
**meskipun saling mencintai, tapi jika untuk bersama hanya akan saling menyakiti, bukankah lebih baik untuk sedikit memberi jarak. Seperti sepasang landak yang saling menusuk satu sama lain, tanpa mereka sadari mulai menyakiti orang yang paling mereka sayangi.*
Sudah satu bulan berlalu, Ara dan juga Hansel masih terkurung dalam kamar mereka.
Ara dengan penuh harap menantikan kedatangan Hansel untuk segera menjemputnya, hari-harinya diisi air mata dan lamunan, menatap jauh keluar jendela kamar. Semenjak saat itu Johan tidak pernah lagi datang untuk menyentuhnya, pria itu hanya akan sesekali melihat kondisi Ara, sementara pakaian dan makanan akan diantarkan oleh pelayan.
Sering Ara mencoba melarikan diri namun selalu gagal, di Minggu awalnya ia selalu memberontak dan menolak makanan yang diantarkan kepadanya.
Penolakannya berakhir kala Minggu kedua, ia menyadari jika ia telah melewati tanggal dimana tamu bulanannya seharusnya datang. Awalnya Ara berfikir jika menstruasinya sedang tidak teratur karena ia sedang stress, nyatanya sampai saat ini ia tak kunjung datang bulan, hingga membuat Ara sedikit takut, mungkinkah dirinya hamil.
Ara belum tahu pastinya, apakah ia benar hamil atau tidak, yang jelas Ara tidak mau mengambil resiko, jika benar ada seorang bayi dalam perutnya, ia tidak ingin bayi tidak berdosa itu kelaparan. Ara sengaja merahasiakan hal ini dari siapapun, termasuk Johan.
Di tempat Hansel.
Pria tampan itu tampak lebih kurus dari sebelumnya, ia tampak berbaring lemah di atas tempat tidur dengan selang infus di tangan. Hansel yang malang, tangan dan kakinya terikat di ranjang.
Daddy-nya terpaksa melakukan hal tersebut karena Hansel selalu berusaha menyakiti dirinya sendiri, mengancam akan mengakhiri hidup untuk mendapatkan izin menemui Ara, awalnya Tuan Robert dan istri menganggap jika itu hanyalah sebuah omong kosong belaka, tapi mereka menjadi khawatir saat Hansel mulai melakukan hal yang membahayakan nyawanya, putra semata wayangnya pernah di temukan hampir meregang nyawa karena kehabisan darah akibat menyayat tangannya sendiri, membuat sang mommy tidak bisa melarang tuan Robert saat beliau memerintahkan para bodyguard mengikat tangan dan kaki putranya, demi keselamatan Hansel.
"Hansel sayang? Ada Jay datang mengunjungimu, bangunlah!" ucap nyonya Margaret pelan.
Mendengar nama Jay sahabatnya, perlahan mata Hansel terbuka, tubuh kekar Jay
tegah berdiri di samping tempat tidur, menatap dirinya dengan khawatir.
"Hi bro? " sapa Jay dengan senyum yang dipaksakan.
"Kau sudah menemukannya?" tanya Hansel.
Jay hanya bisa menggeleng pelan, tidak perlu bertanya siapa yang dimaksud Hansel, ia juga merasa kesal dan frustasi karena gagal menemukan keberadaan Ara.
Netra Hansel tertutup dengan rasa sakit. Dia merasa tidak berguna.
"Bibi bisakah anda meninggalkan kami berdua? Aku ingin bicara secara pribadi dengan Hansel," pinta Jay.
Nyonya Margaret nampak berfikir sebentar, "Baiklah bibi mengerti, tolong bujuk Hansel agar berhenti menentang Daddy nya, aku berharap banyak padamu Nak Jay," menepuk lembut bahu Jay sebelum berlalu meninggalkan ruangan.
"Hansel?" ucap Jay pelan.
