirimkan Nayaka pada Angel, ia tersenyum menanti balasan dari sang kekasih.


"Mas, ngapain sih senyum-senyum gitu? Ayo kita ke mobil mas!" tegur Nara.


"Apa sih kamu Nara? Bisa gak kamu itu diam sebentar dan biarin saya tenang?" kesal Nayaka.


"Loh kok mas marah-marah sama saya? Kita kan emang harus ke mobil mas," ujar Nara.


"Ya ya ya, ayo ke mobil! Kamu bawain koper saya ya!" pinta Nayaka.


"Siap mas!" ucap Nara patuh.


Nayaka akhirnya meletakkan ponselnya sejenak di saku celana, lalu melangkah bersama sang asisten menuju mobil yang sudah disiapkan oleh pihak manajemen sebelumnya.


"Nara, kita pemotretan besok jam berapa? Saya lupa sama schedule nya," tanya Nayaka.


"Eee jam delapan pagi mas dimulai nya, jadi mas Nayaka bisa siap-siap dari jam enam atau tujuh pagi," jawab Nara.


"Bangunin saya jam lima ya!" pinta Nayaka.


"Ba-baik mas!" ucap Nara.


Nayaka pun kembali mengecek ponselnya, namun masih belum ada balasan chat dari Angel.


"Haish, kamu kemana sih Angel?" batinnya.


Sementara Nara melirik sekilas ke belakang untuk memastikan Nayaka baik-baik saja, ia menggeleng begitu menyadari Nayaka tengah memandangi layar ponselnya.


"Ada apa Nara? Kenapa kamu ngeliatin saya seperti itu?" tanya Nayaka menegur asistennya.


"Eh eee gak ada kok mas, saya cuma penasaran ngapain mas ngeliatin ponsel terus," jawab Nara.


"Apa sekarang saya harus kasih tahu semuanya ke kamu Nara?" kesal Nayaka.


"Hah? Enggak mas enggak, saya minta maaf mas!" ucap Nara ketakutan.


Nayaka mendengus pelan dan kembali fokus menatap layar ponselnya, sedangkan Nara juga beralih menatap jalanan.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...

__ADS_1


__ADS_2