Menikahi Pengasuhku

Menikahi Pengasuhku
Bab 21


__ADS_3

Sesuai dengan rencana Hansel, kini mereka tengah menikmati santap malam di sebuah restoran mewah. Ara yang tidak terbiasa dengan semua kemewahan itu hanya bisa duduk diam dengan sedikit gugup seraya menunggu pelayan membawakan pesanan mereka.


"Kenapa? Apa kau tidak menyukai tempat ini? Apa makanannya tidak sesuai dengan selera mu?" tanya Hansel yang menyadari kegugupan Ara. Padahal ia sudah meminta Roy, sang asisten untuk mencari tempat yang sedang populer saat ini di kalangan para wanita. Restoran dengan desain elegan dan berkelas berlantai tiga dengan berbagai dekorasi yang memberi kesan mewah dan glamor di setiap sudutnya. Namun, sepertinya Ara tidak begitu nyaman dengan tempat seperti ini.


"Tidak, aku hanya belum pernah datang ke tempat yang begitu mahal seperti ini," kata Ara jujur.


"Sungguh?" ucap Hansel sedikit terkejut, "Bukankah, papamu juga seorang pengusaha restoran yang cukup terkenal, dan lagi keluargamu cukup kaya untuk sekedar makan di tempat seperti ini," lanjutnya.


"Iya tapi kan berbeda kalau di restoran Ayah, aku juga tidak pernah makan barengan dengan pelanggan, palingan aku akan mengambil makanan di dapur dan memakannya di ruangan Ayah, Kalau makan di tengah pelanggan kelas atas seperti saat ini aku belum pernah,rasanya malu," ucap Ara dengan berbisik.


"Bagaimana dengan Johan? Apa dia tidak pernah mengajakmu berkencan di tepat seperti ini?" tanyanya lagi.


Jawaban apapun yang hendak keluar dari mulut Ara terhenti kala seorang pelayan membawakan pesanan mereka.


"Makanlah !" kata Hansel.


Belum sempat Ara memasukkan sesuap ke dalam mulutnya, mereka dikejutkan oleh kedatangan Vanessa dan Nyonya Margaret.


"Banarkan Mam, ini kak Hansel, Mommy sih nggak percaya, Vanessa bisa langsung mengenali perawakan kak Hansel meskipun dari jarak jauh," suara manis Vanessa mengejutkan Ara.


"Iya-iya, kamu memang yang terbaik." puji Nyonya Margaret.


"Untuk apa kalian datang kemari?" Hansel berujar dingin, ia tidak suka momen kedekatannya dengan sang istri terganggu, sekalipun itu oleh mommy nya.


"Ish, Kak Hansel jahat banget sih, tadi aku sama Mommy abis belanja, terus lihat kak Hansel disini jadi kita samperin, sekalian minta traktiran makan malam," rengek Vanessa manja.


Tanpa permisi mereka meminta pelayan untuk membawakan dua kursi tambahan dan beberapa hidangan untuk mereka, sementara Ara hanya bisa diam dan sesekali tersenyum untuk menutupi rasa minder di hatinya. Padahal Ara adalah wanita yang cantik, tapi ia selalu merasa jika di bandingkan dengan Vanessa, dirinya bukanlah apa-apa. Vanessa adalah gadis muda dari keluarga ternama dengan karir yang cemerlang dan kecantikan yang luar biasa. Lantas kenapa Hansel bersikukuh mempertahankannya sedangkan ada seorang Vanessa yang begitu sempurna yang telah dijodohkan dengan dirinya sedari kecil. Membuat rasa percaya diri Ara semakin menghilang terbawa angin lalu.


" Kak Ara dimakan dong, jangan dilihatin doang, kalau dingin nanti tidak enak," ucap Vanessa dengan senyuman.


"I-iya," jawab Ara memasukkan makanan kedalam mulutnya, tapi rasanya sulit sekali untuk sekedar menelannya.


"Ara, apa kau sering keluar berkencan seperti ini?" tanya nyonya Margaret tiba-tiba, membuat Ara tersedak.

__ADS_1


Segera Ara mengambil gelas minumannya dan membiarkan cairan berwarna oranye itu membasahi tenggorokannya, "Apa maksud anda Nyonya?" tanyanya kemudian.


"Tentu saja kalian, kau pikir siapa lagi, maksudku apakah Hansel sering mengajakmu keluar untuk berkencan seperti sekarang?" koreksi Nyonya Margaret, padahal jelas-jelas sebelumnya ia hanya menyebutkan Ara saja tanpa membawa nama Hansel, seolah mengatakan jika Ara sudah sangat sering berkencan dengan pria lain di luaran sana.


Hansel yang mengamati tingkah Ara , menghela nafas berat, ia tidak suka istrinya merasa disudutkan sepeti ini.


"Nikmati makanan kalian, aku dan istriku sudah selesai," ucap Hansel seraya bangkit dari kursinya dan mengambil tangan Ara untuk pergi dari sana.


Ara hanya bisa tersenyum canggung dan menundukkan kepala kepada ibu mertuanya sebelum membiarkan Hansel menarik tangannya keluar, "Senang bertemu dengan anda, selamat malam," ucap Ara yang berlalu pergi.


Keduanya lantas kembali menaiki mobil mereka, sepanjang perjalanan Ara hanya terdiam menatap jalanan yang padat. Saat netranya menangkap beberapa pedagang kaki lima yang menjajakan berbagai macam makanan, perut Ara berbunyi.


