Menikahi Pengasuhku

Menikahi Pengasuhku
Bab 10


__ADS_3

Mereka bilang air hujan adalah Rahmat Tuhan, tapi banyak dari mereka yang menghindarinya, mencari naungan tempat untuk berteduh dari derasnya air yang dengan mudahnya membasahi bumi, adapula dari mereka yang membenci kedatangannya yang terkadang merusak berbagai rencana yang sudah mereka siapkan dari jauh-jauh hari. Yah, begitulah manusia, seluas apapun nikmat yang mereka dapatkan tidak pernah merasa cukup.


Wanita cantik itu tetap tertunduk diam di bawah naungan bayangan pohon rindang yang berada di tengah taman kota, derasnya air hujan tidak dapat membujuknya untuk beranjak dari tempatnya menangis meratapi nasib. Bibir ranumnya kini mulai kebiruan menahan dinginnya udara yang datang bersama dengan air hujan, tangan ramping itu kini mulai memucat kedinginan, namun sama halnya dengan langit yang enggan untuk menghentikan airnya, begitu pula air mata wanita itu, terus saja menerobos keluar dari kedua bola mata indah Ara.


Ara merasa sangat kesepian, tidak ada seorangpun yang akan peduli padanya dengan semua hal yang telah terjadi padanya, sekarang ia hanya membutuhkan pelukan hangat dari seseorang untuk menenangkan hatinya yang pilu, seseorang yang mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja, seseorang untuk membagi luka dan beban yang kini memenuhi hatinya, tapi ia tidak bisa menemukan siapapun, hatinya kosong.


Begitu larut dalam kesedihannya, membuat Ara tidak menyadari kedatangan seseorang yang menghampirinya,sampai ia melihat sepasang kaki yang mengenakan sandal rumah dihadapannya, membuat ia mengangkat pandangannya untuk melihat siapapun yang telah menghampirinya.


Tatapan Ara membeku pada sosok Hansel yang berdiri di hadapannya, rambutnya yang berwarna kecoklatan tampak berantakan, Hansel terlihat tampan meskipun hanya menggunakan kaos berwarna putih dibalik jaket yang dikenakannya, mata sebiru lautan itu dipenuhi rasa khawatir, tangan kokoh Hansel terulur memegang payung untuk menghalau air hujan dari tubuh Ara yang sudah basah kuyup.


"Hansel?" ucap Ara lirih, suaranya tersamarkan oleh rintik hujan.


"Bod*h," kesal Hansel. Ia sangat kesal kepada istrinya itu, bagaimana bisa Ara tidak menghubunginya dengan semua yang telah terjadi padanya, Ara seharusnya bisa sedikit bergantung pada dirinya, meskipun usianya jauh lebih muda dari Ara, tapi sekarang Hansel adalah suaminya, sudah merupakan kewajiban bagi seorang suami untuk melindungi istrinya, jadi kenapa Ara tidak mau untuk sedikit bermanja padanya, "Ayo pulang!"


Tanpa menunggu tanggapan Ara, tangan besar Hansel segera menarik Ara untuk berdiri, membawa wanita pujaannya untuk menuju mobil, lengannya merangkul bahu Ara dengan protektif.


Mereka masuk kedalam mobil yang memiliki merk terkenal dengan harga selangit milik Hansel dan langsung melesat menuju rumah, diikuti oleh dua mobil lain yang merupakan pengawal Hansel. Sepanjang perjalanan Ara tampak hanya tertunduk lesu, sesekali air mata masih menetes dari sudut matanya, membuat Hansel tidak tahan lagi.

__ADS_1


Hansel menarik tubuh Ara dalam pelukannya, menepuk lembut punggung Ara, memberinya semangat,hanya itu yang bisa ia lakukan.


" Menangislah! Jangan ditahan! keluarkan semuanya ! Aku ada disini," ucap Hansel lembut, seraya terus menepuk punggung istrinya itu.


Sontak ucapan Hansel membuat isakkan Ara dalam pelukan Hansel semakin keras, Ara menangis semakin keras dalam pelukan Hansel, berusaha mengurangi rasa sakit hatinya.Hingga tidak terasa kini mobil mereka sudah memasuki pekarangan rumah mereka.


Hansel melepaskan pelukannya dari tubuh sang istri, keluar dari mobil begitu pintu itu dibukakan oleh seorang pelayan, kini giliran Hansel yang membukakan pintu untuk Ara, yang masih enggan untuk turun dari mobil, namun bukannya menggandeng tangan sang istri Hansel justru mengangkat tubuh Ara dalam gendongannya, kedua lengan kokohnya membopong tubuh Ara yang terlihat sangat terkejut dengan kelakuan suaminya tersebut, apalagi para pelayan melihat semua adegan yang terlihat seperti berada di sebuah drama Korea.


