
**Mungkin aku egois karena menginginkanmu untuk tetap di sisiku, meskipun aku tahu jika kau terluka karenanya. Namun aku bisa apa, kau adalah yang pertama dan yang terakhir untukku, satu-satunya milikku. (Hansel Nathanael Anderson)
*
*
*
"Janji, kau tidak akan meninggalkanku lagi, apapun yang terjadi?" ucap Hansel mengurai pelukan diantara mereka, bola mata sewarna lautan itu terlihat sendu dengan pengharapan dan ketakutan akan kehilangan seorang Ara.
Ara yang mendapatkan tatapan yang begitu intens dari sang suami tidak tahu harus menjawab apa, logikanya meminta Ara untuk marah dengan semua kebohongan dan tipu muslihat Hansel, akan tetapi hati kecilnya tidak sependapat, hatinya menginginkan Hansel, lelakinya.
"Iya, janji," akhirnya ia menuruti kata hatinya.
"Janji apa? katakan yang jelas!" tanya Hansel menggenggam erat tangan Ara.
"Ish, iya... iya..., aku janji tidak akan meninggalkanmu. Puas?" ucap Ara sedikit kesal.
"Good, itu baru wanitaku," kini Hansel justru terlihat menarik sudut bibirnya, dan menyeringai lebar, seraya mengangkat ponsel yang ternyata ia sembunyikan sedari tadi.
Dengan sekali tekan ponsel itu memainkan rekaman suara Ara, dimana sang istri mengucapkan janjinya dengan lantang. Sejak awal inilah rencana Hansel, ia ingin mendapatkan janji dari bibir Ara, untuk kembali menjerat wanita tersebut.
"Hansel!" seru Ara murka, "Apa kau hanya berpura-pura sakit untuk ini?"
"Tidak, aku sungguh-sungguh sakit, lihat ! coba pegang ini!" Hansel menarik tengan Ara dan menempelkan di keningnya yang memang masih panas.
"Lantas kenapa kau melakukan hal semacam ini? kekanakan," kesal Ara memalingkan wajah.
"Dengan begini, aku bisa selalu mengingatkanmu, agar kau tidak bisa pergi dariku sampai kapanpun juga," jelas Hansel, tanpa penyesalan. Ia sudah mendapat laporan dari mata-mata yang ia tugaskan untuk mengawasi Ara, jika wanitanya telah mengetahui perihal obat yang ia berikan saat acara pertunangan Ara dan Johan.
Sehingga muncul ide gila yang membuat Hansel melakukan hal ini, memanfaatkan dirinya sendiri yang sedang sakit untuk menjebak Ara untuk kedua kalinya, ia tidak peduli.
Aku tidak peduli jika aku harus menipu ataupun memanfaatkan kebaikan hatimu, hanya untuk menahanmu di sisiku. Yah, aku memang egois, sekalipun aku harus merantai kedua kakimu, aku akan melakukannya, agar kau tidak sanggup pergi dariku. karena kau adalah milikku, satu-satunya, hanya milikku.
Batin Hansel menghalalkan segala cara untuk mempertahankan Ara.
"Aku tidak peduli sekalipun kau memiliki rekaman semacam itu, aku yang menentukan hidupku, aku akan pergi jika memang aku ingin pergi, jadi semua itu tidak ada gunanya," tukas Ara semakin kesal, padahal ia dengan tulus mengatakan ia tidak akan pergi, tapi kelakuan Hansel justru membuatnya merasa kembali ditipu oleh suaminya itu.
__ADS_1
"Jangan harap, sekalipun dalam mimpimu, aku tidak akan pernah melepaskan mu!" Hansel menahan dagu Ara agar wanita itu bisa melihat betapa serius ucapannya.
"Lepas!" Ara menepis tangan Hansel dengan kasar.
Bukannya melepaskan wanitanya, kini Hansel justru menahan tengkuk Ara dan mendaratkan satu ciuman di bibir yang telah menjadi candu bagi seorang Hansel Nathanael Anderson. Ciuman yang kasar dan memaksa dilakukannya agar sang istri sadar jika tidak akan pernah ada jalan untuk pergi dari jerat seorang Hansel.
Bahu Ara terlihat naik turun mengambil oksigen begitu pautan bibir mereka terpisah, terlihat dengan perlahan Hansel kembali menyusuri jejak basah di bibirnya dengan kepuasan, sementara Ara setengah mati menahan kesal dan amarahnya, karena berhasil dibodohi oleh suami kecilnya.
Bocah sialan, lagi-lagi dia mempermainkan ku.
Ara mengumpat dan memaki suaminya dalam hati.
"Sekarang, rawat aku ! Kepalaku pusing," tanpa dosa, Hansel kembali berbaring.
"Rawat, rawat, rawat nenekmu, lebih baik kau sakit sampai mati sana," maki Ara dengan penuh emosi, berpaling hendak meninggalkan sang suami.
Dengan gesit Hansel menahan lengan Ara, membuat wanita itu tidak bisa kemana-mana.
