
Langit pagi ini tidak begitu bersahabat, sepertinya ia sudah akan mencurahkan rindunya untuk menyentuh bumi dengan cucuran airnya.
Ara nampak sibuk merapikan perlengkapan kerjanya, memperhatikan penampilannya untuk yang terakhir didepan cermin dan tersenyum, sempurna.
Atasan kerja berwarna putih dengan kombinasi rok span selutut berwarna baby blue terlihat anggun melekat sempurna ditubuh Ara. Riasan natural mempercantik wajah Ara yang memang sudah cantik sedari lahir.
Ara bergegas menyelempangkan tas kerjanya di bahu dan berlalu meninggalkan kamar, menuruni tangga dengan sedikit tergesa, high heels yang dipakainya menimbulkan suara sedikit keras ketika beradu dengan anak tangga,di bawah terlihat sudah ada Bu Sari yang menunggunya. Wanita yang cukup berumur itu, menunduk sopan pada Ara.
"Apa nyonya ingin sarapan terlebih dahulu, atau menunggu tuan Hansel bangun?" menekankan kata tuan Hansel dalam ucapanya.
Tatapan mata Bu Sari mengisyaratkan ' saya mohon jangan pergi sebelum mendapat izin dari tuan Hansel, semua orang akan terkena imbasnya' kira-kira seperti itu arti tatapan memohon dari Bu Sari.
"Ah, sepertinya aku akan sarapan di kantor saja, tolong sampaikan pada Hansel," ujar Ara berlalu dari hadapan Bu Sari.
Jarak rumah barunya dan kantor ** Grup tempatnya bekerja cukup memakan waktu, belum lagi jika jalanan macet. Membuat Ara harus berangkat lebih awal, dan lagi ia tidak membawa mobil atau motornya kemari jadi dia sudah memesan taksi online sebelumnya.
Didepan Ara mendapatkan tatapan aneh dari para pelayan yang melihatnya masuk ke dalam taksi, yang sudah menunggunya di depan gerbang, Ara tidak peduli, sedikit jarak dari Hansel adalah kebebasan baginya, meskipun hubungan antara dirinya dan Hansel sudah lebih baik namun tetap saja tidak secepat itu ia bisa menerima Hansel di hatinya yang sudah terisi penuh oleh nama Johan.
Beruntung jalanan pagi ini tidak terlalu macet, sehingga Ara bisa sampai di kantornya lebih awal, Ara segera menyiapkan meja kerjanya dan kembali meninjau semua pekerjaannya yang tertunda selama dua hari ini karena ia mengambil cuti, bukan cuti untuk menikah, ia hanya mengambil cuti dengan alasan ' kepentingan keluarga' . Rekan kerjanya tidak ada yang mengetahui jika ia saat ini sudah berstatus sah sebagai istri seorang Hansel Nathanael Anderson, mungkin seluruh dunia akan menertawakannya keras-keras. Dan mengenai hubungannya dengan Johan, sudah menjadi konsumsi publik, di perusahaan ini, bahwa wakil direktur ** grup berkencan dengan sekretarisnya, bahkan mereka berencana untuk menikah, yang tidak mereka ketahui adalah kenyataan bahwa hubungan yang selalu membuat rekan kerjanya iri itu kini telah kandas menjadi puing masa lalu yang menyakitkan.
Ara meminta tolong kepada seorang office boy untuk membelikannya sarapan di kantin perusahaan, ** grup memang bukanlah perusahaan besar, perusahaan ini dirintis oleh Johan sendiri sekitar sepuluh tahun yang lalu, saat itu Ara mungkin masih di bangku kuliah. Dengan bermodalkan pengalaman dan tekad yang kuat Johan berhasil membuat perusahaan kecilnya bertahan dan berkembang sedikit demi sedikit, sifat Johan yang ramah dan baik membuat semua karyawan disini bekerja dengan sepenuh hati.
Terlihat para pegawai mulai datang menempati ruangan dan posisi mereka masing-masing seiring berjalannya waktu yang semakin siang. semua orang tampak sibuk melakukan pekerjaan mereka,termasuk Ara.
Namun sampai jam makan siang datang ,Ara sama sekali belum melihat batang hidung Johan, mungkin Ara berdosa karena merindukan pria lain selain suaminya, tapi apa daya, menghapus rasa cintanya tidak semudah membalikkan telapak tangan.
__ADS_1
"Hei Ara, mau makan siang bareng nggak nih?" tanya Gisel Rahma Wati, teman Ara .
"Boleh, sebentar ya!" Ara segera merapikan mejanya, dan menyusul temannya yang sudah menunggu.
Keduanya berjalan menuju kantin, tak sedikit orang yang tersenyum dan menyapa mereka.
"Pak Johan hari ini nggak dateng ya Ra," tanya Gisel seraya memasukkan sesuap nasi kedalam mulutnya.
"Hmm, kayaknya gitu," jawab Ara lesu
"Emang kenapa? Kalian lagi berantem ya?" Gisel mendekatkan tubuhnya sedikit berbisik.
Ara hanya menggeleng, dia ingin bercerita tapi ia sendiri masih tidak percaya dengan kenyataan kalau kini ia sudah bukan lagi tunangan dari Johan, dan justru berakhir menjadi istri dari seorang Hansel.
"Gisel? Sebenarnya..." Ucapan Ara terhenti saat tiba-tiba saja suara dari ibu Johan sudah berdiri di hadapan mereka, menggebrak meja makan dan mengejutkan semua orang yang sedang berada di kantin tersebut.
