
*Perusahaan Johan *
"Ara, gila kamu ya, dari kemarin nggak ada ngabarin aku, kamu punya hutang penjelasan padaku!" Gisel langsung menghampiri Ara dan memberondongnya dengan berbagai macam pertanyaan begitu Ara memasuki lobby perusahaan.
"Shut, jangan keras-keras, kamu mau aku jadi bahan omongan lagi apa?" Ara menarik Gisel menuju ruangannya yang memang terpisah dari ruang karyawan lain, meja kerja Ara berada di depan ruangan Presdir mereka yaitu Johan, dengan kaca sebagai pemisah sehingga Ara dan Johan bisa saling mengamati satu sama lain meskipun di jam-jam sibuk. Hal sederhana tersebut merupakan salah satu dari sifat romantis yang dimiliki Johan. Pria itu selalu penuh kelembutan dan kedewasaan , membuat Ara semakin mengaguminya dari hari ke hari.
"Iya sorry, tapi kamu tetap harus jelasin, siapa orang yang menghubungiku kemarin, dia bilang kalau dia itu orang suruhan suamimu, sejak kapan kau menikah?" Gisel sedikit berbisik agar perkataannya tidak bisa didengar oleh orang lain.
"Ceritanya panjang, Aku saja masih berharap jika semua ini cuma mimpi,...." Kemudian Ara menceritakan secara singkat tentang pernikahannya dengan Hansel, dan meminta sahabatnya itu untuk merahasiakan hal ini terlebih dahulu.
Gisel menutup mulutnya dengan kedua tangan, tidak bisa lagi menutupi rasa ketidakpercayaan pada dirinya,
"Astaga demi apa? Hansel Nathanael Anderson? Kamu nggak sedang mimpi kan ?Apa kamu demam sampai menghalu ?" Gisel meletakkan tangannya di dahi Ara, saking tidak percayanya dengan apa yang dialami sahabatnya tersebut.
"Aishhh, aku serius," Ara menepis tangan Gisel.
"Wah,luar biasa. Terus pak Johan sekarang gimana?"
Sebelum Ara menjawab pertanyaan dari sahabatnya tersebut, tubuh kekar Johan sudah muncul dibelakang Gisel, membuat kedua wanita yang sedang bercerita itu kelabakan.
"Ara, keruangan saya!" titah Johan singkat.
Ara menganggukkan kepalanya mengerti, sementara Gisel lekas menggunakan jurus seribu langkah untuk menghindari masalah mereka.
Segera Ara menyusul Johan ke ruangannya seraya membawa berkas pengunduran dirinya, ia sudah memutuskan untuk keluar dari perusahaan yang telah menampungnya selama lima tahun ini.
Tok ..tok..tok.. Ara mengetuk pintu sopan.
__ADS_1
"Masuk!" Suara maskulin Johan terdengar dari dalam.
"Ada yang bisa saya bantu pak?" ucap Ara begitu ia berada di hadapan Johan yang tengah duduk di kursi kebesarannya.
"Duduklah !" perintah Johan, "Kita hanya berdua, kau tidak perlu terlalu formal padaku, bicaralah seperti biasanya," Johan berkata lembut.
Ara pun menjatuhkan bobot tubuhnya pada kursi yang berada di depan meja Johan, "Tapi saat ini kita sedang berada di kantor dan ini masih jam kerja pak. Tidak etis rasanya jika saya berbicara dengan cara demikian, mengingat kembali hubungan kita yang saat ini sebatas bos dan sekretarisnya. Maaf!"
Johan menghela nafas panjang, tidak menyukai jawaban yang di berikan Ara, "Ara? Mengenai kemarin, aku mewakili ibuku meminta maaf padamu," kata Johan to the points.
"Tidak apa-apa pak, sedikit lebihnya memang saya juga bersalah," senyuman ketidakberdayaan mengembang di bibir ranum Ara.
"Dan mengenai ucapan ibuku yang memecat mu kemarin, aku ingin mengklarifikasinya," lanjutnya.
"Sebenarnya itu juga alasan saya datang ke kantor hari ini pak, saya ingin menyerahkan surat pengunduran diri saya," Ara menyodorkan beberapa lembar kertas yang telah disiapkannya.
"Ara, jangan seperti ini. Aku tahu, kita sudah tidak seperti dulu, tapi aku juga tidak bisa mengabaikan mu begitu saja. Aku minta maaf, seharusnya aku mendengarkan penjelasan mu saat itu, dan tidak seharusnya aku meninggalkanmu begitu saja, maaf." Johan menundukkan pandangannya , suaranya dipenuhi dengan penyesalan.
Air mata Ara mulai menetes, dia masih selemah dulu saat dihadapan Johan. Ara ingin melupakannya, agar pria yang ia cintai itu bisa bahagia bersama wanita lain.
