
"Nggak mau," Jawab Ara.
"Ya udah, balik kamar sana ! Aku mau tidur, besok masih harus kerja," dengan cemberut Hansel kembali merebahkan tubuhnya di ranjang, memunggungi Ara.
"Hansel? Jangan tidur dulu! " Ara menggoyangkan bahu Hansel, tidak mau membiarkan bocah itu mengabaikannya, "Ada yang mau aku tanyain ke kamu," lanjut Ara.
Hansel menghela nafas panjang sebelum membalikkan tubuhnya menghadap Ara yang duduk di tepi ranjang, Hansel menopang kepalanya dengan siku, menikmati wajah Ara, dia hanya sedikit berpura-pura mengabaikan Ara. Astaga,demi apapun juga, Hansel tidak akan pergi tidur selama Ara masih membutuhkannya, tidak peduli jika dirinya harus bolos kerja untuk besok, terserah jika Daddy nya akan memarahinya lagi, yang terpenting baginya adalah Ara.
"Apa?"
"Tadi sore, bagaimana kau bisa tahu jika aku ada di taman itu?" tatapan Ara di penuhi tanda tanya.
Hansel mengalihkan pandangannya, "Memangnya kenapa?Suami sendiri emang nggak boleh nyamperin istrinya," kilah Hansel.
"Ck, ditanya apa jawabnya apa. Seriusan Hansel !" Ara berdecak kesal.
"Tau ah, ngantuk," Hansel kembali membalikkan tubuhnya memunggungi Ara.
"Hansel jawab dulu!" Ara terdiam sesaat, " Apakah kau memata-matai semua kegiatanku?" ucap Ara menelisik.
Jleb... tebakan Ara tepat sasaran. Hansel masih enggan untuk menjawab.
"Baiklah, sepertinya tidak ada gunanya bicara denganmu, aku balik kamarku dulu." Ara sudah hampir beranjak dari tempat tidurnya tatkala tangan Hansel menahannya.
"Maaf!" Hansel menundukkan wajahnya. Raut sedih dan bersalah jelas terukir di wajah yang terlalu tampan itu.
"Jadi benar kau memata-matai ku?"
Hansel hanya sedikit mengangguk, karena tidak ada gunanya juga berbohong.
Ara menghela nafas kasar,menarik lepas tangannya dari cekalan Hansel, "Jadi kau mengetahui semua yang terjadi pada ku hari ini?"
Lagi-lagi Hansel mengangguk, " Jangan takut Ara! Aku akan selalu melindungi mu," suara lembut Hansel menelisik hati Ara.
__ADS_1
"Hansel, aku tahu saat ini aku adalah istrimu,tapi bisakah kau memberikanku sedikit kebebasan dan ruang privasi ,bisakah?" kedua tangannya tergenggam erat.
"Aku hanya ingin melindungimu."
"Dengan cara memata-matai ku?" Kekecewaan terdengar jelas dari suara Ara.
Apa dia takut jika aku akan berkhianat begitu ada kesempatan? Apa dia juga menganggap ku sama seperti mereka, wanita murahan, yang akan merangkak ke ranjang siapapun yang memiliki uang? Apa diriku juga serendah itu di matamu.
batin Ara semakin tertekan.
Hansel yang menyadari kekecewaan Ara segera bangkit dari duduknya, meraih pinggang kecil itu kemudian merengkuh tubuh Ara dalam dekapannya,
"Maaf, maafin aku. Aku hanya melakukan semua itu untuk menjagamu, tidak ada maksud lain." Hansel mengelus punggung Ara, menolak melepaskan pelukannya sekalipun Ara mulai memberontak dan memukulnya.
"Lepasin ! Lepasin!" tangisan Ara kembali luruh di pelukan Hansel, "Kamu itu sama saja seperti mereka, kamu pasti berpikir bahwa aku cuma bisa jual diri, kamu pasti berpikir aku ini wanita murahan yang akan pergi dengan pria lain begitu aku dapat kesempatan, begitu kan? Kau brengs*k Hansel, aku membencimu," Ara terus memukul dada Hansel, Isak tangisnya semakin keras ditengah malam yang sunyi.
"Maaf," Hansel dengan sabar menenangkan Ara, membiarkan istrinya meluapkan perasaannya, mungkin dengan begini beban di hati Ara akan sedikit berkurang.
Setelah Ara sedikit tenang, Hansel memberi jarak pada tubuh mereka,mengamati wajah cantik Ara yang kini terlihat sembab,dengan lembut tangan Hansel terulur mengusap pipi Ara yang masih basah .
Hansel membawa Ara kembali untuk duduk di tempat tidur, tangan besarnya menggenggam erat kedua tangan Ara.
"Dengar Ara! Aku adalah seorang suami yang sangat mencintai istriku tidak peduli bagaimana pandangan orang lain terhadap dirinya, bagiku istriku adalah wanita terbaik, terhebat dan wanita yang paling aku cintai selama hidupku. Dan kau juga harus tahu bahwa suamimu ini sangatlah posesif, aku akan merasa bisa melindungi mu jika aku bisa selalu mengawasi mu, jadi aku meletakkan satu orang ku untuk bekerja denganmu. Agar aku bisa selalu mengawasi mu setiap saat karena aku mencintaimu bukan karena aku tidak mempercayaimu, kau mengerti?" bola mata berwarna biru itu dipenuhi dengan keseriusan dan ketulusan.