Ara bangkit dari kursinya, dengan linglung. Dirinya tidak mengerti dengan apa yang sedang terjadi saat ini, "Ada apa tante?" Ara bertanya dengan gugup.
"Ada apa? Kau masih bertanya ada apa?," Nyobya Diana semakin gusar, "Dengar ya perempuan murahan! Perusahaan anakku tidak layak untuk wanita seperti dirimu, apa belum cukup kau menghancurkan kepercayaan putra ku ? Mengkhianati Johan ku? Dan sekarang kau masih ingin bekerja disini? Segera kemasi barangmu dan pergi dari perusahaan ini sekarang juga! Kau dipecat!" teriak Nyonya Diana penuh emosi.
"Tunggu sebentar Nyonya! Apa kesalahan Ara sampai ia harus dipecat dengan cara seperti ini? Kalau memang dia melakukan kesalahan, bukankah semuanya bisa dibicarakan baik-baik," Gisel berusaha menengahi.
"Berhenti membela wanita tidak tahu malu ini ! Apa kau tidak tahu, wanita ini hanya memanfaatkan putraku sebagai batu pijakan, agar dia bisa merangkak ke ranjang pria yang lebih kaya dan berkuasa. Temanmu ini lebih rendah dari pada seorang wanita malam, setidaknya mereka melakukannya dengan terang-terangan, bukan seperti dia yang bermain api dan mempermainkan putraku!" seru nyonya Diana.
Bahu nyonya Diana nampak naik turun seiring dengan emosinya yang semakin memuncak, dia sangat tidak terima putranya hanya dijadikan pijakan oleh Ara, apalagi kini Ara mendapatkan keluarga Anderson sebagai ganti putranya, yang notabene merupakan keluarga paling berpengaruh dalam dunia bisnis. Tidak, ia tidak bisa menerimanya. Dulu ketika Johan meminta restu , nyonya Diana sudah menentang mati-matian, tapi putranya tetap kukuh mempertahankan hubungannya dengan Ara. Dan sekarang justru putranya yang mendapat banyak penghinaan karena wanita yang bertunangan dengannya justru berakhir dengan tidur dengan pria lain. Meskipun nama keluarga Anderson tidak pernah terungkap, hanya orang-orang terdekat saja yang mengetahui perihal pernikahan antara Hansel dan Ara, tidak menyurutkan emosi nyonya Diana untuk menyudutkan Ara sebagai seorang gadis murahan dan materialistis.
__ADS_1
"Wanita murahan ini, menjual tubuhnya sesaat setelah ia melakukan pertukaran cincin dengan putraku, dia menjual tubuhnya untuk pria yang lebih kaya dan berkuasa, dia hanyalah wanita yang haus akan harta dan kekuasaan, wanita munafik!" lanjut nyonya Diana terus menyudutkan Ara yang hanya tertunduk.
Ara tidak bisa membendung bulir bening air matanya untuk terjatuh, Ara bisa melihat orang-orang disekitarnya mulai berbisik dan menatap dirinya penuh dengan rasa jijik dan menghina.
"Jadi Ara sudah putus dari pak Johan?"
"Kasian sekali pak Johan,"
"Ternyata cuma cantik luarnya saja, dalamnya busuk,"
"Menjijikkan sekali, apa dia sekarang sudah menjadi peliharaan pria tua kaya,"
"Menjual dirinya hanya untuk kekayaan, benar-benar tidak tahu malu,"
"Padahal, Pak Johan selama ini sudah sangat baik dan tulus padanya, tapi Ara tega sekali mengkhianati nya, kasian pak Johan"
Dan berbagai macam hinaan dapat di dengar Ara dengan jelas dari mereka. Ara malu dan tidak tahu harus berkata apa? bahkan Gisel tampak menutup mulutnya dengan kedua tangan karena terkejut dengan apa yang dikatakan oleh nyonya Diana, Gisel tidak percaya jika sahabat karibnya ini bisa melakukan hal semacam itu.
Telinga Ara rasanya sudah tidak kuat lagi mendengar berbagai macam hinaan dari mereka yang sama sekali tidak memiliki hak untuk menghakimi dirinya, bahkan mereka tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi,tetapi dengan mudahnya tergiring untuk menjatuhkan dan memojokkan dirinya hanya berdasarkan opini seseorang semata.
Ara segera berlari keluar dari kantin, mengabaikan teriakan Gisel yang berusaha menghentikannya. Dia tidak peduli lagi, saat ini ingin rasanya ia lenyap dari pandangan semua orang.
Tanpa sengaja Ara menabrak tubuh seseorang saat ia sedang berlari, air mata yang terus-menerus mengalir mengaburkan pandangannya, membuat Ara tidak bisa dengan jelas melihat siapa orang yang telah ditabraknya barusan, "Maaf," ucap Ara sekilas dengan suara bergetar karena tangis.
"Ara?..." suara seorang pria membuat Ara mengangkat pandangannya.
__ADS_1
TBC.🥰🥰🥰
Mohon maaf yang sebesar-besarnya kepada semua readers tersayang, author baru bisa up, dikarenakan kesibukan di dunia nyata yang tidak bisa author tinggalkan. Padahal ide-ide untuk bab berikutnya sudah sangat bejibun di otak, tapi apalah daya, waktu dan kondisi yang terbatas membuat author baru bisa up hari ini. Terimakasih untuk semua yang masih setia mendukung kisah Hansel dan Ara, love you so much 😘😘