
Jefri terdiam saat itu juga, ia menyesali perbuatannya yang tidak bisa menahan diri malam itu untuk tidak menyentuh Zefa.
"Kamu sadar kan sekarang? Bukan cuma aku yang jahat disini Jefri, tapi kamu juga!" ucap Zefa.
"Ini persoalan yang beda Zefa, jangan kamu sangkut pautkan dong!" ucap Jefri membela diri.
"Kamu emang pinter ngeles ya Jef! Yaudah, sekarang aku mau kamu biarin aku pergi! Dengan begitu, aku gak akan ungkit-ungkit lagi soal kamu yang udah tidurin aku. Gimana? Kamu mau kan bantu aku Jefri?" ucap Zefa.
"Gak bisa Zefa, aku udah terlanjur janji sama Nayaka buat bantu dia lepas dari kamu. Lagipun, aku juga gak bisa lepasin kamu gitu aja, aku ini cinta sama kamu Zefa!" ucap Jefri.
"Cinta? Are you sure?" tanya Zefa ragu.
"Aku gak pernah seyakin ini Zefa, aku belum pernah merasakan cinta sebelumnya, tapi begitu lihat kamu, aku langsung merasakan ada sesuatu yang beda di hati aku," jawab Jefri.
"Halah stop galaunya ya Jefri! Aku gak mau dengar apa-apa dari mulut kamu lagi!" ujar Zefa.
"Eh, kamu mau kemana Zefa?" tanya Jefri seraya menahan tangan Zefa.
"Lepasin aku Jef! Biarin aku pergi!" pinta Zefa.
"Aku gak akan lepasin kamu, kamu harus tetap disini sama aku!" tegas Jefri.
TOK TOK TOK...
Tiba-tiba suara ketukan pintu terdengar dari arah luar, membuat Jefri dan Zefa menoleh bersamaan ke pintu dengan wajah penasaran.
"Siapa ya?" lirih Jefri.
Jefri melirik ke arah Zefa, tampak wanita itu tersenyum tipis seolah ada yang sedang direncanakan olehnya.
"Itu pasti bang Jeon, akhirnya bantuan datang juga!" batin Zefa.
"Heh!" tegur Jefri yang sontak membuat Zefa kaget dan menatap wajahnya.
"Apaan sih? Ngagetin aku aja deh kamu, udah sana kamu bukain tuh pintunya! Emang kamu gak dengar ada yang datang?" ucap Zefa.
"Itu pasti orang suruhan kamu kan? Siapa yang kamu hubungi buat datang kesini, ha?" tanya Jefri.
"Hah? Kamu kalo ngomong jangan aneh-aneh deh! Aku gak ada hubungin siapa-siapa kok, lagian hp aku kan disita sama kamu. Gimana caranya aku bisa telpon seseorang?" ujar Zefa berbohong.
Jefri kembali terdiam, menurutnya benar juga yang dikatakan Zefa karena dari kemarin sampai sekarang ponsel Zefa ada padanya.
"Terus siapa ya yang di luar itu?" batin Jefri.
Akhirnya Jefri melepas tangan Zefa, memperingati wanita itu agar tetap disana selagi ia membuka pintu.
"Kamu diam aja disini, jangan kemana-mana!" ucap Jefri dengan lantang.
__ADS_1
Zefa menuruti saja kemauan Jefri, ia berdiam di tempat sembari menunggu kemungkinan bahwa abangnya lah yang datang kesana.
Sementara Jefri sudah berjalan menuju pintu dengan perlahan sambil berpikir siapa yang berkunjung ke tempatnya pagi-pagi begini.
Ceklek
Jefri membuka pintu, dilihatnya sosok lelaki menggunakan masker hitam serta topi dengan warna senada yang menutupi sebagian wajahnya.
Meski begitu, Jefri dapat mengenali bahwa yang berdiri di hadapannya itu adalah Jeon, sang kakak dari Zefa.
"Dimana Zefa? Cepat bebaskan dia atau kamu akan habis saat ini juga!" ucap Jeon.
"Siapa yang kasih tau lu alamat tempat tinggal gue?" tanya Jefri tegas.
"Itu gak penting, sekarang juga saya minta kamu lepaskan adik saya!" sentak Jeon.
"Kalo gue gak mau gimana? Lagian adik lu udah nyaman kok tinggal disini," ujar Jefri.
"Kurang ajar! Kamu sepertinya minta dihabisi!" geram Jeon.
