Menikahi Pengasuhku

Menikahi Pengasuhku
Bab 34


__ADS_3

Setelah melewati waktu yang panas, Hansel membawa tubuh Ara ke kamar mandi, dengan perlahan memasukkan tubuh dalam gendongannya itu ke dalam bathtub sebelum akhirnya ia melakukan hal yang sama pada dirinya sendiri.


Nuansa biru laut dan aroma lilin aromaterapi di sekitar mereka, serta air hangat yang menyentuh tubuh mereka sedikit mengendurkan dan menenangkan otot-otot tubuh yang lelah setelah pertempuran panas keduanya.


"Sekarang katakan apa yang kau inginkan?" ucap Hansel dengan lembut.


Ara hanya terdiam, masih takut untuk mengatakan keinginannya.


"Aku akan menghitung sampai tiga jika mbak Ara ku yang cantik ini tidak mau mengatakannya maka aku akan menganggap kesempatanmu sudah hangus, kau mengerti Mbak Ara ku sayang?" goda Hansel.


"Satu...Dua...Ti,..."


"Aku ada pekerjaan di luar kota, bisakah kau mengizinkanku pergi?" ucap Ara cepat dengan kedua mata tertutup karena takut.


"Baiklah," ucap Hansel santai.


Perlahan Ara membuka matanya, keheranan dengan jawaban Hansel yang begitu santai.


"Kau mengizinkanku pergi?" tanyanya ragu.


"Hmm, pergilah. Tapi, kau harus ingat jika sekarang kau adalah istri dari Hansel Nathanael Anderson," ucap Hansel penuh penekanan.


Ara menelan ludah susah payah, menyadari ancaman yang tersirat dalam setiap kata suaminya itu.


"Terimakasih, aku tidak akan melakukan sesuatu yang mengecewakanmu, aku janji," ucap Ara tulus.


Cup...


"I love you," satu kecupan lembut mendarat di kening Ara.


*


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Keesokan harinya.


Pagi-pagi buta Ara sudah siap untuk berangkat ke bandara. Ia akan mengambil penerbangan pagi, agar tidak terjebak macet maka ia berangkat lebih awal menuju bandara, sementara Johan dan Laras akan bertemu di bandara sesuai rencana.


"Hansel? Aku berangkat," ucap Ara memberikan satu kecupan di bibir suaminya yang masih tertidur.


Hansel menggeliat, netra pria itu perlahan terbuka, "Kau sungguh tidak mau aku antar?" tanya Hansel dengan wajah mengantuk, menahan tangan Ara yang sudah hampir beranjak.


"Tidak perlu, kau pasti lelah, aku akan pergi dengan sopir. Kembalilah tidur!"


"Baiklah, berhati-hatilah! Love you." Hansel memberikan satu ciuman, sebelum membiarkan istrinya itu pergi.


*


*

__ADS_1


*


Tiba di kota Xxx


Ara, Johan dan Laras sedang meninjau bangunan aula yang sudah hampir rampung itu, Johan sangat puas dengan hasilnya, dengan begini ia bisa dengan bangga menunjukkannya kepada Tuan Jay Orion, calon pemilik dari bangunan dihadapan tersebut.


"Semuanya berjalan sesuai rencana pak, tidak ada kendala yang berarti, saya yakin Minggu depan aula ini siap untuk disulap menjadi galeri seni oleh Tuan Jay," jelas salah seorang penanggung jawab yang ada di sana.


"Bagus, saya sangat puas dengan kinerja kalian, semoga saja klien kita kali ini juga puas dengan hasilnya," sahut Johan dengan tersenyum.


Selesai melakukan peninjauan dan mengecek beberapa hal yang di perlukan akhirnya janji untuk makan siang bersama dengan tuan Jay Orion tiba, Ara sengaja memilih restoran dengan nuansa klasik yang memiliki nilai seni yang cukup lumayan, ia ingin makan siang kali ini berjalan lancar tanpa ada insiden yang tidak diperlukan.


"Pak saya permisi ke toilet sebentar," ucap Ara meminta izin kepada Johan, mereka tengah menunggu kedatangan tuan Jay.


"Hmmm," jawab Johan dengan anggukan.


Dengan langkah cepat Ara menuju toilet yang telah di sediakan oleh pihak restoran.


"Kudengar hari ini ada tamu penting di restoran ini?" ucap seorang pelanggan yang juga berada di toilet.


"Siapa?" sahut temannya.


"Aku tidak begitu yakin tapi sepertinya dia pengusaha dari perusahan raksasa, aku mendengarnya dari bibiku yang bekerja di dapur, seluruh staf restoran tengah membicarakan pebisnis muda ini," jelas wanita itu dengan antusias.


Ara berpikir sejenak menebak-nebak siapa gerangan yang tengah mereka bicarakan, tapi pada akhirnya ia memilih untuk tidak ambil pusing dan memilih kembali ke mejanya.


