
Langit malam tanpa bintang, sang rembulan juga enggan untuk bersinar, bahkan beberapakali kilat terlihat membelah langit diiringi suara bergemuruh yang menandakan hujan akan datang. Beruntung Ara dan Hansel kini sudah hampir sampai di rumah, banyak sekali barang dan camilan yang dibeli Ara dari pasar malam, memenuhi kursi bagian belakang mobil mereka. Sementara Ara duduk dengan tenang seraya menikmati permen kapas berukuran jumbo, senyuman mengembang di wajah ayunya.
"Kau mau?" tawar Ara pada suaminya yang sedang konsentrasi menyetir.
"Tidak, perutku rasanya sudah sangat kenyang bagaimana kau masih bisa mengisi perut rata itu, setelah semua yang kau makan di sana tadi," ucap Hansel menggeleng pelan.
Ara hanya tertawa, sedetik kemudian senyuman menghilang dari wajahnya yang berubah serius, "Hansel boleh aku meminta sesuatu?"
"Apa lagi? Masih pengen jajan lagi?" gurau Hansel.
"Bukan," sanggah Ara, " Bisakah aku kembali bekerja besok?" ujar Ara penuh harap.
"Kenapa?" hanya satu kata yang keluar dari bibir Hansel, tetapi penuh dengan rasa sakit.
Hansel mengira jika Ara tetap ingin bekerja bersama dengan Johan, ia merasa jika Ara masih berharap untuk kembali bersama dengan mantan tunangannya dan akan meninggalkannya suatu saat nanti.
"Hanya untuk satu bulan, setelah itu aku akan benar-benar berhenti dari sana," jelas Ara pelan.
"Kenapa?" lagi.
"Aku tahu jika kau tidak menyukainya, tapi bisakah kau mempercayaiku?" pinta Ara.
"Aku selalu percaya padamu Ara, tapi tidak dengan para pria di luar sana, mereka bisa mencuri dirimu dariku, dan aku tidak ingin itu terjadi," jelas Hansel, suaranya penuh dengan emosi tertahan. Ingin rasanya ia membentak dan berteriak di hadapan Ara, membuat istrinya itu mengerti jika hanya boleh ada dirinya di hati Ara, selamanya. Namun, semua itu ia tahan dengan sekuat tenaga, ia tidak ingin menakuti istrinya lagi.
__ADS_1
"Tenang saja Hansel, aku tahu posisiku, aku tahu statusku saat ini, bahwa aku sekarang adalah istri dari Tuan Hansel Nathanael Anderson, aku berjanji akan selalu menjaga diriku," ucap Ara tulus.
Hansel menghela nafas panjang, "Baiklah, tapi aku punya syarat," ujarnya kemudian.
***
Di tempat lain, Johan sedang menatap layar laptopnya setajam elang, ia berencana mencari tahu mengenai kronologi kejadian pada malam pertunangannya yang berakhir dengan perpisahan antara dirinya dan Ara. Johan yakin ada sesuatu yang tidak benar. Dengan cekatan Johan mulai memeriksa rekaman cctv, dan setelah berkutat cukup lama, ia menemukan ada beberapa bagian yang terpotong dan sengaja dihilangkan. Dengan langkah pasti Johan membawa rekaman tersebut kepada seorang ahli komputer dan berharap rekaman itu bisa dipulihkan, agar tidak ada lagi keraguan dalam hatinya.
***
Kembali ke Hansel dan Ara. Senyuman mengembang di bibir Hansel yang menggoda, bagaimana tidak, dia saat ini bisa kembali tidur di kamarnya bersama dengan sang istri, sementara Ara hanya bisa mengerucutkan bibirnya kesal, ia merasa bocah itu telah memanipulasinya. Yap, inilah syarat yang diajukan oleh Hansel, ia meminta Ara agar mau tidur satu ranjang dengannya. Ara sudah menjadi candu bagi Hansel, yang membuatnya ingin meneguk aroma tubuh Ara yang begitu manis itu sepanjang malam.
"Sudah selesai?" tanyanya kepada Ara yang baru saja keluar dari kamar mandi.
Setelahnya giliran Hansel yang menghilang di balik pintu kamar mandi.
Suasana menjadi sedikit canggung ketika keduanya berbaring saling memunggungi, jangan tanya bagaimana detak jantung keduanya, seperti ada genderang yang ditabuh di dalam sana.
"Mbak Ara?" panggil Hansel manja. Menghadap punggung Ara yang masih enggan berpaling, "Sudah tidur ya?"lanjutnya.
Ara yang mendengar suara lembut dan dalam suaminya hanya bisa mencengkeram selimut lebih kuat, dan tetap kukuh memejamkan matanya, ia tidak mau menanggapi Hansel. Wajahnya terasa panas hanya dengan berada satu ranjang dengan suaminya, jantungnya berdegup kencang, dan tangannya mulai berkeringat. Apalagi kini Hansel mulai mendekatkan tubuhnya, hingga Ara bisa merasakan nafas berat pria itu di tengkuknya, menimbulkan gelitik hasrat di hati Ara.
