Menikahi Pengasuhku

Menikahi Pengasuhku
Bab. 14


__ADS_3

***


"Apa istriku belum selesai?" ucap Hansel tidak sabar.


Terlihat ia beberapa kali melihat jam tangan berwarna hitam yang melingkar di tangannya, memastikan sudah lebih dari tiga puluh menit ia menunggu Ara yang sedang di rias oleh para profesional di lantai atas. Setelan tuksedo terlihat melekat sempurna ditubuh Hansel yang nampak bak pahatan dari batu pualam yang sangat indah dan memanjakan setiap mata yang memandangnya. Kendati usia Hansel yang baru menginjak angka dua puluh tiga tahun, namun bentuk tubuhnya benar-benar tidak memiliki cela, dadanya yang bidang ,bahunya yang lebar, dan perut rata penuh dengan otot itu, selalu menjadi fantasi terliar bagi para wanita.


Setelah menunggu dan menunggu akhirnya yang ditunggu muncul juga. Hansel tertegun melihat betapa cantiknya penampilan Ara, hingga membuat Hansel tidak bisa berkata apa-apa, ia hanya menatap Ara tanpa bisa mengalihkan pandangannya.


Dress berwarna hitam yang terlihat sangat pas dan cocok untuk Ara menambah kesan menawan juga muda bagi Ara, siapa yang bisa menebak jika wanita ini sudah lebih dari tiga puluh tahun. Dengan penampilannya yang sangat elegan dan berkelas juga tubuh sintalnya yang bisa membuat semua pria meneteskan air liur, wanita muda pun akan terlihat membosankan jika disejajarkan dengan Ara. Rambut Ara yang panjang ditarik kebelakang pada bagian atasnya menggunakan penjepit rambut warna perak, sementara bagian bawahnya dibiarkan menjuntai menutupi punggungnya. Natural mempercantik tampilan Ara.


Hansel membersihkan tenggorokannya yang terasa kering, ingin rasanya ia menyimpan Ara hanya untuk dirinya sendiri, dan membatalkan acara makan malam bersama orang tuanya.


"Aku sudah siap," ucap Ara begitu tiba dihadapan Hansel yang masih mematung.


"Lama sekali, aku hampir berlumut disini," acuh Hansel menutupi kegugupannya.


"Ish, siapa juga yang menyuruh orang-orang itu mendandaniku seperti ini? " Kesal Ara.


"Yah, kau benar. Seharusnya aku tidak menyuruh mereka, kau semakin jelek saja, sepertinya aku menyesal menghabiskan uangku untuk mendandani mu, percuma," Hansel berlalu menuju mobil, diikuti Ara yang memanyunkan bibirnya kesal.


Asisten sekaligus supir pribadi Hansel, Roy, mengantarkan mereka dengan selamat sampai di kediaman Anderson yang sangat megah, Ara semakin gugup, kini tangannya mulai berkeringat. Pagar besi nan tinggi menjulang menyambut kedatangan mereka, binar lampu taman yang menambah kesan mewah dan megah bangunan yang mereka sebut rumah, tetapi bagi Ara ini sudah seperti sebuah istana


"Jangan gugup! Santai saja!" Hansel menepuk lembut punggung tangan Ara sebelum turun dari mobil. Membukakan pintu mobil untuk Ara dengan tangannya sendiri seperti yang selalu dia lakukan.


Ara meletakkan tangannya di atas tangan Hansel yang terulur, membiarkan Hansel menyelipkan tangan mungilnya pada lengan Hansel, membawa Ara menuju pintu yang terlihat sangat besar dihadapan mereka, terlihat Tuan Robert Anderson dan nyonya Margaret Anderson tersenyum lebar menyambut kedatangan mereka di depan pintu. Membuat Ara sedikit lega, mungkin gambaran nenek sihir yang dikatakan Hansel mengenai mommy nya tidak lebih dari sekedar gurauan.


"My son, oh i miss you so much," nyonya Margaret langsung memeluk tubuh Hansel, membuat tangan Ara terlepas dari. lengan suaminya itu.

__ADS_1


"Okey...okey... jangan peluk-peluk terlalu lama mom, aku sudah menikah, bagaimana jika istriku nanti cemburu," tawa renyah Hansel pecah.


Sesaat mata nyonya Margaret melirik Ara yang masih mematung di belakang tubuh suaminya. Saat itulah Ara bisa melihat rasa tidak suka di mata nyonya Anderson. Ara menghela nafas pasrah, memang apa yang diharapkannya.


Ini tidak akan mudah.


"Mari masuk, makan malam sudah siap, anak mommy pasti lapar ,kasian sekali, anak mommy terlihat lebih kurus, padahal baru beberapa hari saja tidak bertemu." Secara halus nyonya Anderson mengisyaratkan bahwa Ara tidak bisa merawat Hansel sehingga membuat Hansel menderita.


"Mom," suara tegas Hansel menghentikan ocehan sang mommy, Hansel tahu ini tidak akan berjalan lancar.


Kaki mereka berderap ketika sepatu juga high heels yang mereka kenakan beradu dengan lantai marmer saat berjalan menuju ruang makan.


"Kak Hansel,i miss you."