"Turunkan aku Hansel! Aku bisa jalan sendiri," protes Ara namun tidak ditanggapi serius oleh Hansel. Suaminya itu terus melangkahkan kakinya menuju kamar mereka, dan menurunkan Ara ketika mereka sudah berada di dalam kamar mandi .


Bola mata Ara membulat saat Hansel menurunkannya di bawah shower di kamar mandi, membuka kran air dan membiarkan air hangat mengguyur tubuh keduanya, "Apa yang kau lakukan?" Ara berusaha melepaskan diri dari pelukan Hansel.


"Maaf, " Ara kembali menundukkan kepalanya, ia tahu jika dirinya memang bersalah karena telah pergi tanpa izin dari Hansel yang merupakan suaminya.


Hansel mengusap lembut pipi Ara, menyibak helaian rambut yang menutupi wajah cantik Ara, perlahan ia mulai membuka satu persatu kancing baju kemeja Ara hingga tanpa Ara sadari kemeja itu telah lepas dari tubuhnya, dengan lembut Hansel menurunkan resleting rok berwarna biru navy tersebut hingga teronggok di bawah kaki Ara. Kini hanya dua benda tipis itu yang menutupi bagian tubuh Ara, kali ini Hansel melakukannya dengan sangat lembut tanpa paksaan, membelai lengan Ara dari bawah hingga ke bahu polos Ara, tubuh Ara tampak gemetar menikmati sentuhan hangat suaminya tersebut. Hansel mendaratkan kecupan lembut di kening Ara,seraya tangannya yang bergerak membuka pengait Bra milik Ara, menundukkan badannya hingga berlutut dihadapan Ara untuk melepaskan pakaian Ara yang tersisa, kini tubuh polos Ara tampak indah dihadapan Hansel,begitu sempurna.


Hansel mendesis pelan, ketika ia harus berjuang untuk mengendalikan insting prianya yang sudah meronta dibawah sana. Dengan telaten Hansel membasuh rambut panjang Ara, memberikan sampo dengan aroma buah-buahan yang tercium begitu manis, menyabuni tubuh istrinya dengan penuh kelembutan, membuat Ara mengeluarkan suara de*sa*Han yang terdengar sangat indah di telinga Hansel.

__ADS_1


Setelah selesai dengan tugasnya, Hansel memakaikan handuk ditubuh Ara, dengan lembut meminta Ara untuk keluar terlebih dahulu dari kamar mandi,


"Keluarlah terlebih dahulu, aku akan segera menyusul," ucap Hansel lembut mengecup kening Ara,dan mendorong pelan istrinya agar meninggalkan dirinya di kamar mandi, kini giliran Hansel yang harus mandi dan mendinginkan sesuatu yang terlanjur tegak dibawah sana.


Ara menatap pantulan dirinya di cermin tatkala ia duduk di depan meja riasnya, piyama berwarna hijau muda itu tampak manis melekat di tubuh mungil Ara, tidak akan ada yang menyangka jika wanita yang sedang berusaha mengeringkan rambutnya menggunakan hairdryer tersebut sudah berusia kepala tiga, wajah Ara masih terlihat begitu muda, tubuhnya yang sintal dan se*i dapat menipu semua mata yang memandang.


Memikirkan lagi apa yang baru saja terjadi membuat pipi Ara bersemu merah, ia kini merasa malu dengan apa yang dilakukan Hansel padanya di kamar mandi, dan terlebih lagi Ara hanya diam tanpa mencoba menghentikan tindakan Hansel, bahkan Ara menikmatinya.


Suara pintu kamar mandi yang terbuka, membuyarkan lamunan Ara, ia hanya berani melirik tubuh kekar Hansel yang hanya terlilit oleh handuk berwarna putih itu, Hansel terlihat seperti malaikat, begitu muda, begitu tampan dan karismatik.


Bagaimana mungkin aku tidak akan tergoda oleh ketampanan bocah ini Tuhan? Mungkin semua wanita akan rela meninggalkan kekasih mereka demi bocah ini, lalu bagaimana denganku?


TBC 🥰🥰🥰


Hai readers? sebelumnya saya ucapkan terimakasih banyak atas dukungannya, jika tidak keberatan tolong tinggalkan komentar kalian yang sudah membaca cerita receh author ini, menurut kalian bagaimana cerita Hansel dan Ara ini?


- Bagus

__ADS_1


-Kurang bagus


-jelek


__ADS_2