Hansel tahu jika Ara hanya berpura-pura tidur, tapi dia tidak bisa menghentikan hasratnya, aroma manis tubuh sang istri begitu menggoda, ia tidak tahan lagi. Terserah jika ia akan ditolak lagi, setidaknya dia sudah berusaha. Kini Hansel mulai mendekatkan tubuhnya, dan mulai menyibak rambut Ara hingga memperlihatkan lehernya yang begitu putih dan mulus, tanpa bisa dicegah lagi, kini ia mulai mencium tengkuk di hadapannya, seraya tangan besar itu yang sudah menyusup di pinggang ramping Ara. Hansel sedikit menarik turun piyama Ara hingga bahu indah Ara terlihat, dan kini Hansel mulai melancarkan aksinya, ia mulai memberikan kecupan di sepanjang bahu hingga leher Ara.
__ADS_1
Satu, dua, tiga, empat, lima detik cukup bagi Ara untuk menahan godaan Hansel, dengan cepat ia berbalik, kini tatapan mata keduanya bertemu, mata sebiru lautan itu menghipnotis Ara dengan keindahan, sontak ia merasakan sesuatu mulai berdenyut di bawah sana, Ara membasahi bibirnya yang terasa kering, dan hanya itu yang Hansel butuhkan sebagai undangan. Wajah yang terlalu tampan itu mulai mendekat dengan perlahan, membuat wajah Ara terasa semakin panas, ia tidak kuasa untuk menghindar dari kenikmatan ini, dan membiarkan sang suami menyatukan bibir mereka.
Sapuan demi sapuan lembut diberikan oleh Hansel di bibir ranum sang istri, menggoda Ara untuk melakukan lebih dari ini, perlahan Hansel membuka bibir Ara dan membiarkan lidah keduanya saling berbelit, sementara tangannya mulai bergerilya di lekuk indah tubuh istrinya, memberikan gelitik yang lebih dahsyat di tubuh Ara. Saat bibir keduanya terpisah, nafas keduanya berhembus hangat menyatu diantara mereka.
"Biarkan malam ini aku menyentuhmu!" pinta Hansel dalam, suaranya sudah diliputi hasrat yang tidak mungkin terhentikan.
"Aku takut Hansel," jawab Ara lirih. Bayangan akan terakhir kali mereka bercinta masih membuat Ara ketakutan dengan rasa sakitnya.
"Aku akan melakukannya dengan lembut, aku berjanji tidak akan memaksamu, aku mohon, aku tidak sanggup lagi," gigi Hansel mengatup rapat menahan gejolak hasratnya, " Jika kau merasa kesakitan aku akan menghentikannya, aku janji," suara Hansel memohon, "Katakan iya Ara, katakan iya," lanjutnya karena tidak kunjung mendapatkan jawaban dari Ara.
"Iya," satu kata itu belum terucap sempurna kala Hansel kembali menautkan bibir mereka.
Kali ini Hansel menepati janjinya, ia melakukannya dengan sangat lembut. Sentuhan demi sentuhan tangan Hansel semakin membakar hasrat Ara hingga ke puncak. Tangan Hansel meremas buah kenyal Ara dengan bersemangat mulai melucuti satu persatu pakaian istrinya, hingga tubuh polos Ara terpampang di bawah pandangannya.
Bibir Hansel melakukan serangan demi serangan di setiap titik sensitif Ara, mengulum puncak buah kenyal itu hingga terdengar lenguhan indah dari bibir Ara. Saat jari Hansel mulai melakukan sesuatu dibawah sana, Ara tidak bisa menahan dirinya lagi, ia menggigit bibir bawahnya karena malu untuk mengeluarkan suaranya.
"Keluarkan sayang, jangan ditahan. Aku ingin mendengar suara indahmu," bisik Hansel semakin menggoda, sementara jarinya masih menari dengan lihai, memporak-porandakan pertahanan Ara. Hingga jeritan itu keluar bersamaan dengan sesuatu yang hangat dan basah dibawah sana.
Sekarang giliran Hansel yang akan membiarkan juniornya melakukan tugas utama,kini ia sudah memposisikan tubuhnya, bersiap untuk merajut keindahan bersama.
"Aku mencintaimu, kau begitu sempurna," ucap Hansel seraya mendorong miliknya menyatu dengan sang istri.
TBC🥰🥰🥰
__ADS_1
Hai readers, terimakasih banyak atas dukungannya, jangan lupa like dan komennya di bawah. Agak panas dikit ya chapter kali ini, maaf kalau kata-katanya agak kurang pantas dan kurang bagus dan untuk penulisan yang masih belum rapi serta typo yang masih bertebaran, author masih belajar, semoga kedepannya bisa lebih baik lagi. Thanks 🥰 love you all 🥰🥰