
Bagiku mencintai bukan hanya sekedar bahagia saat melihat orang yang ku cintai bahagia. Namun, bagiku mencintai adalah titik dimana aku akan melakukan segala cara agar akulah satu-satunya yang bisa menjadi sumber kebahagian untuknya.
...****************...
"Lakukan tugasmu dengan baik maka kau akan mendapatkan imbalan yang sepadan," ujar wanita cantik itu kepada seorang pria dengan balutan pakaian serba hitam dihadapannya.
"Tenang saja Bos, semua beres."
*
*
*
Pagi ini semuanya berjalan dengan lancar, Ara kembali melakukan kegiatannya seperti biasa, kini ia tengah duduk di balik meja kerjanya menyiapkan beberapa dokumen yang harus di tandatangani oleh bos nya, Johan.
Ara juga dengan sabar mengajari Laras, sekertaris baru yang akan menggantikan posisi Ara yang hanya tinggal dua Minggu lagi berada di perusahaan ini, meskipun Terkadang Laras sangat menyebalkan dan bisa memancing emosi manusia dengan tingkat kesabaran extra sekalipun, tetap tidak membuat Ara lantas mengabaikan tugasnya mengajari segala sesuatu yang diperlukan oleh Johan.
"Besok kau bisa pergi bersama dengan Pak Johan ke Kota Xxx untuk meninjau pembangunan aula yang akan dibangun," ujar Ara seraya menyerahkan berkas mengenai proyek pembangunan sebuah aula yang dipesan oleh seorang pelukis terkenal, aula tersebut akan dijadikan menjadi sebuah galeri seni.
"Berdua saja?" tanya Laras dengan wajah berbinar, sepertinya ia sangat mengharapkan bisa berduaan dengan Johan.
"Aku rasa iya, aku tidak perlu ikut kesana, karena ini hanya sekedar peninjauan biasa, aku sudah pernah kesana beberapa bulan yang lalu dan kurasa semuanya akan berjalan sesuai rencana. Jika tidak ada kendala mungkin satu atau dua Minggu lagi pembangunannya selesai," jelas Ara panjang lebar. Memang Ara tidak berniat untuk turut pergi ke luar kota bersama Johan.
"Baiklah aku bisa melakukannya," jawab Laras penuh percaya diri.
"Oh iya Laras, sepertinya pemilik Galeri seni itu juga akan berada di sana. Kau tau tentang Tuan Jay Orion bukan?"
"Jay Orion? Pelukis yang sangat tampan itu?" Laras tampak terkejut.
"Yah, jangan terpukau dengan ketampanannya, tidak semua yang indah itu baik," tutur Ara yang pernah sekali bertemu dengan seorang Jay yang memiliki sifat yang sangat dingin dan kurang bersahabat.
"Aku bisa menangani segala macam keindahan, apalagi keindahan yang terasa begitu nikmat."
"terserah padamu," memutar bola matanya lelah dengan sikap Laras, "Sekarang bawa berkas ini ke ruangan pak Johan, dan jelaskan semuanya seperti yang sudah ku ajarkan tadi!" perintah Ara.
Laras mengecek tampilannya di cermin, dan beberapa kali menepukkan bedak ke wajah ayunya sebelum beranjak menuju ruangan sang atasan.
Namun hanya selang beberapa saat ia kembali dengan bibir mengerucut kesal.
"Pak johan menyuruhmu ke ruangannya sekarang!" ucap Laras kesal menjatuhkan bobot tubuhnya kembali di kursi miliknya.
"Ada apa? Apa ada masalah?" tanya Ara dengan serius.
"Entahlah, tanyakan saja sendiri pada Pak Johan," jawab Laras acuh
Karena tidak ada pilihan lain akhirnya Ara pergi ke ruangan Johan.
__ADS_1
Tok...tok...
"Masuk!" suara berat Johan terdengar dari balik pintu.
"Bapak memanggil saya?" tanya Ara sopan.
"Duduklah Ara!"
Ara menurut, kini ia tengah duduk dihadapan Johan, atasan sekaligus mantan tunangannya.
"Laras memberikanku berkas ini," menyerahkan berkas yang dibawa oleh Laras sebelumnya, "Berarti besok kita harus pergi ke lokasi untuk meninjau proyek yang ada disana," ucap Johan .
"Benar pak, saya sudah memesankan tiket pesawat untuk Anda dan juga Laras, karena jaraknya juga tidak terlalu jauh, maka anda tidak perlu sampai menginap," jelas Ara.
"Hmm, bagus. Kau juga ikutlah, aku belum bisa mengandalkan Laras seutuhnya," lanjut Johan.
"Tapi pak, ini hanya peninjauan ulang, saya sudah beberapa kali menghubungi orang kita yang berada di sana dan sepertinya semuanya berjalan dengan lancar, jadi anda tidak akan mengalami banyak kesulitan, anda hanya perlu melihat hasil pembangunan aulanya yang sudah hampir rampung, dan saya rasa Laras saja sudah sangat cukup untuk menyiapkan segala keperluan anda disana," Ara dengan sopan berusaha menolak tugas kali ini.
