Menikahi Pengasuhku

Menikahi Pengasuhku
Bab 30


__ADS_3

...


Hansel menyesap setiap inci bibir ranum Ara, dengan rakus me-lu-matnya hingga keduanya terancam kehabisan oksigen.


Tangannya dengan cepat mulai melucuti satu persatu pakaian wanitanya hingga polos tak tertutup apapun.


Sementara Ara semakin kehilangan kendali akan dirinya sendiri, tangan yang pada awalnya ia gunakan untuk memukul sang suami kini justru bergelayut manja di leher lelakinya. Lenguhan kecil mulai keluar dari mulut Ara, ketika kini lidah Hansel meninggalkan jejak basah di sepanjang leher jenjangnya, menyesap titik-titik sensitif di tubuh Ara, hingga membuat wanita itu menggila dan merasa seperti diterbangkan ke atas awan.


Lelaki tampan itu, membuktikan pesonanya kepada sang istri, dengan lihai memainkan dua aset berharga milik Ara, menghisap dan meremasnya dengan penuh nafsu, membakar gairah wanitanya yang mulai mengeluarkan suara de-sa-han semerdu nyanyian peri embun di pagi hari.


Membawa bibirnya turun semakin ke bawah menuju bagian inti dari Ara, satu ji-la-tan basah membuat tubuh Ara menggelinjang. Tidak cukup sampai di situ kini Hansel mulai menyesap dan memainkan lidahnya di bawah sana.


Dunia Ara terasa terbakar oleh gairah saat suaminya terus bermain di area sensitif miliknya, ia mencengkeram rambut Hansel, berusaha untuk menjauhkan bibir lelakinya dari sana, tetapi pinggulnya justru terangkat menginginkan lebih.


Hansel yang menyadari istrinya sudah hampir mencapai batas, menghentikan aksinya dan diikuti oleh protes dari bibir Ara.


"Teruskan!" pinta Ara dengan nafas tak beraturan.


Hansel mulai menyeringai, "Kau menginginkannya?" bisiknya di telinga sang istri.


Sementara Ara hanya bisa mengangguk menahan gairahnya yang semakin memuncak.


"Katakan! Katakan kau menginginkan ku!" Hansel semakin menggoda Ara, menyusupkan satu jarinya di bawah sana.


"Ah,..., Lakukan Hansel, aku tidak tahan lagi," Ara memohon.


"Katakan!"


"Aku menginginkanmu sekarang dan jangan berani untuk berkata tidak padaku! " serunya kesal, karena Hansel mempermainkannya.


"As you wish." ucap Hansel seraya melepaskan pakaiannya, menunjukkan miliknya yang siap untuk bertempur.


Kini Hansel kembali menautkan bibir mereka, seraya memposisikan dirinya, dan dengan satu hentakan kini dirinya sudah berada di dalam Ara, ia mengerang merasakan sensasi nikmat yang tak tertahankan. Mulai menggerakkan pinggulnya perlahan. Semakin lama gerakan itu semakin cepat dan kuat. Lama hanya terdengar suara khas percintaan di dalam ruangan tersebut, dua insan yang saling bergumul mengejar surga dunia. Hingga keduanya mencapai pelepasan yang menggetarkan tubuh mereka.


"I love you," bisik Hansel seraya mengecup kening sang istri yang terlihat basah oleh keringat, kemudian menarik tubuh Ara dalam dekapan, membiarkan aroma segar dari tubuh wanitanya menenangkan hatinya hingga terlelap.


***

__ADS_1


Ara mengerjapkan mata beberapa kali, mengumpulkan kesadarannya yang belum sepenuhnya kembali. ia menatap lengan kekar sang suami yang melingkar di pinggangnya, sementara dada bidang itu tepat berada di depan wajahnya yang bersemu merah, mengingat kembali pergumulan panas mereka semalam.


Ia mendongakkan pandangan, mendapati wajah tampan Hansel yang masih terlelap. Entah keberanian dari mana, kini jari Ara mulai dengan lancang menyentuh bulu mata lentik lelakinya, menyusuri bibir Hansel yang terlihat menggoda setiap wanita untuk mengeksplorasi di setiap sudutnya.


"Kenapa kau begitu tampan?" tanpa sadar ia mengatakan hal yang seharusnya hanya ia ucapkan dalam hati.


"Bagaimana aku bisa pergi darimu jika kau selalu membuat jantungku berdetak tak karuan. Apa benar kau mencintaiku?" lanjutnya.


Bulu mata lentik itu perlahan terbuka, menampakkan bola mata sewarna langit di musim panas.


Dengan tergesa Ara menarik jarinya yang masih menempel di bibir sang suami, tapi dengan cepat Hansel menahan tangan itu, pandangan mata keduanya bertemu, lama keduanya hanya saling menatap, menyelami setiap rasa yang tersaji dari dalamnya pandangan masing-masing dari mereka.


"Jangan pernah mempertanyakan cintaku Ara ! Aku mencintaimu melebihi diriku sendiri, jadi jangan pernah mencoba lari dariku, karena kemanapun kau pergi aku pasti bisa menemukanmu. Kau tidak perlu mencintaiku, karena cintaku saja sudah cukup untuk memenuhi sepanjang hidupmu dengan cinta. I love you," ucap Hansel lirih, namun tegas.