Suara riang seorang gadis dengan perawakan dan kecantikan sempurna menggema di ruang makan tersebut begitu mereka membuka pintunya. Gadis yang terlihat tidak asing bagi Ara langsung menghambur memeluk suaminya, sementara Ara hanya bisa mendelik tidak percaya, berbagai spekulasi berterbangan di kepalanya,


Siapa wanita ini? Apakah adik Hansel? Bodoh, Hansel anak tunggal, lalu, mungkin sepupu? keponakan? teman? saudara jauh ? atau mungkin saudara yang tidak terlalu jauh? Mantan pacar? atau masih berstatus pacar? Wanita simpanan , bukan simpanan kalau ditunjukkan begini, siapa sebenarnya gadis ini? , pikir Ara geram.


Vanessa??? Mantan tunangan Hansel? yang adalah seorang model ternama? . Bukan dia yang jadi pelakornya disini, tapi aku, aku yang sudah mengambil tunangannya. Ara merutuki dirinya sendiri.


"Iya maaf, jadi dia Sahara? " Vanessa mengulurkan tangannya pada Ara , "Aku Vanessa , senang bertemu denganmu."


"Ara. Kau bisa memanggilku Ara saja, senang bertemu denganmu juga," jawab Ara menerima uluran tangan dari Vanessa.


Ara semakin membenci dirinya sendiri, saat melihat kebaikan Vanessa yang bahkan tidak mendendam padanya, selama makan malam mereka semua kecuali Ara terlihat sangat menikmati, apalagi nyonya Margaret terlihat sangat menyukai dan tidak henti-hentinya membanggakan kesuksesan dan kemapanan keluarga Vanessa.


Hansel tidak begitu menanggapi ocehan mommy nya, baginya sudah biasa jika nenek sihir itu sangat cerewet, ia hanya sesekali menimpali beberapa pertanyaan yang ditujukan padanya, entah itu dari Mommy, Daddy ataupun Vanessa, dia hanya ingin semua berakhir lancar, dan dengan acara ini bisa membuat Ara merasa lebih nyaman dengan keluarganya.

__ADS_1


"Kak Hansel nanti setelah makan mau main catur nggak? udah lama banget nih nggak main bareng kakak," suara manis Vanessa bisa bikin kuping diabetes.


"Setelah ini aku mau langsung pulang, besok masih harus kerja, butuh istirahat," jawab Hansel singkat , bahkan tanpa melirik sedikitpun ke arah Vanessa. Hansel masih fokus untuk memasukkan suapan terakhir makanannya, sebelum mengambil serbet dan membersihkan ujung bibirnya setelah menenggak air putih.


Sikap Hansel ini membuat Ara bersorak girang, Ara memang belum tahu perasaan apa yang sedang ia rasakan terhadap Hansel, tapi yang ia tahu ,ia tidak suka jika Vanessa ini bermanja-manja kepada suaminya.


"Hansel? Kamu kedepannya bakalan jarang main ke rumah mommy lagi, kenapa harus terburu-buru untuk pulang, Vanessa juga akan bekerjasama dengan Anderson grup, kenapa tidak sekalian kalian berbincang-bincang. Kurasa Ara juga tidak akan keberatan, bukan begitu Ara?" kini tatapan mata nyonya Margaret seperti menusuk Ara dengan tombak tepat di kepalanya.


"Iya tentu saja saya tidak keberatan," Ara sedikit menunduk menghormati ibu mertuanya yang terlihat masih sangat cantik dan bugar di usianya yang hampir berkepala lima.


"Aku yang keberatan, aku males main sama kamu yang tiap hari kalah terus. lalu ujung-ujungnya nangis dan mengadu, dasar cengeng," cibir Hansel pada Vanessa.


Ucapan Hansel ini secara tidak langsung juga dapat diartikan bahwa mereka sudah sangat sering bermain catur bersama, membuat hati Ara berdenyut nyeri.


"Kalau begitu temani Daddy mu ini saja untuk sekedar mengobrol di teras, rasanya sudah lama sekali sejak terakhir kali kita melakukannya. Biarkan istrimu berbincang dengan mommy dan Vanessa, para wanita ini akan cepat akrab."


Begitu makan malam selesai, tuan Anderson meminta Hansel untuk mengikutinya ke taman yang berada di samping ruang makan, dengan berat hati meninggalkan Ara bersama dengan mommy nya dan Vanessa yang sudah mulai berjalan ke ruang keluarga.


Ara menghela nafas panjang, dia mengetahui dengan pasti bahwa dia tidak cocok dengan keluarga Hansel.


Apa boleh buat, memang pernikahan mereka juga sangat mendadak, dan menghancurkan berbagai macam rencana yang telah tersusun rapi berubah menjadi kacau balau.


"Ara, Kau bisa kita bicara lebih serius berdua saja?" Nyonya Margaret berkata dengan lembut namun juga tegas. Inilah nyonya Anderson yang selalu dikenal Ara, wanita kelas atas yang terkesan lembut dan berkelas.


"Kalau begitu aku akan menyusul Kak Hansel dan Daddy," Vanessa kembali memutar tubuhnya berjalan ke arah lain, mengikuti jejak Hansel dan Daddy nya .


Sementara itu Ara dan nyonya Margaret duduk saling berhadapan di ruang keluarga, Ara tidak bisa berbuat banyak, ia sadar posisinya, memang jauh dari kata layak untuk keluarga ini.

__ADS_1


"Langsung saja Ara, aku ingin mengajukan beberapa pertanyaan dan kuharap kau bisa menjawabnya sesuai dengan apa yang kuinginkan."


TBC🥰🥰


__ADS_2