Bukan karena apa-apa dia hanya tidak tahu bagaimana Hansel akan mengamuk jika mendengar hal ini.
"Kau masih bagian dari perusahaan ini Ara, tidak seharusnya kau mengabaikan tugasmu seperti ini," keluh Johan.
"Yah, tapi bukan keinginan saya juga untuk tetap berada di perusahaan ini, karena sebenarnya saya sudah menyerahkan surat pengunduran diri saya pada anda, jika anda lupa," jelas Ara sedikit kesal.
Bibir Ara yang mengerucut kesal membuat Johan gemas dengan perilaku wanita dihadapannya saat ini, membuat sudut bibir Johan terangkat tanpa ia sadari.
"Ayolah Ara, ini bukan dirimu yang ku kenal. Seorang Ara tidak akan meninggalkan pekerjaan dan tanggung jawabnya di tengah jalan seperti ini," ucap Johan menggoda.
"Apa ini karena kau takut Hansel marah?" tanya Johan santai bersandar pada kursinya, ia tetap bertekad membawa Ara bersamanya besok bagaimanapun caranya.
"Bukan hanya marah, dia mungkin tidak akan membiarkanku melangkahkan kaki keluar dari rumah jika aku bersikeras untuk pergi dengan anda," gerutu Ara kesal.
"Apa Hansel semengerikan itu?"
"Menurutmu? Dia bisa melakukan segalanya untuk mendapatkan yang dia inginkan."
Begitu pula denganku Ara. Johan berkata dalam hati.
"Sudahlah, aku tidak mau ada alasan lagi, minta izin pada suamimu itu, dan katakan jika aku meminjam mu untuk satu hari besok, dan katakan jika aku akan menjagamu dengan baik, lagi pula kita tidak akan menginap apa yang dia takutkan," oceh Johan keras kepala.
"Tapi,.." ucapan Ara terhenti kala Johan mengangkat tangannya.
"Tidak ada penolakan, atur ulang semuanya dan pastikan kau ikut bersamaku besok," putus Johan.
"huuhh, iya pak," jawab Ara pasrah.
"Oh, dan jangan lupa jika Tuan Jay mengundang kita untuk makan siang bersamanya, jadi lebih baik kita mengambil penerbangan pagi agar kita tidak terburu-buru dan bisa bersiap dengan baik," imbuh Johan sebelum Ara pergi meninggalkan ruangannya.
__ADS_1
Sekarang hanya tinggal bagaimana Ara harus membujuk Hansel untuk mengizinkannya pergi ke luar kota.
Yah... Semoga Ara beruntung dengan itu.
*
*
*
Di kediaman Hansel.
Ara baru saja selesai membersihkan tubuh dan hendak mengeringkan rambutnya dengan hair dryer ketika pintu kamar terbuka, menampilkan sosok rupawan Hansel yang baru saja kembali dari kantor.
"Kau sudah pulang?" tanya Ara dengan tersenyum menghampiri Hansel dan memberikan satu ciuman singkat. Membuat Hansel keheranan dengan sikap istrinya.
"Ada apa sayang? Apa kau membuat kesalahan?" tanya Hansel heran.
"Kenapa? Apa aku tidak boleh mencium suamiku?" tanya Ara manja, memeluk tubuh Hansel dan menyembunyikan wajahnya di dada bidang sang suami, ia harus setengah mati menutupi rasa gugup dan malu di wajahnya.
"Bukan begitu, tentu saja boleh, semua ini milikmu, kau boleh menciumnya kapanpun dan dimanapun kau menginginkannya. Sekarang cium lagi!"
Cup... Satu ciuman di pipi mendarat
"Satu lagi!"
Cup... Pipi yang lain turut mendapatkannya.
"Disini!" menunjuk keningnya.
Cup...cup....cup ... Cup. Semua bagian wajah Hansel mendapat jatah yang sama.
"Terakhir ini!" memanyunkan bibirnya.
Ara memalingkan wajahnya malu. Namun, detik berikutnya bibir Hansel menyatu dengan bibir Ara yang terlihat terkejut dengan serangan tiba-tiba dari sang suami.
Kali ini bukan kecupan ringan melainkan ciuman yang dalam dan panas. Dengan tidak sabar Hansel mulai mengeksplorasi setiap sudut bibir Ara dengan lidahnya.
Sementara tangan kekarnya kini mempererat pelukannya di tubuh Ara, dan tangan lainnya menahan tengkuk Ara agar ia bisa mendapatkan akses yang lebih mudah untuk menyesap habis bibir yang telah menjadi candu baginya.
"Aku tidak bisa menahannya lagi," bisik Hansel parau.
Mulai mendorong tubuh sang istri ke arah ranjang secara perlahan tanpa memutuskan sentuhan diantara mereka.
Dengan tergesa-gesa Hansel melepas dasi dan kemejanya, melemparkannya ke segala arah, dan kini menampakkan pemandangan indah tubuhnya yang berotot dan begitu menggoda,
"Ayo bermain sayang!"
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
To be continued 🤗