Aku lapar, makanan mahal tadi sia-sia, aku hanya makan sesuap saja.


"Perutmu sepertinya sedang demo," sindir Hansel.


Bibir Ara mengerucut kesal, memang salah siapa hingga membuatnya kelaparan seperti ini, "Ini semua salahmu, aku baru makan sesuap, kau sudah menyeretku keluar," gerutunya.


"Oke aku yang salah, sekarang mau makan di restoran mana? Tidak jauh dari sini ada restoran seafood yang enak, gimana?" tawar Hansel.


"Yakin?" ujar Hansel dengan alis terangkat.


"Yakin," jawab Ara mantab, tangan mungilnya menunjuk keramaian yang tidak begitu jauh, " Hansel, lihat ada pasar malam, kita kesana ya!" ajak Ara dengan mata berbinar.


Ini kedua kalinya Hansel mendatangi pasar malam bersama Ara, dulu pernah mereka menikmati pasar malam ketika Hansel masih kecil, di desa. Meskipun tidak seramai di kota tapi hal tersebut merupakan salah satu kenangan manis diantara dirinya dan Ara.


Dengan langkah cepat Ara menyeret tangan Hansel untuk ikut antri di salah satu Stan yang menjual nasi goreng, "Nasi gorengnya dua pak!" ucap Ara kepada paman penjual, yang di jawab dengan anggukan dan senyum sumringah.


"Dua? Untuk siapa? Aku nggak mau," protes Hansel.


"Siapa bilang untukmu, kalau kamu nggak mau aku sendiri sanggup kok makan dua porsi," jawab Ara sengit.


"Astaga, itu perut atau karet," decak Hansel.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian, dua piring nasi goreng dengan aroma yang lezat tersaji di hadapan mereka, tidak ada meja di sana, mereka hanya di sediakan kursi plastik oleh penjualnya, jadi mereka yang makan harus menyangga piring mereka dengan tangan. Kini kedua tangan Ara penuh dengan nasi goreng, lantas bagaimana caranya untuk makan. Ara menatap hansel penuh harap.


"Apa?" tanya Hansel yang melihat tatapan manja Ara, hatinya sudah porak-poranda di dalam sana melihat keimutan sang istri, tetapi dia masih mencoba mengendalikan dirinya untuk terlihat tetap keren.


"Bawain," pinta Ara, ekspresi wajah yang semakin imut itu hampir membuat Hansel meneriakkan cintanya di depan umum.


"Cih," umpat Hansel pada akhirnya menerima satu piring dari tangan Ara, senyumnya mengembang saat dirinya mengamati Ara makan dengan lahap. Hingga tidak terasa perutnyapun turut bereaksi.


"Sepertinya giliran cacing di perutmu yang sedang berdemo," sindir Ara.


"Apaan, nggak mungkin, aku sudah kenyang," kilah Hansel, tapi sayangnya perutnya yang tidak bisa diajak kompromi justru berbunyi semakin keras, sukses membuat wajah Hansel merah menahan malu.


"Yakin nggak mau," goda Ara, mendekatkan satu sendok penuh nasi goreng tepat di depan mulut Hansel, yang sukses membuat suaminya menelan ludah, "Kalau lapar jangan ditahan, bisa jadi penyakit loh. Ayo makan aja, aku yang traktir. Ini enak sekali lho, apalagi kalau dipakein kerupuk udang kayak gini, beuuhhh... nggak nahan," lanjut Ara seraya memasukkan kerupuk udang kedalam mulutnya, menimbulkan suara renyah yang semakin menggoda perut Hansel.


"Aku makan karena kamu paksa ya, ini bukan keinginanku," kilah Hansel, memasukkan suapan kecil kedalam mulutnya, kemudian satu lagi suapan yang lebih besar. Terlihat betapa ia menikmati setiap suapan nasi goreng kaki lima itu hingga piringnya tandas.


Ara tersenyum senang melihat wajah Hansel yang terlihat sangat menikmati santapannya, " Mau nambah?" tanyanya kemudian saat melihat piring Hansel telah kosong.


"Tidak, aku sungguh kenyang sekarang, rasanya lumayan, untuk standar makanan kaki lima," ucap Hansel sok keren.


"Aish, padahal kau hampir menelannya bersama dengan piringnya sekalian, masih berani bilang lumayan. Ck...ck...ck..." cibir Ara.


Setelah selesai dengan pembayaran mereka, Hansel mengajak Ara untuk segera pulang namun Ara menolaknya, "Sekarang ini waktunya untuk berkeliling mencari camilan," ucap Ara dengan senyuman penuh arti.


"Camilan? Kita baru saja selesai makan malam," ujar Hansel terkejut melihat istrinya yang ternyata sangat suka makan, "Wah, Kau ini wanita atau apa?" lanjut Hansel penuh takjub.


"Kau belum tahu semuanya," Ara menyeringai.


Langkah kaki mungilnya sangat bersemangat menapaki setiap pedagang di pasar malam tersebut, mencoba berbagai macam jajanan dan permainan. Hingga tidak terasa tangan Hansel sudah penuh dengan kantong plastik yang berisi berbagai makanan.


Setelah merasa puas dan lelah, akhirnya Ara menyerah dan mau diajak pulang.


TBC 🥰🥰🥰

__ADS_1


Hai readers, terimakasih atas dukungannya. Sehat dan sukses selalu untukmu 🥰 tekan like dan tulis komentar kalian dibawah ya! Love you all. 🥰🥰


__ADS_2