"Lepaskan ikatanku Jay! Bantu aku keluar dari sini! Aku harus mencari Mbak Ara ku, dia pasti ketakutan menunggu ku datang Jay," pinta Hansel dengan putus asa.
__ADS_1
"Lalu apa? setelah aku membantu mu untuk keluar, apakah kau yakin Daddy mu tidak akan bisa menangkapmu lagi? Apa kau pikir Ara akan baik-baik saja saat daddy mu tahu jika kau berusaha menemukannya? Kau tidak sebodoh itu Hansel?" jelas Jay.
"Apa maksudmu?" jawab Hansel dingin.
"Kau tahu aku Hansel, aku sangat hebat dalam menemukan orang, tapi lihatlah sampai sekarangpun aku masih belum bisa menemukan lokasi istrimu, ini tidak benar. Jika ini hanya penculikan biasa pasti sangat mudah bagiku menemukannya," helaan nafas kasar keluar dari bibir Jay.
"Jadi maksudmu keluargaku sendiri dalang dari semua ini?" geram Hansel.
"Sepertinya begitu."
Hansel termenung, "Bantu aku lagi!" ucap Hansel tiba-tiba, kini ia akan mengikuti alur permainan keluarganya.
...****************...
Tubuh Johan menyelinap masuk ruangan Ara dengan nampan di tangannya, sudah berhari-hari ia tidak melihat Ara, meskipun hubungan antara keduanya semakin renggang semenjak malam itu, Johan tidak menyesali perbuatannya, ia yakin jika dirinya pasti akan berhasil mendapatkan Ara kembali.
"Ara?" sapa Johan meletakkan nampan di atas meja.
Ara tidak tertarik untuk sekedar menoleh, netranya masih tetap menatap kejauhan dari atas balkon, kadang Ara tergoda untuk melompat saja dari sana dan mengakhiri hidupnya. Ia merindukan hari dimana ia dan ibunya hidup di desa yang sepi, cukup Ara dan ibunya, ia tidak pernah menyangka jika kesulitan yang ia alami saat masa kecil dulu bukan apa-apa jika dibandingkan dengan rasa sakit yang harus ia tanggung saat ini.
"Aku membawakan mu makanan, makanlah!" ucap Johan lembut.
Johan menghela nafas, "Baiklah, aku akan meninggalkan makanannya disini. Ada seseorang yang ingin bertemu denganmu," katanya sebelum tubuh indah Johan berlalu menghilang di balik pintu.
Ara masih enggan meninggalkan tempatnya berdiri, balkon ini merupakan tempat favorit Ara, dari sana ia bisa mengamati langit luas yang terkadang cerah, dan terkadang kelabu seperti sekarang. Sepertinya musim hujan berlangsung lebih lama tahun ini. Ia juga bisa dengan puas menangis kala harapan Hansel akan datang menjemputnya sampai kini belum terwujud.
Berkali-kali Johan mengatakan jika Hansel hanya bermain-main dengan Ara dan sekedar menjadikan Ara alat bersenang-senang sebelum pernikahan yang sesungguhnya dengan tunangan yang sudah dipilihkan oleh keluarganya. Namun, Ara memilih untuk tidak mempercayainya, Ara masih mencoba berpegang teguh dengan hatinya.
Tok...tok.
Terdengar suara ketukan sesaat sebelum sosok gadis cantik membukanya, wajah ayu terawat serta perawakan tinggi semampai, dan dress indah menggantung sampai lututnya, yang menambah keanggunan sempurna gadis itu.
"Mbak Ara?" sapanya.
Ara menoleh menatap Vanesha yang tersenyum manis padanya, "Vanessa ?" ucapnya tidak bisa menyembunyikan keterkejutan.
"Apa kabar?"
"Bagaimana kau bisa disini?" tanya Ara penasaran.
