
Terkadang cinta begitu egois, ia tidak akan peduli jika yang diinginkannya akan menyakiti orang lain, akan tetapi, cinta adalah cinta, tidak peduli seberapa keras dan indahnya kata yang kau rangkai untuk mendefinisikan hal tersebut, semua akan salah di mata orang yang berbeda, karena cinta memiliki arti dan pengertian tersendiri bagi setiap orang.
***
Dengan gontai Ara masuk ke rumah, kepalanya menoleh dengan lesu kala mendengar suara sang suami yang tampak kesal, "Apa?" tanyanya lesu, mengamati wajah tampan Hansel yang mulai mendekat dengan tidak sabar.
Ara memundurkan kepala, ketika Hansel secara tiba-tiba menyodorkan ponsel miliknya tepat di hadapan Ara dengan wajah cemberut.
"Kau lihat?" Hansel bertanya dengan kesal, masih mengarahkan ponselnya ke wajah Ara.
"Hei, apa yang kau lakukan?" Ara berseru kesal, berusaha menampik layar ponsel yang hanya berjarak beberapa centimeter dari wajahnya, "Apaan-apaan sih!" protes Ara.
"Lihat ini ! Seharian kau sama sekali tidak mengirim pesan padaku, kau lihat?" kesal Hansel.
"Astaga Hansel, cuma begini saja kenapa sampai bikin rusuh sih," nafas panjang keluar dari bibir Ara, setelahnya ia merogoh tas kerjanya dan mengeluarkan ponsel, menuliskan beberapa kata disana, detik berikutnya terdengar bunyi dering dari ponsel Hansel yang menandakan adanya pesan masuk.
[Maaf, aku lupa] tulis Ara pada pesan yang baru saja diterima oleh sang suami.
Hansel yang membacanya semakin bersungut-sungut, "Bukan seperti ini Araaaaa...," gigi Hansel terkatup rapat menahan kesal, "Aku pengennya kau mengirim pesan padaku seperti yang kukatakan semalam, bukankah kau sendiri yang sudah berjanji akan mengirimiku pesan setiap satu jam sekali?" oceh Hansel mengungkit janji Ara yang diucapkan sang istri karena paksaan darinya.
Sontak wajah Ara memerah, ingatannya kembali melayang pada momen keintiman mereka yang berakhir dengan janji yang tidak bisa ia tepati di hari pertama.
"Lihat ! lihat ! Sekarang kau malah tersipu seperti itu, wah, wanita ini benar-benar...," Hansel berdecak kesal.
"Siapa yang tersipu?" elak Ara mengalihkan pandangannya.
__ADS_1
"Aku tidak mau tahu, malam ini kau akan mendapat hukuman," seringaian nakal mengembang di bibir Hansel.
Wajah Ara semakin memerah laksana matahari terbenam, mendengar suara Hansel yang berbisik di telinganya, membuat kulitnya meremang dengan gelitik menyenangkan di dalam sana.
Keduanya makan malam bersama dengan tenang, hanya terdengar denting sendok dan garpu yang menyentuh permukaan piring. Sesekali Ara mencuri pandang kepada Hansel, mengamati wajah suaminya yang terlihat begitu tampan dan menggoda. Namun, kemudian ia kembali teringat akan perkataan Johan, membuat Ara semakin penasaran dengan isi memory card yang diberikan oleh mantan tunangannya itu.
Apa hubungan Hansel dengan memory card itu?
Pikiran Ara tersentak ketika suara rendah Hansel kembali membawanya ke dunia nyata.
"Hentikan Ara, jika kau terus mencuri pandang padaku, aku tidak bisa berjanji untuk bersabar hingga kau menyelesaikan makan malam mu, bisa-bisa aku akan melakukannya disini," goda Hansel.
"Ngawur, jangan asal ngomong," protes Ara.
Hansel hanya tergelak menyaksikan ekspresi wajah Ara yang kembali memerah. Baginya Ara sangat menggemaskan, membuatnya semakin mencintai dan mengagumi sosok sang istri.
