
Bukan inginku untuk mencintaimu, bukan anganku bersanding denganmu. Namun, takdir tuhan yang mengikat benang merah diantara kita, sehingga membuat hatiku menginginkan lebih untuk cintamu.
***
>Kediaman Morgan.
Sinar mentari pagi, menyusup melewati celah korden yang tertutup sebagian, menembus jendela kaca hingga cahayanya menerpa wajah tampan yang masih tertidur di sofa sejak semalam. Hansel menggeliat, berusaha menghindari sinar sang mentari yang mengusik tidurnya, matanya masih enggan untuk terbuka. Kepala Hansel terasa berdenyut nyeri akibat terlalu banyak minum semalam. Hingga membuatnya tidak pulang.
Klik... Kesadaran Hansel sontak kembali, menyadari jika semalam ia bahkan tidak mengabari sang istri. Dengan tergesa ia bangkit, menahan rasa nyeri di kepalanya. Morgan terlihat masih tergelepar di lantai, sepertinya kondisi sahabatnya itu tidak jauh berbeda dari dirinya. Tanpa pikir panjang dia menyambar kunci mobil dan lekas berlari keluar, mengabaikan pusing dan mual yang ia rasakan.
Ara pasti marah besar.
Setibanya di rumah, Hansel begitu kecewa mendapati bahwa sang istri sudah berangkat bekerja, yah, ini memang sudah hampir jam sembilan, wajar jika Ara sudah pergi. Dengan gontai ia menuju kamar guna membersihkan diri.
Bagus sekali Hansel Nathanael Anderson, kau kini menjadi suami pemabuk yang lupa pulang, dan membiarkan istrimu mencari nafkah sendiri. Selamat karena resmi menjadi lelaki brengsek.
Pikiran Hansel menguap bersamaan dengan guyuran air dingin ditubuhnya. Padahal ia berjanji untuk menjadi suami yang baik dan dewasa, agar Ara bisa bergantung dan percaya padanya, terlepas dari usia Hansel yang masih muda. Sebenarnya ia ingin seseorang yang bisa melindungi dan mengayomi sang istri. Namun, apa yang dilakukannya semalam diluar keinginannya.
Kau mencuri barang dari istrimu, meninggalkannya di tengah malam, dan mabuk sampai tidak pulang, lengkap sudah kesalahanmu. Hansel merutuki kebodohannya.
Selesai membersihkan diri, menghilangkan aroma alkohol di tubuhnya, kini Hansel mulai berusaha menghubungi nomor Ara, tapi seperti yang ia duga, Ara pasti marah dan tidak akan sudi menerima panggilan dari dirinya. Hansel hanya bisa menghela nafas pasrah, berharap Ara masih bisa memaafkannya, ia mengambil memory card milik Ara yang ia sembunyikan semalam, mengamatinya dengan penyesalan.
Suara dering ponsel, menyadarkan Hansel, segera ia mengangkat panggilan tersebut.
'Bocah nakal, kemana saja kau? Kenapa tidak ke kantor? Hari ini ada rapat penting, Bagaimana kau bisa tidak datang?'
Suara Tuan Robert Anderson membuat Hansel sedikit menjauhkan benda pipih itu dari telinganya yang berdengung, akibat kerasnya suara sang Daddy.
'Iya, Aku tahu, maaf. Aku sedang tidak enak badan!' kilah Hansel berbohong tentu saja, ia tidak mungkin mengatakan jika ia mabuk semalam, bisa-bisa daddy-nya semakin mengamuk.
'Sudahlah, yang penting besok saat peresmian hotel kita, kau harus datang! Kau mengerti?" perintah tuan Anderson tegas. Mengakhiri panggilan tersebut begitu saja.
__ADS_1
Dengan malas Hansel melemparkan ponselnya di ranjang, dan turut menghempaskan tubuhnya disana, ia lelah dengan semuanya. Ia hanya ingin hidup tenang dengan wanita pujaannya, tapi kenapa sepertinya seluruh dunia tidak berpihak padanya.
Aku kangen mbak Ara.
***
Ara yang sedari pagi berkutat dengan pekerjaan, membuat ia bisa sedikit melupakan masalah yang membayangi rumah tangganya. Entah itu masalah restu keluarga Hansel, ataupun tentang kelakuan Hansel semalam yang secara tidak sadar telah membuat Ara terluka.
Hingga jam makan siang tiba tanpa ia sadari, Gisel mengajak Ara untuk makan siang bersama, akan tetapi Ara dengan enggan menolaknya, ia benar-benar tidak memiliki selera makan.
"Kau yakin tidak makan siang? atau kau ingin aku membawakan sesuatu dari kantin?" tanya Gisel dengan pelan, menyadari suasana hati sahabatnya yang sedang buruk.
"Tidak, terimakasih. Makanlah! Aku kenyang," kilah Ara dengan senyum yang dipaksakan.
"Baiklah, aku duluan," pamit Gisel berlalu pergi.
