
"Aku hamil."
"Apa?" tanya Hansel tidak mempercayai pendengarannya.
"Hansel aku hamil," ulang Ara. Ia harus mengatakannya secara langsung agar Hansel tidak terlalu kecewa.
"Kau serius? Hamil? Aku akan menjadi seorang Ayah? Benarkah? Astaga, apa yang harus aku lakukan? Astaga, yuhuuuuu....," terdengar teriakan kebahagiaan Hansel menggema di ujung panggilan.
Ini tidak seperti ketakutan Ara, awalnya Ara sudah bersiap menyiapkan berbagai jawaban dan penjelasan untuk Hansel agar suaminya itu tidak marah dan kecewa padanya, tapi ternyata Hansel sangat bahagia dan antusias mendengar berita kehamilan Ara, membuat Ara begitu terharu hingga menangis.
"Hiks...hiks... Terimakasih Hansel, terimakasih banyak," ucap Ara disela tangisannya.
"Hei sayang, kenapa kau menangis? Seharusnya aku yang harus berterimakasih padamu, dan maafkan aku karena belum bisa menjagamu dan berada di sampingmu untuk saat ini, aku akan secepatnya menjemputmu, dan menjagamu di dekatku, i love you so much," ujar Hansel lembut, hatinya terasa hangat mengetahui ia akan menjadi seorang ayah.
"Iya, aku akan menunggumu, cepatlah datang! Aku sudah sangat merindukanmu," ucap Ara dengan tulus.
"Haaahh, ini menyebalkan, aku ingin sekali membawamu pergi jauh dari semua orang, dan memilikimu untuk diriku sendiri," Hansel menghela nafas.
Setelah berbincang beberapa saat mereka mengakhirinya dengan berat hati.
Ara merasa sedikit lega setelah memberitahukannya kepada hansel, hanya teka-teki mengenai ayah dari anak dalam kandungannya yang masih mengganjal di hati Ara, tapi untuk saat ini ia tidak ingin terlalu memikirkannya, seperti kata Jay anak dalam kandungannya tidak bersalah.
Hari-hari berikutnya berjalan seperti biasa, Ara menghabiskan waktunya bersama Jay, entah mereka berjalan-jalan disekitar rumah atau hanya menghabiskan waktu dirumah. Jay menjadi lebih protektif terhadap Ara, ia sudah seperti suami siaga idaman semua wanita.
Akhirnya rapat para pemegang saham berlangsung hari ini. Hansel tampak memasuki ruang rapat dengan penuh percaya diri, semua mata menyorot kedatangan Hansel, termasuk pamannya yang mengangkat sudut bibirnya mencemooh kehadiran hansel yang akan bersaing dengannya untuk memperebutkan posisi presdir dari Anderson company.
"Silahkan mulai!" ucap tuan Robert mengawali.
Perhitungan pun berlangsung dengan tegang, hampir semua pemegang saham besar memilih Paman hansel sebagai presdir, membeuat tuan Robert sangat cemas dengan nasib anak dan perusahaannya. Sampai tiba ssatnya Hansel berhasil membalikkan keadaan, para pemegang saham kecil yang kurang diperhitungkan oleh paman Hansel mulai memberikan suara mereka kepada Hansel, jumlah saham mereka memanglah kecil namun jumlah mereka tidaklah sedikit, dan kini setelah penghitungan selesai tuan Robert bernafas lega memeluk sang putra dan mengucapkan selamat kepada hansel karena telah berhasil menempati posisi presdir anderson company.
__ADS_1
Satu persatu pemegang saham memberikan selamat kepada hansel sebelum berlalu meninggalkan ruang rapat kecuali sang paman dan tuan ALan yang merupakan ayah Vanesha, sepertinya beliau masih dendam kepada Hansel sehingga mereka memilih berlalu tanpa mengucapkan sepatah katapun.
"Sekarang aku sudah membuktikannya padamu Dad, dan aku berharap Daddy juga menepati janjimu untuk tidak lagi mengganggu hubunganku dan Ara," tutur Hansel sebelum ia beranjak dari ruang rapat, menyisakan sang Daddy yang mau tidak mau harus menepati janjinya tersebut.
****************
Dengan semangat Hansel menyelesaikan semua jadwalnya hari itu, memastikan semuanya berjalan sesuai yang ia inginkan.
Tak lupa hansel menghubungi Ara untuk mengabarkan berita bahagia tersebut, dan dengan berat hati ia masih belum bisa menjemput Ara karena masih banyak hal yang harus ia selesaikan dengan segera, banyak jadwal yang tidak bisa ia undur atau ubah sesuka hatinya, selain kekuasaannya yang semakin besar Hansel juga menyadari jika posisinya saat ini turut mengemban tanggung jawab yang lebih besar pula.
Ara yang mendengar keberhasilan Hansel turut bahagia dengan hal tersebut, meskipun ia sedikit kecewa karena lagi-lagi belum bisa bertemu dengan suaminya, tapi ia harus sabar dan tidak egois.