Sementara Ara hanya diam, karena sampai saat ini Ara masih belum mengerti perasaan apa yang ia miliki terhadap suaminya itu. Pada awalnya Ara sangat membenci dan menyalahkan Hansel akan semua hal buruk yang terjadi padanya belakangan ini, tapi disisi lain, ia merasa semakin nyaman bersama dengan Hansel, ia bisa kembali kepada dirinya yang ceria dan kekanakan, bahkan terkadang cenderung konyol. Ara merasa nyaman dengan hal itu. Sebelum ini, ia harus selalu bersikap dewasa dan anggun untuk mengimbangi Johan, yang terkadang membuatnya merasa kehilangan jari dirinya.
"Jangan melamun sayang, habiskan makananmu!" ucapan Hansel membuyarkan lamunan Ara.
"i-iya" jawab Ara tergagap.
Makan malam berakhir dengan tenang, kepala Ara seperti hampir meledak dengan berbagai macam spekulasi yang bermunculan mengenai isi dari memory card itu dan hubungan semua hal ini dengan Hansel. keping demi keping puzzle di kepala Ara semakin banyak dan semakin rumit, membuat Ara pusing sendiri.
Ara baru saja selesai mengganti pakaiannya dengan piyama, ia mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan, karena tidak juga mendapati keberadaan sang suami. Akhirnya Ara membawa kaki mungilnya untuk keluar dari kamar dan mencoba mencari Hansel di ruangan yang berada tepat disebelah, akan tetapi nihil, ruang kerja itu nampak gelap.
__ADS_1
Kembali Ara membawa kakinya menuruni tangga. Bu Sari terlihat segera menundukkan kepala dengan sopan begitu melihat dirinya, "Ada yang anda butuhkan Nyonya Ara?" tanya wanita yang sudah berumur tersebut.
"Apa Bu Sari melihat Hansel?"
"Tuan Hansel? Bukankah Tuan ada dilantai atas? Setelah makan malam, Tuan belum turun lagi Nyonya, mungkin Tuan ada di ruang kerja."
"Nggak ada Bu, tadi sudah aku cek," jawab Ara, "Sudahlah, nggak penting juga, terimakasih Bu Sari, saya akan kembali ke kamar dulu," ucap Ara, berlalu pergi dari hadapan Bu Sari.
Sesampainya di kamar Ara dikejutkan dengan Hansel yang baru saja selesai dari kamar mandi, tubuh atletis itu terpampang indah memanjakan pandangan Ara, apalagi saat ini hanya ada handuk yang melilit bagian bawah tubuh Hansel sebagai penghalang, membuat Ara menelan ludah dengan kasar.
'Tidak seharusnya ada manusia yang di ciptakan dengan begitu tampan, jantungku bertahanlah, jangan sampai kau berdetak terlalu cepat hingga tidak sanggup lagi untuk berdetak. Sabar, sabar, sabar Ara, itu hanyalah tubuh setengah telanjang yang terlihat menggiurkan, jangan tergoda!' Titah Ara pada otak mesumnya.
Hansel yang senang mendapati pandangan intens dari sang istri, justru bergaya semakin menggoda, ia mengelus dadanya yang berotot, dengan senyum nakalnya ia mulai berjalan perlahan mendekati Ara, "Kau mau ini?" Hansel membawa tangan Ara untuk menyentuh dada polos yang masih terlihat sedikit basah miliknya, "Sentuh saja! Ini semua milikmu," goda Hansel lagi.
Ara merasakan sengatan listrik, kala tangannya yang hangat dengan lembut menyentuh kulit Hansel yang terasa dingin di telapak tangannya, tanpa bisa di cegah kini tangan Ara mulai membuat lingkaran-lingkaran kecil dengan jari di tengah dada bidang sang suami. Sepertinya Ara sudah menyulut sesuatu yang akan berakhir dengan panas dan nikmat.
"Mau berapa kali?" suara berat Hansel dan mata sebiru lautan miliknya membutakan dunia Ara.
***
Di tempat lain, sebuah klub malam yang terlihat cukup ramai mengingat ini bukan akhir pekan. Sosok wanita bermasker lengkap dengan kaca mata hitam tampak sedang berbicara kepada seorang pria yang tampak gugup dihadapannya.
Wanita itu lantas memberikan sebuah amplop berwarna coklat yang cukup tebal di hadapan si pria yang diterima dengan tangan gemetar.
"Terimakasih," ucap si pria dengan senang.
__ADS_1
"Itu baru setengahnya, sisanya akan kuberikan setelah tugasmu selesai. Pastikan wanita tidak tahu diri itu menderita," kata wanita itu dengan penuh kebencian.
TBC 🥰🙏🙏