Ara menyandarkan punggungnya, menatap langit-langit ruangan dengan nafas berat, sesekali ia memukul dadanya, dimana jantungnya berdetak, seperti ada gumpalan di dalam sana yang semakin mencekik dirinya. Rasanya sesak, hingga membuatnya sulit untuk sekedar bernafas, seperti ada seseorang yang mengupas bawang dihadapannya, ia ingin sekali berteriak dan menangis.
Batin Ara menyemangati dirinya sendiri. Akan tetapi semakin ia berusaha untuk tegar dan tidak memikirkan Hansel, justru semua bayangan terliar yang terjadi antara Hansel dan Vanessa semalam berkeliaran di kepalanya. Membuat bulir bening yang ia tahan tak dapat ia bendung lagi.
Ara menjatuhkan kepalanya di atas meja, menyembunyikan wajah dengan lengannya, ia tidak ingin terlihat lemah. Namun, sungguh ini sakit sekali bagi Ara. Ia percaya jika Hansel telah mengkhianatinya, dan terbukti dengan ucapan Vanessa, bahwa Hansel tidak pulang semalam.
Terdengar suara ketukan di mejanya, membuat Ara dengan cepat mengangkat pandangan, dan menyeka jejak basah di pipinya. Wajah tampan nan lembut Johan tercetak di hadapan Ara, membuatnya canggung, karena terpergok sedang menangis.
"Kau menangis? Ada apa? Apa ada masalah?" suara Johan dipenuhi kekhawatiran. Tangannya terulur hendak menyentuh Ara.
"Aku tidak apa-apa," jawab Ara cepat, menghindari sentuhan tangan Johan.
Johan menghela nafas, menarik kembali tangannya, "Lantas, kenapa kau menangis?" tanyanya lagi.
"Bukan apa-apa, Ada perlu apa anda mencari saya?" Ara mengalihkan topik dengan cepat. Mungkin Johan masih ada di hatinya, tapi ia tidak ingin ada yang mencampuri urusan rumah tangganya, termasuk Johan.
__ADS_1
"Aku melihatmu tidak pergi makan siang? kenapa?"
"Oo, itu karena saya tidak lapar," jawab Ara singkat.
"Apa kau sudah melihat isi dari memory card yang aku berikan padamu kemarin?" tanya Johan serius dan penuh harap.
"Tentang itu, sebenarnya, aku menghilangkannya secara tidak sengaja," jawab Ara ragu.
"Apa? jadi kau belum melihatnya?" Johan sedikit meninggikan suaranya, yang membuat Ara tersentak, "Maaf, aku tidak bermaksud membentakmu," ucap Johan kemudian.
Ara hanya mengangguk, "Maaf. Mas Johan, sebenarnya apa isinya? apa kau tidak bisa mengatakannya secara langsung padaku?" pinta Ara.
Johan tersenyum senang, mendengar Ara berbicara seperti Ara-nya yang dulu, panggilan mas yang tersemat didepan namanya adalah kebanggaan tersendiri bagi Johan, saat hal itu keluar dari bibir manis Ara.
"Aku tidak bisa mengatakan hal tersebut secara langsung, karena mungkin kau tidak akan percaya dengan apa yang aku ucapkan, tapi tenang saja, aku masih memiliki salinannya. Sepulang kerja nanti akan aku tunjukkan padamu."
"Baiklah, aku mengerti," ucap Ara.
"Makanlah sesuatu, jam istirahat sudah hampir selesai, jangan sampai nanti kau sakit," kata Johan lembut, mengelus puncak kepala Ara pelan, seperti yang selalu ia lakukan dulu ketika mereka masih menjadi sepasang kekasih, dan kali ini Ara tidak menghindar, membuat Johan semakin bahagia.
Waktupun berlalu dengan cepat. Senja kemerahan menandakan kini telah waktunya untuk pulang dan berkumpul dengan keluarga, banyak dari karyawan dengan wajah lelahnya, mulai berjalan meninggalkan meja kerjanya, meninggalkan segala masalah dan beban pekerjaan untuk hari ini, ada sebagian yang masih menetap untuk lembur dan ada beberapa orang yang membawa pekerjaannya hingga di bangunan yang mereka sebut dengan rumah. Hidup terus mengalir dan mengalir tidak peduli kau menginginkannya atau tidak.
Sementara Ara, bangkit dan mulai berjalan menuju ruangan sang Presdir, mengetuk pintu dengan sopan.
"Masuk," suara lembut Johan terdengar.
Tangan Ara membuka handle pintu dan mulai melangkah memasuki ruangan Johan, ia meyakinkan hatinya, bahwa apapun yang akan ia lihat tidak akan mempengaruhi penilaiannya terhadap Johan ataupun Hansel, ia akan menilai dengan kepala dingin dan objektif.
Setelah mempersilahkan Ara untuk duduk, Johan mengarahkan layar laptopnya pada Ara, bersiap memberitahukan segalanya tentang kepalsuan seorang Hansel Nathanael Anderson.
TBC 🥰🙏
__ADS_1