
"Dimana istriku,"
"Nyonya Ara ada di kamar Tuan," jawab Bu Sari sedikit gugup.
"Bagus, apa dia sudah makan malam?" Hansel bertanya lagi saat mereka hendak menaiki anak tangga pertama.
Bu Sari tampak terdiam sesaat, "Nyonya Ara tidak keluar sama sekali dari kamar semenjak kepergian tuan tadi siang," jelasnya kemudian.
Seketika langkah Hansel terhenti, raut mukanya berubah, "Apa? Mengurus satu orang saja kau tidak bisa," intonasi Hansel sudah naik satu oktaf.
"Maaf Tuan, saya sudah membawa makanan Nyonya ke atas berkali-kali, tapi nyonya sama sekali tidak mau menyentuhnya, Nyonya juga menolak saat saya mengajaknya berkeliling rumah," jelas Bu Sari semakin tertunduk.
Makian Hansel sudah sampai di ujung lidah, namun dengan sekuat hati dia berusaha menahannya. Hansel sudah memikirkan untuk lebih dewasa dan penyabar seperti saran Morgan. Berulang kali Hansel menarik nafasnya, memejamkan mata berusaha untuk mengatur emosi.
"Ikut aku keatas, bawakan makanan untuk kami berdua," kata Hansel lebih terkontrol.
"Baik tuan," jawabnya seraya menunduk dan berjalan menuju dapur dengan langkah cepat, beberapa saat kemudian Bu Sari sudah kembali bersama dua orang pelayan dengan dua nampan berisi makanan dan minuman di tangan mereka.
Sesampainya di lantai atas, Hansel segera membuka pintu kamar berwarna putih dengan ukiran bunga kaktus di sekelilingnya. Bunga kesukaan Ara, rumah ini benar dibuat untuk Ara oleh Hansel, semua yang ada disini didesain dengan semua hal yang disukai Ara , dari cat dan juga tata letak yang dulu pernah diinginkan Ara saat masih muda. Hansel masih ingat dengan jelas jika Ara dulu pernah berkata bahwa ia ingin agar dirinya suatu saat nanti bisa menjadi Cinderella yang tinggal di istana yang bagus dengan banyak pelayan, tapi ia lebih suka jika tamannya dipenuhi dengan kaktus, mungkin karena nama lengkap Ara adalah Sahara, gurun dan kaktus satu kesatuan, mungkin begitu.
Ruangan tanpa penerangan menyambut Hansel ketika memasuki kamarnya, segera setelah Bu Sari menekan saklar lampu, pandangan mata Hansel menangkap sosok Ara yang meringkuk di sofa. Dengan satu gerakan tangan Hansel, Bu Sari beserta dua orang pelayan meninggalkan kamar tersebut setelah selesai menata makanan di meja.
Hansel berjalan mendekati istrinya yang sedang terbuai di alam mimpi, wajah ayu Ara terlihat sembab, sepertinya ia menghabiskan sepanjang hari dengan menangis. Tangan Hansel terulur untuk menyibak helaian rambut Ara yang menutupi wajah sendu itu, Hansel membelai pipi Ara dengan penuh kelembutan , berlama-lama memandang Ara, menikmati wajah Ara yang tampak sangat nyaman dengan tidurnya.
"Mbak? Mbak Ara? Bangun dulu, makan yuk!" Hansel menggoyangkan bahu Ara pelan.
"Hmm" Ara hanya menggeliat sedikit, tapi tidak juga membuka mata.
__ADS_1
"Makan dulu mbak, biar nggak sakit," Hansel kembali menggoyangkan tangannya di bahu Ara lebih kuat .
"Apaan sih ," Dengan gusar Ara langsung bangkit dari tidurnya, tanpa sengaja kepala keduanya saling terbentur karena posisi Hansel yang tepat berada di atas Ara, sontak keduanya kesakitan mengelus kening masing-masing.
"Awh, sakit ," teriak Ara.
Hansel beralih mengelus kening Ara, mengabaikan keningnya sendiri yang memerah, sesekali meniupnya, seperti yang selalu dilakukan oleh Ara ketika dirinya terjatuh saat masih kecil dulu.
"Maaf, masih sakit?" Hansel terus mengelus dan meniup kening Ara yang memerah.