Seperti biasa Jay Orion seorang pelukis internasional yang dijuluki sebagai pangeran negeri dongeng itu terlihat sempurna dengan pakaian mewah yang mungkin seharga sebuah rumah, serta perawakannya yang tegap dan atletis membuat setiap wanita bahkan beberapa pria secara tidak sadar akan memujinya secara terang-terangan.


Namun, semua itu berbanding terbalik dengan sikapnya yang dingin dan kurang ramah, ia dikenal sering bertindak impulsif, dan tidak terlalu peduli dengan orang-orang yang ada di sekitarnya.


"Ah kita bertemu lagi Nona Sahara," jawab Jay menyahuti salam dari Ara.


"Senang bertemu dengan anda lagi Tuan," sahut Ara dengan tersenyum, mengambil tempat duduk yang sebelumnya ia tempati.


Mereka memang memesan ruangan pribadi yang disediakan oleh restoran ini, agar mereka bisa lebih leluasa berbicara mengenai bisnis diantara mereka.


Hidangan yang mereka pesanpun tiba, terlihat hidangan yang terlihat menggiurkan untuk segera dicicipi tersaji dihadapan mereka, dan merekapun menyantapnya dengan lahap diselingi dengan beberapa obrolan ringan mengenai aula yang sudah hampir rampung.


"Saya senang Pak Johan mampu menyelesaikannya sesuai dengan tenggat waktu yang ditentukan, dan saya harap hasilnya juga akan sesuai dengan yang saya harapkan," ujar Jay.


"Tentu saja Tuan, semuanya sangat sempurna," Johan menimpali.


"Aku ingin melihatnya secara langsung setelah ini, bisakah saya meminjam Nona Ara untuk menemani saya kesana?" tanya Jay tiba-tiba.


Ucapan Jay membuat Ara tersedak minumannya, membuat pipinya bersemu merah karena malu, "Maaf," ucap Ara dengan tersenyum canggung.


Sikap Ara justru membuat Jay menarik sudut mulutnya menahan tawa.


"Bagaimana jika dengan saya saja tuan?" Johan berusaha mencegah hal yang diinginkan oleh Jay.

__ADS_1


"Tidak perlu terlalu merepotkan anda pak Johan, Nona Ara saja sepertinya sudah cukup," tolak Jay terang-terangan.


Johan mengumpat dalam hati. Namun, mau tidak mau ia harus menyetujui permintaan dari kliennya tersebut.


Jay bersama asistennya lebih dulu keluar dari ruangan, mengatakan jika ia akan menunggu Ara di lantai bawah.


"Kau tidak apa-apa pergi sendirian bersamanya Ara?" tanya Johan khawatir.


"Iya sepertinya tidak apa-apa," jawab Ara tidak yakin.


"Huh, apa yang diinginkan pria itu sebenarnya," dengan kesal Johan memukul tembok di sampingnya.


"Hei, aku akan baik-baik saja," Ara berusaha menenangkan Johan yang terlihat emosi, "Mas Johan tidak perlu khawatir."


Johan menghela nafas panjang, "Baiklah, kau harus berhati-hati, hubungi aku jika terjadi sesuatu, kau mengerti?"


"Iya, aku tahu."


"Aku akan memesan hotel dan menunggumu di sana, kita bisa naik penerbangan berikutnya bersama," ucap Johan.


"Tidak perlu Mas, Kau bisa kembali terlebih dahulu dengan Laras, biar Ara saja nanti yang naik penerbangan berikutnya," jelas Ara.


"Tapi,..."


"Nggak apa-apa mas," Ara tersenyum meyakinkan Johan, "Baiklah, Ara pergi dulu, takutnya Tuan Jay menunggu terlalu lama, Laras sisanya tolong kamu urus ya," pesan Ara sebelum berlalu meninggalkan Johan dan juga Laras.


*


*


*


Langit di kejauhan mulai tampak mendung, mungkin hujan akan segera terjatuh lagi sore ini.


Kini Ara dengan tenang duduk di sebelah Tuan Jay sementara Asistennya mengemudi dengan kecepatan sedang. Meskipun gugup Ara berusaha bersikap profesional.


Mobil berwana hitam keluaran terbaru itu melaju membelah jalanan. Ara tidak memiliki keinginan untuk sekedar berbincang dengan Jay yang terlihat memejamkan mata di sebelahnya.


"Tuan, anda salah arah, seharusnya anda berbelok tadi, ini bukan arah menuju lokasi Aula Tuan," protes Ara kepada asisten sekaligus sopir Jay yang sepertinya tidak mengindahkan ucapan Ara.


"Tuan Jay sebenarnya anda akan membawa saya kemana?" kini Ara berbalik menghadap Jay yang masih enggan membuka mata.


"Tuan, jangan macam-macam dengan saya, saya disini sebagai perwakilan dari perusahaan saya saja, tanpa ada niatan lain, jika anda sudah tidak ingin melihat hasil pembangunannya maka sebaiknya anda menghentikan mobil ini dan turunkan saya!" hardik Ara.


"CK, cerewet sekali. Diamlah ! Ada kejutan yang menantimu," Jay menyeringai.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


To be continued 🤗

__ADS_1


__ADS_2