"Aku serius Ara, aku sedang sakit, kepalaku sungguh pusing sekarang, bisakah kita lanjutkan nanti saja berdebatnya?" pinta Hansel manja.
Ara merasa jengah dengan sikap Hansel, yang sebentar terlihat begitu menggemaskan dan imut seperti malaikat, tapi detik berikutnya berubah menjadi iblis yang begitu jahat dan kejam.
Pikir Ara bergidik ngeri.
Akhirnya Ara menghela nafas panjang, mengesampingkan egonya dan dengan setengah hati merawat sang suami, "Huh, baiklah, sekarang cepat makan dulu!" ucapnya, mengambil mangkuk bubur yang sempat terlupakan.
"Suapin!" pinta Hansel dengan manja.
"Ogah, makan sendiri!"
"Please....!!!"
"Nggak, Makan sekarang atau aku tinggal?" ancam Ara.
"Iya, iya, aku makan sendiri, tetap disini."
Dengan lahap Hansel menghabiskan makanannya dan meminum obat yang telah disiapkan oleh Ara.
__ADS_1
"Sekarang ceritakan padaku!" pinta Ara setelah ia membereskan mangkuk dan gelas makan Hansel.
"Apa?" tanya Hansel malas, ia kembali merebahkan kepalanya, enggan berdebat lagi dengan wanitanya.
"Benarkah kau sudah menjebak ku malam itu?" ucap Ara sedikit bergetar, ia masih tidak percaya Hansel setega itu menghancurkan hidupnya.
Hansel menghela nafas, "Yah, begitulah. Aku tidak sanggup melepaskan mu, jadi aku melakukannya," jawab Hansel datar, ia ingin segera mengakhiri perdebatan ini, jadi dia tidak akan menyangkal lagi, toh memang benar ia yang melakukannya.
Tanpa diduga, Ara mulai menangis dengan kencang, membuat Hansel terkejut dan segera bangkit dari posisinya guna menenangkan wanitanya yang menangis histeris.
"Kau jahat sekali, kau tega menghancurkan hidupku begitu saja, dan sekarang saat aku memintamu untuk menjelaskan kau hanya bilang ' yah, begitulah', aku membencimu Hansel," oceh Ara dengan tangisan yang semakin kencang.
"Sstt, hei, hei, tenanglah! Berhenti menangis, oke, aku minta maaf," Hansel di buat bingung karena tangisan Ara yang semakin kencang.
"Kau minta maaf sekarang, tapi kau sudah mengambil hal berharga dalam diriku, saat aku tidak sadarkan diri, apa kau benar laki-laki? beraninya hanya saat aku tidak berdaya, kau brengsek!" tangis Ara semakin kencang.
"Apa?" Hansel tidak percaya, ternyata Ara benar-benar mengira jika dia telah menidurinya saat Ara tak sadarkan diri malam itu.
"Apanya yang apa, kau tidak pantas disebut laki-laki, kau pengecut!" maki Ara lagi.
Karena kesal, Hansel menjatuhkan tubuh istrinya dengan keras di atas ranjang dan mulai menindihnya, ia marah dan tersinggung karena Ara mempertanyakan kelelakiannya dan bahkan mengatai ia sebagai pengecut, oh yang benar saja.
"Selain memberikanmu obat tidur aku tidak melakukan apapun terhadapmu malam itu Ara, bahkan aku meminta seorang pelayan wanita untuk melepaskan pakaianmu. Satu-satunya yang aku lakukan malam itu hanya berbaring di sebelahku dan menatap wajahmu yang sedang tertidur, menjaga agar selimutmu tidak tersingkap. Itu saja!" jelas Hansel dengan emosi.
"Kau bohong!" dengan keras kepala Ara berteriak.
"Terserah kau percaya atau tidak. Astaga Ara, kau itu polos atau bodoh? Saat melakukan hal 'itu' untuk pertama kalinya pasti wanita akan merasakan sakit, apakah kau merasakannya saat itu? Apa kau berdarah?" tanya Hansel dengan frustasi.
Ara hanya terdiam dan mengingat kembali kejadian malam itu, dan memang benar semua yang dikatakan oleh Hansel.
"Dan, aku bisa melakukannya kepadamu kapanpun aku mau, tanpa harus menggunakan obat tidur atau obat apapun, aku bisa memaksamu dengan kekuatanku atau menaklukkan mu dengan pesonaku, kau mengerti sekarang?" ucap Hansel bangga.
"Brengsek," satu kata keluar dari bibir Ara begitu saja, menyadari selama ini ternyata ia telah di tipu mentah-mentah oleh bocah yang dulu diasuhnya.
Hansel menyeringai, "Biar kutunjukkan padamu seberapa brengseknya diriku."
Setelahnya Hansel kembali menyatukan bibir mereka, me-lu-mat dan menyesapnya dengan rakus. Memaksa Ara membuka bibirnya agar ia bisa mengeksplorasi rasa Ara semakin dalam, semakin lama ciuman itu semakin memanas dan menuntut lebih.
__ADS_1
TBC 🥰🙏❤️🙏