Ara tidak tahu harus menjawab apa, ia masih bingung dengan perasaannya, belum lagi masalah Vanessa dan restu dari keluarga Hansel. Namun, saat ia menatap mata biru suaminya, ia merasa seakan seluruh keraguan dan masalahnya terbawa hanyut oleh warna sebiru lautan tersebut. Hingga tanpa bisa ia cegah, Ara menganggukkan kepala, tanda setuju dan menerima cinta Hansel.


"Terimakasih," senyuman Hansel mengembang, mendaratkan kecupan hangat di kening dan bibir Ara.


*


*


"Nanti malam bersiaplah, aku akan mengajakmu menghadiri acara peresmian hotel terbaru Anderson Grup," tutur Hansel sebelum menyesap kopinya.


Deg.


Ara teringat dengan ucapan ibu mertuanya. Nyonya Margaret dengan jelas mengatakan untuk membiarkan Hansel pergi bersama Vanessa sebagai pasangan.


"Mengenai hal itu, sepertinya aku tidak bisa," ucap Ara dengan ragu, ia bingung harus bagaimana mengatakannya.


"Kenapa?"


"Em, Bukankah hubungan kita adalah rahasia," jawab Ara.


Hansel menghela nafas, tidak menyukai jawaban Ara, "Sebenarnya aku ingin mengumumkan hubungan kita malam ini, aku sudah tidak mau melakukan pernikahan sembunyi-sembunyi seperti ini," jelas Hansel dengan tersenyum, berharap Ara akan setuju dengan pendapatnya.


"Tapi, bagaimana dengan Nyonya Margaret? Beliau masih belum setuju dengan hubungan kita," ucap Ara lesu.

__ADS_1


"Itu urusannya, yang terpenting adalah kita yang menjalaninya, bukan dia."


"Jangan seperti itu Hansel, biar bagaimanapun, dia itu ibumu, restu darinya sangat penting," Ara mendekati Hansel, dan menggenggam tangannya, berusaha memberikan penjelasan agar Hansel mengerti.


"Sebenarnya, kemarin nyonya Margaret mengatakan beberapa hal kepadaku," akhirnya Ara mengakuinya.


"Apa? Kapan?Kenapa aku tidak mengetahuinya?" Hansel tampak terkejut dengan hal tersebut.


"Kemarin saat kau tidak pulang semalaman," jawab Ara ketus.


"Mengenai hal itu aku minta maaf, aku bisa menjelaskannya," Hansel menahan genggaman tangan Ara yang hendak terlepas.


"Yah, kau memang harus menjelaskannya tapi tidak sekarang. Kembali ke topik utama, Nyonya Margaret bilang jika aku harus menolak jika kau mengajakku pergi ke acara tersebut," kata Ara berterus terang.


"Nenek sihir itu, benar-benar," geram Hansel kesal.


"Dengarkan dulu Hansel ! Dia bilang, hubungan antara kita tidak boleh sampai bocor ke publik, untuk menghindari upaya paman ke dua mu yang ingin mengambil posisi Presdir di Perusahaan Anderson Grup." jelas Ara, mengambil nafasnya sejenak untuk memberikan penjelasan kepada sang suami yang begitu keras kepala, "Mengingat usiamu yang terbilang masih sangat muda, kemungkinan untuk menggulingkan posisimu sebagai pewaris posisi Presdir sangat besar, tanpa dukungan yang kuat, kau tidak akan bisa bertahan," lanjut Ara.


"Aku tidak peduli dengan kedudukan Presdir," jawab Hansel acuh.


"Tapi Daddy mu peduli Hansel, jika Tuan Robert tidak bisa memberikan posisi Presdir yang telah dipertahankannya selama ini untukmu, beliau pasti sangat sedih dan kecewa, dan mungkin penyakit lamanya bisa kambuh lagi," ujar Ara sedih.


"Lalu kau ingin aku bagaimana? Apa kau mau menyembunyikan hubungan dan status kita selamanya?" teriak Hansel frustasi.


"Tidak, tentu saja tidak. Ini hanya sementara Hansel, sampai kau berhasil menduduki posisi yang memang seharusnya menjadi milikmu, setelahnya kita bisa mengumumkan hubungan kita ke seluruh dunia," bujuk Ara.


"Jadi aku harus bagaimana?" Hansel menghela nafas pasrah, berusaha untuk berkompromi dengan keadaan.


"Sebaiknya kita ikuti keinginan dari nyonya Margaret. Pergilah bersama Vanessa malam ini!" ucap Ara dengan setengah hati, karena sejujurnya dia juga tidak rela jika lelakinya harus pergi bersama wanita lain, terutama Vanessa yang notabene seorang wanita yang teramat cantik dan dengan usia yang jauh lebih muda darinya.


"Apa kau gila, tidak aku tidak mau. Aku akan meminta Roy untuk mencarikan ku pasangan, tapi yang jelas bukan hama menyebalkan itu," protes Hansel.


"Astaga Hansel, turuti saja, agar semuanya berjalan lancar," pinta Ara, "Toh aku juga akan datang nanti malam," ucap Ara kemudian.


"Kau akan datang? Benarkah?" binar kebahagiaan tampak di kedua mata Hansel.


"Iya, jadi kita ikuti saja rencana Mommy- mu itu," pungkasnya.

__ADS_1


Sebenarnya Ara juga ingin mengetahui sampai sejauh mana nyonya Margaret akan bertindak. Ia juga ingin mengetahui tentang sifat Vanessa yang sesungguhnya, dan yang terpenting ia ingin menguji seberapa kuat cinta Hansel untuk dirinya.


TBC 🥰🙏❤️🙏


__ADS_2