Ara hanya bisa mengangguk dibawah tatapan mata biru Hansel yang seakan menenggelamkannya di lautan.
"Bagus," Hansel mengelus rambut Ara,setelah istrinya itu mengangguk patuh, "Sudah jangan nangis lagi, besok mau aku temani ke tempat kerja?"
"Memangnya kamu nggak takut jadi bahan gosip? Tuan dan nyonya Anderson bisa marah," jawab Ara yang masih sesenggukan.
"Yang penting kamu seneng, gimana mau aku temenin buat serahin surat pengunduran diri?" tawar Hansel lagi.
"Nggak tau. Pusing," tanpa Ara sadari dia sudah menarik selimut dan berbaring di tempat Hansel. Yang jelas Hansel tidak keberatan dengan hal ini.
__ADS_1
Untuk malam ini Hansel bisa tersenyum puas, karena istrinya sendiri yang datang menghampirinya dan memilih tinggal di kamar bersama dirinya. Rasanya Hansel enggan untuk memejamkan mata saat ia mengamati wajah Ara yang perlahan terlelap dalam mimpi.
Keesokan paginya, wajah Ara sudah seperti kepiting rebus, saat ia mengingat kembali bagaimana dirinya bisa berakhir tidur satu ranjang dengan Hansel, dan itu semua ia lakukan dalam kondisi sadar sesadar-sadarnya, dia merasa menjadi orang paling munafik di dunia. Dia yang menetapkan peraturan dia sendiri yang melanggarnya. Sudahlah...
Momen sarapan terasa sangat canggung bagi Ara, Dia hanya menunduk dan mengunyah, tanpa berani melihat Hansel yang duduk dihadapannya, tampak senyum kemenangan terukir jelas di bibir pria rupawan itu, secerah langit pagi ini.
"Gimana? jadi mau dianter nggak?" tanya Hansel ,saat ia melihat piring Ara yang sudah tandas.
"Nggak usah, takutnya Tuan Hansel Nathanael Anderson akan terfoto oleh paparazi sedang bersama karyawan rendahan yang kemungkinan besar akan segera menjadi pengangguran, seperti aku. Jadi terimakasih, aku berangkat sendiri," Ara mendongakkan kepalanya sombong.
Yah, biarpun bentar lagi jadi pengangguran,setidaknya harus jaga imej .
"Ara ntar malam Mommy ngundang kita buat makan malam dirumahnya? menurutmu gimana?" tanya Hansel serius, sikap jenakanya sudah lenyap.
Ara terdiam, ia tidak tahu harus bagaimana menjawab pertanyaan Hansel kali ini. Jika boleh jujur Ara sangat ingin menghindari segala macam bentuk konflik, baik dari masa lalu Hansel ataupun dari masa lalu nya. Dan seluruh dunia juga tahu bahwa sebenarnya seorang Hansel Nathanael Anderson sudah memiliki tunangan. Nyonya Margaret Anderson sangat menyayangi tunangan Hansel itu dan selalu berharap gadis cantik yang sebaya dengan Hansel tersebut bisa menjadi menantunya. Bukan Ara.
Sangat jelas kehadiran Ara tidak lebih dari seorang pengganggu dalam keluarga Anderson yang begitu sempurna, jika di bandingkan dengan tunangan Hansel Ara sudah seperti kerikil bersanding dengan batu rubi.
"Kalau kamu nggak suka, nggak apa-apa, ntar biar aku yang ngomong sama Mommy. Jangan dipikirkan, toh yang penting itu aku bukan keluargaku," tutur Hansel yang mengerti arah kekhawatiran Ara.
"Hmm, nggak apa-apa deh, sekali-kali makan bareng. Lagian Tuan dan nyonya Anderson dulu baik banget sama aku, nggak enak juga kalau nolak undangan orang tua," Ara tersenyum, berusaha menutupi ketakutannya.
"Baiklah, hanya makan malam biasa saja, nggak perlu takut, lagian aku juga akan selau jagain kamu kok, mbak Ara," Hansel mengedipkan sebelah matanya menggoda Ara lagi.
Tingkah laku Hansel ini,membuat para pelayan terkesima dengan betapa drastisnya perubahan suasana hati Hansel saat bersama dengan Ara.
Hansel sudah menjadi bocah kecil penurut yang sangat senang apabila Ara memujinya, bukan lagi tuan muda dingin dari keluarga Anderson.
Semoga saja Tuan Hansel dan nyonya Ara selalu baik-baik saja ,agar para pelayan juga dapat hidup dengan damai tanpa harus takut dengan amukan tuan Hansel yang selalu meledak.
Kira-kira seperti ini doa para pelayan di rumah itu.
TBC🥰🥰🥰.
__ADS_1
Terimakasih banyak atas dukungannya, jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan like, komen, rate, dan, tekan tombol favorit nya ya, syukur-syukur kalau ada yang mau ngasih vote buat karya daya. thanks 🥰