"Siapa takut?" tantang Jefri.
Zefa di belakang sana hanya senyum-senyum tipis mengetahui abangnya datang dan akan menyelamatkannya dari sana.
•
•
Padahal Nayaka sama sekali tak pernah meminta Jefri untuk meniduri Zefa, tetapi lelaki itu malah melakukannya demi kepuasan dirinya tentu.
"Aaarrgghh ada-ada aja emang si Jefri! Nambah beban aja!" geram Nayaka.
"Gimana coba kalau Zefa gak terima dan malah ungkit-ungkit soal itu? Jefri bisa dalam bahaya, emang dah tuh anak gak bisa banget nahan hasratnya!" ujar Nayaka.
"Ya sebenarnya saya juga sama sih, buktinya waktu itu saya bobol gawang Zefa," sambungnya.
Saat ini Nayaka memang masih berada di ruang tamu, ia duduk menunggu kedatangan kedua orangtuanya sambil terus mengusap wajahnya.
"Tuan Nayaka!" sapa Lita yang tiba-tiba datang.
"Hah Bu Lita? Ngagetin aja sih Bu, untung saya gak jantungan!" ujar Nayaka mengelus dada.
"Maaf tuan! Saya cuma mau kasih kabar kalau makanan yang tuan pesan sudah siap," ucap Lita.
"Oh iya iya Bu, terus mama sama papa saya udah datang apa belum?" tanya Nayaka.
"Kayaknya belum sih tuan, soalnya daritadi juga gak ada yang ketuk pintu atau pencet bel. Mungkin mama sama papanya tuan masih di jalan kali," jawab Lita.
__ADS_1
"Yaudah, makasih ya Bu! Bu Lita sekarang bisa kembali ke dapur, lanjutin pekerjaannya!" ucap Nayaka.
"Siap tuan! Kalo gitu saya permisi," ucap Lita.
"Ya silahkan!" ucap Nayaka singkat.
Lita pun kembali ke dapur meninggalkan Nayaka seorang diri di sofa, Nayaka memang masih setia menunggu orangtuanya sampai datang sembari memainkan ponsel.
"Huft, mama papa kemana sih? Kok lama ya?" gumam Nayaka.
Ting nong ting nong...
Akhirnya terdengar bunyi bel dari arah luar rumah, sontak Nayaka bangkit dan menatap pintu berharap yang datang adalah orangtuanya.
"Semoga itu mama dan papa!" ucap Nayaka.
Nayaka berjalan mendekati pintu, membukanya untuk mengetahui siapa yang datang.
Ceklek
Dan benar ternyata yang ada di depan rumahnya saat ini adalah Ellya serta Herlambang, alias kedua orang tua Nayaka.
"Mama, papa? Akhirnya mama papa datang juga!" ucap Nayaka sambil tersenyum.
"Iya Nayaka, maaf ya kita lama! Kamu pasti udah nungguin kita ya?" ucap Ellya.
"Ya gitu deh ma, soalnya aku gak sabar mau ketemu mama sama papa," ucap Nayaka.
"Ah bisa aja kamu! Terus istri kamu mana? Dia ada di rumah kan?" tanya Ellya.
"Ada kok ma, Angel masih siap-siap di kamar. Yuk mama papa masuk aja dulu! Kita ngobrol sambil minum biar enakan," ajak Nayaka.
"Boleh tuh, kebetulan papa haus. Ada es segar kan di dalam?" ujar Herlambang.
"Tenang aja pa! Semuanya udah aku siapin kok, ada makanannya juga buat ngemil supaya enak ngobrolnya. Ayo pa, ma, kita masuk aja!" ucap Nayaka.
"Iya, tapi kamu gak boleh minum es loh mas! Nanti kamu sakit lagi loh," ucap Ellya.
"Ah gapapa, sekali-sekali mah gak ada masalah. Lagian udah disiapin kok sama Nayaka, masa gak diminum?" ucap Herlambang.
"Hadeh, terserah kamu deh mas! Yaudah, ayo kita masuk Nayaka! Mama juga gak sabar pengen ketemu istri kamu," ucap Ellya.
"Jangankan mama, papa juga udah kangen sama nak Angel. Ayolah kita buruan masuk!" timpal Herlambang.
Nayaka terkekeh saja mendengar ucapan mama dan papanya itu, lalu mereka pun masuk ke dalam secara bersama-sama.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...