Siapa yang mengira hingga usia kehamilannya yang kini sudah memasuki bulan kelima mereka masih belum bisa bertemu, perut Ara kini sudah mulai tampak membuncit, ia sangat merindukan Hansel, sementara Jay berusaha menghiburnya setiap hari, agar Ara tidak terlalu bersedih.
"Apa Hansel sudah menghubungimu?" Ara bertanya untuk yang kesekian kalinya. Pasalnya sudah lebih dari satu minggu ia belum menerima panggilan dari suaminya.
Ara harus mengakui jika Hansel mulai berubah, akhir-akhir ini pria itu jarang sekali memberi kabar, jika menelepon pun hanya menanyakan kabar alakadarnya saja, sudah tidak lagi terdengar gurau manja dari hansel yang Ara rindukan.
Jay hanya bisa sedikit menghibur ara, ia dengan telaten dan sabar menanggapi keinginan nyidam Ara yang terkadang nyeleneh, dia juga selalu menemani ara dalam pemeriksaan rutin, bahkan ia mengikutkan Ara dalam sebuah klub konseling kelas ibu hamil.
Ara yang mendengar penjelasan Jay hanya bisa menghela nafas pasrah, "Aku lelah, sepertinya aku akan beristirahat lebih awal," Ara berucap dan berlalu menuju kamarnya.
Jay menatap kepergian Ara yang berjalan lesu, ia merasa kesal kepada Hansel atas sikapnya yang secara tiba-tiba mulai mengabaikan Ara.
Jay mencoba menghubungi hansel sekali lagi, ia tidak bisa hanya diam dan menunggu, melihat Ara yang kian hari semakin bersedih.
Panggilan pertama berakhir tanpa ada respon, Jay harus mencobanya berkali-kali hingga akhirnya hansel menjawab.
"Ada apa? " tanya Hansel dingin.
__ADS_1
"Ada apa? " ulang Jay dengan kesal, "Apa kau gila? " bentak Jay.
"Katakan langsung apa yang kau inginkan, jika tidak ada yang ingin kau katakan aku akan menutupnya, aku masih banyak pekerjaan," jawab hansel datar.
"Brengs*k kau Hansel, apa yang kau inginkan? Kenapa kau menelantarkan istrimu seperti ini? Apa kau tahu bagaimana perasaan Ara saat ini? " marah Jay.
"Jika kau sudah lelah mengurusnya, kau bisa memulangkannya, aku masih belum memiliki waktu untuk menjemputnya," ucap hansel tanpa perasaan.
"Apa? " Jay menggeleng tak habis pikir dengan ucapan Hansel, "Baiklah, jika memang itu keputusan mu, kuharap kau tidak akan menyesalinya," dengan kesal Jay mengakhiri panggilannya.
Langkah panjang Jay membawanya ke kamar Ara, tanpa mengetuk pintu Jay langsung berjalan menghampiri Ara yang masih terjaga menatap langit dari balkon kamarnya, "Kemasi barang-barang mu, kita akan pulang," ucap Jay singkat tanpa penjelasan.
"Apa? Kenapa? Apa terjadi sesuatu? Apa Hansel baik-baik saja? " tanya ara yang terkejut karena ajakan Jay yang tiba-tiba.
Gigi Jay bergemerak menahan amarah, "Berhentilah memikirkan lelaki brengs*k yang sama sekali tidak peduli padamu itu," bentak Jay marah.
Ara tersentak karena belum pernah melihat Jay semarah ini, "Jay?"
Menyadari keterkejutan Ara, Jay memegang pundak Ara dengan cukup kuat, mensejajarkan pandangan mereka, "Maaf Ara, aku tidak bermaksud membentakmu," ucap Jay lembut, "Sekarang berkemaslah! Kita akan pulang," senyum manis menghias wajah Jay.
Ara hanya mengangguk tanpa banyak bertanya lagi ia mulai mengemasi barang-barang nya yang tidak banyak jumlahnya itu, dengan bantuan Jay tidak perlu waktu lama semua barang arabtelah tertata rapi dalam koper.
"Sekarang istirahatlah, Besok pagi-pagi sekali kita kembali ke negara I," pungkas Jay meninggalkan kamar Ara.
Selama bersama Ara Jay merasa sangat nyaman dan bahagia, ia tidak tahu perasaan apa yang ia miliki untuk wanita itu, namun ia tidak akan segan intuk menjadi garda terdepan untuk melindungi dan menjaga Ara dari siapapun, termasuk Hansel.
Disisi lain seorang Hansel nathanael anderson nampak kacau dengan botol minuman beralkohol ditangannya.
"Kenapa jadi seperti ini? " terlihat sudut mata Hansel mulai berair di tengah cahaya remang ruangan tersebut.
__ADS_1
To be continued 😊.
Terimakasih.