Mas Johan layak mendapatkan wanita yang lebih baik dari pada aku yang sudah tidak suci lagi, aku harus melupakan dan merelakannya menjauh.
"Mas? Aku benci dengan diriku sendiri, aku sungguh tidak pernah bermaksud untuk mengkhianatimu, aku bersumpah. Aku tidak tahu bagaimana semuanya menjadi kacau seperti ini, aku benar-benar tidak mengerti."
Tangis Ara tidak terbendung lagi, ia menumpahkan semua perasaan yang menghantuinya selama ini. Akal sehatnya menegaskan bahwa semua yang dilakukannya tidaklah benar, akan tetapi tubuh dan hatinya mengkhianatinya, tubuh dan hati Ara merindukan Johan.
Johan berlutut dihadapan Ara, menghapus air mata Ara dengan penuh kelembutan, menggenggam tangan Ara dengan kuat, "Shhh, jangan nangis lagi, aku yang seharusnya meminta maaf, " Johan terus berkata dengan lembut , menenangkan Ara yang masih sesenggukan.
__ADS_1
Setelah merasa sedikit tenang, Johan kembali duduk di kursinya, "Sudah lebih baik?"
Ara hanya mengangguk kecil.
"Baiklah, Sekarang bukan waktu yang tepat untuk membicarakan urusan pribadi kita. Seperti katamu, kita masih berada di kantor. Mari kita bahas hal ini setelah jam kerja lain kali . Mengenai surat pengunduran diri mu, aku tidak bisa menerimanya," ucap Johan berusaha untuk mengontrol emosinya yang berkecamuk. Ia sangat menyesal karena terlalu terbawa emosi kala itu, ia hanya berpikir bahwa Ara telah mengkhianati dan memanfaatkan dirinya untuk bisa berada di sisi Hansel. Dan sekarang saat kepalanya sudah bisa berpikir jernih ia menyadari kesalahannya, dengan tidak mempercayai Ara, menciptakan kesempatan bagi pria lain untuk mengambil posisinya dengan lebih mudah.
"Tapi, sebenarnya tanpa surat pengunduran diri ini pun saya sudah berhak untuk keluar dari perusahaan ini, mengingat bahwa kontrak kerja saya memang sudah berakhir bulan lalu, dan saya memang belum berkeinginan untuk memperpanjangnya. Jadi..." Ara menggantung kalimatnya.
"Ara, Jika alasanmu pergi adalah ucapan ibuku, bukankah aku sudah meminta maaf padamu dengan tulus, kenapa kau bersikeras sekali ingin keluar dari pekerjaan ini. Apa kau tak ingat bagaimana perjuanganmu untuk sampai di titik ini?" Johan mengorek ingatan lama, berusaha mengubah pendirian Ara.
Johan bertanya apa Ara mengingatnya? Tantu saja Ara ingat semuanya, Ara ingat setiap tetes air mata dan keringat yang tercurahkan agar dirinya bisa layak di posisi ini, Ara masih ingat bagaimana ia selalu mendampingi Johan untuk mengembangkan perusahaan ini dari nol hingga berkembang sejauh ini, Ara masih ingat setiap momen yang mereka lalui bersama. Tahun demi tahun yang membuat hubungan mereka semakin dekat, Ara selalu yakin bahwa pria yang dihadapannya inilah yang akan menjadi suaminya, ayah dari anak-anaknya. Ara sama sekali tidak menduga bahkan dalam mimpi sekalipun jika hubungan mereka akan berakhir seperti ini. Ara ingat semuanya.
"Maaf, tapi suami saya tidak mengizinkan saya untuk bekerja," pada akhirnya Ara hanya bisa menggunakan nama Hansel sebagai tameng.
Johan menghela nafas berat, ia mengusap wajahnya frustasi, sekarang ia tidak memiliki kartu apapun untuk menahan Ara agar tetap bekerja disisinya, "Baiklah, beri aku waktu tiga bulan dan latihlah seorang sekretaris untukku, hingga ia bisa melakukan semuanya persis seperti dirimu, saat itu aku akan membiarkanmu pergi dari perusahaan ini."
"Tiga bulan? itu terlalu lama pak Johan, saya rasa saya bisa melatih pengganti saya paling lama dua Minggu itu sudah cukup," sanggah Ara.
"Okey, satu bulan saja, satu bulan. Setelah itu kau bebas untuk pergi."
"Bukankah sudah kukatakan jika kontrak kerjaku sudah berakhir bulan lalu," ulang arA.
"Aku tahu, tapi tolonglah, satu bulan saja, ya?" paksa Johan.
Ara menghela nafas panjang, ia sudah bisa membayangkan kemarahan Hansel menari di kepalanya.
"Ok, satu bulan." jawab Ara kemudian.
__ADS_1
TBC.🥰🥰