__ADS_1
"Tenang mbak Ara, aku tidak bermaksud jahat." Vanessa dengan santai berjalan lebih jauh memasuki ruangan, mengambil tempat duduk di sofa, sekilas ia melihat makanan di meja yang belum tersentuh, "Mbak Ara belum makan?" tanyanya.
"Jawab pertanyaan ku! Bagaimana kau bisa berada disini?" Ara beranjak mendekati Vanessa, dengan dingin menatap mantan tunangan suaminya itu, firasatnya mengatakan jika gadis yang ada dihadapannya ikut andil dalam semua kejadian yang dialaminya selama satu bulan belakangan ini.
"Baiklah, kurasa sudah saatnya kau tahu, Aku berada disini karena kak Hansel yang memintaku kemari," jawab Vanessa santai.
"Hansel? Apa maksudmu? Jagan bertele-tele, katakan yang jelas!"
"Tenang mbak Ara, jangan terburu-buru begitu!" sudut bibir Vanessa terangkat menampakkan seringaian licik.
"Aku tidak punya waktu untuk omong kosong mu, katakan dimana Hansel sekarang!" hardik Ara.
"Tentu saja kak Hansel berada di rumah kami, sebentar lagi kami akan menikah," kini Vanessa Menampakkan sifat aslinya.
Netra Ara membulat, tangannya dengan gemetar terulur untuk menerima kertas yang disodorkan oleh Vanessa. Sebuah undangan yang indah kini berada di tangan Ara, membuat sebutir air mata lolos menuruni pipinya. Ara berusaha untuk tetap tenang, ia berusaha mengambil nafasnya beruang kali untuk menghilangkan amarah bercampur rasa sakit yang memenuhi dadanya.
"Ini tidak benar," tegas Ara, ia mengatakan nya beruang kali sekedar untuk menguatkan hatinya.
"Kau bisa tidak mempercayai ku mbak Ara, tapi begitulah kenyataannya. Kau pikir Hansel akan membatalkan pertunangan kami hanya untuk wanita sepertimu?" cemooh Vanessa.
"Tidak, kau bohong."
"CK CK CK, caramu menyangkalnya membuatmu terlihat lebih menyedihkan Ara. Terimalah kenyataan bahwa Hansel hanya menjadikanmu alat untuk bersenang-senang sebelum pernikahan yang sebenarnya denganku, dan harus kukatakan jika aku ingin sekali melenyapkan mu, karena aku tidak menyukai wanita yang pernah disentuh oleh suamiku, tapi yasudahlah, toh aku tetap yang pertama bagi Hansel," cerocos Vanessa.
Kini Vanessa kembali menyodorkan lembaran kertas, "Tandatangani ini, dan semuanya akan berakhir disini, keluarga Anderson akan memberikan kompensasi yang sepadan dengan harga mu selama Hansel menggunakan mu!" sinis Vanessa.
Ara melihat kertas tersebut yang ternyata adalah surat perceraian.
"Jika ingin bercerai dengan ku, katakan pada Hansel untuk datang kemari sendiri, maka aku akan langsung menandatanganinya saat itu juga!" kata Ara tegas.
"Jangan keras kepala dan tanda tangani saja! Hansel tidak punya waktu untuk omong kosong mu," jawab Vanessa kesal.
"Aku akan menandatanganinya jika Hansel yang mengatakannya sendiri dihadapan ku," ulang Ara penuh penekanan.
"Heh, terserah. Ada tidak adanya surat perceraian ini, tidak akan menghentikan pernikahan ku dan kak Hansel. Jadi dengar baik-baik, jika kau tidak menandatanganinya, maka selamanya kau akan terkurung disini, kau mengerti? Pikirkan itu!" ucap Vanessa kemudian berlalu pergi.
Ara hanya bisa membiarkan air mata sebagai pelarian. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan.
"Apa ini benar-benar keinginanmu Hansel?" ucap Ara lirih di sela tangisannya.
__ADS_1
To be continued 🤗.