Ara tampak terkejut dengan perlakuan lembut Hansel saat ini, membuat jantung Ara berdetak cepat, "Sudah-sudah, aku tidak apa-apa," Ara menepis tangan Hansel, "lagian kamu ngapain sih liatin aku lagi tidur," lanjut Ara kemudian.
"Ini aku bawain makanan, Bu Sari bilang, kalau mbak Ara belum makan dari tadi siang, yuk makan bareng!" tawar Hansel menunjuk kearah meja di dekat mereka yang sudah tertata rapi beberapa makanan.
"Aku nggak lapar, kamu makan aja sendiri," tukas Ara
"Nggak mau Hansel, aku nggak lapar!" tolak Ara lagi.
"Ck, mbak Ara ini sudah kayak anak kecil aja, makannya susah," gerutu Hansel yang mulai memasukkan makanan ke dalam mulutnya, mengacuhkan pelototan mata Ara.
"Anak kecil? Hah, kau bilang aku anak kecil? Hei, bocah, aku adalah orang yang dulu menyuapi sampai memandikan mu, dan sekarang kau bilang aku anak kecil? Yang benar saja," omel Ara tidak terima.
"Lantas sekarang siapa yang sikapnya seperti anak kecil? Makan aja masih harus dibujuk," goda Hansel lagi.
"Bocah nakal, sini berikan padaku!" Ara merebut piring dari tangan Hansel, " Makan ya makan, siapa yang anak kecil," Ara mulai makan dengan lahap, tak peduli kalau piring itu adalah piring Hansel. Dulu Ara juga sering makan makanan Hansel, saat anak itu sulit makan atau tidak menghabiskan makanannya, siapa sangka jika hal ini terjadi lagi, dengan situasi yang rumit.
Hansel tersenyum melihat piring Ara yang sudah tandas tak tersisa.
__ADS_1
"Mbak, maaf ya?" ucap Hansel tiba-tiba.
"Apa?" Ara tidak mengerti.
"Soal tadi siang dan yang sebelumnya. Hansel janji nggak bakal lakuin hal kayak gitu lagi sama mbak Ara," ucap Hansel bersungguh-sungguh.
Ara hanya diam menanggapi ucapan suaminya itu, jujur saja, sebenarnya jika Ara pikirkan lagi, Hansel tidaklah salah saat meminta hak nya sebagai seorang suami, hanya saja Ara belum siap menerimanya, dan hal itu membuat Ara semakin membenci Hansel.
Ara menghela nafas berat, "Iya, aku juga minta maaf sama kamu, nggak seharusnya aku berkata kasar padamu, tapi untuk hal itu aku memang belum siap, jadi aku harap kedepannya kamu nggak akan memaksakan kehendak mu padaku lagi," tutur Ara.
"Makasih Mbak, aku berjanji padamu , saat aku melakukannya dengan mu adalah saat dimana kau benar-benar menginginkannya," tulus Hansel.
Keduanya pun saling berjabat tangan, dan tersenyum. Hansel sangat senang dengan kemajuan hubungan diantara mereka, setidaknya saat ini Ara tidak lagi melihatnya dengan tatapan kebencian.
"Malam ini, aku akan tidur di ruang kerja,mbak bisa tenang tidur di kamar ini mulai sekarang," ucap Hansel, meskipun hatinya menjerit dan meronta tidak setuju, tapi Hansel memaksakan bibirnya untuk tetap tersenyum.
Hah, menjadi pria dewasa yang lembut sangat menyiksa, aku ingin sekali menerkam mbak Ara sekarang, bagaimana aku bisa menghabiskan malam ku sendirian.
"Ara! Mulai sekarang kau sudah boleh memanggilku Ara, akan aneh bila orang lain mendengar mu memanggil istrimu dengan sebutan mbak. Yah, walaupun pada kenyataannya aku memang lebih tua darimu."
Ucapan dari Ara sudah bagaikan hujan musim semi untuk Hansel, satu langkah menuju arah yang Hansel inginkan.
Semangat Hansel, yakinlah hati Ara pasti akan luluh padamu, Hansel menyemangati dirinya sendiri.
TBC🥰🥰🥰
Terimakasih banyak atas dukungannya. Jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan like,komen, rate dan tekan tanda ❤️ ya terimakasih.
__ADS_1
Yuks baca juga karya lain dari author Neshamy, tap profil aku ya,,🙏🙏🙏